Cerpen

Kisah Seorang Anak

Bagikan:

Cerpen Ahmad Hamid

Tok…tok..tok…”Bangun…Bangun….Faait” suara pintu dan suara ibu membangunkan anaknya. Faait segera bangun dan megambil peci serta sarung yang sudah disiapkan malam hari. Segera pergi ke masjid yang kala itu baru dikumdangkan suara adzan merdu yang faait anggap sebagai Bilal bin Rabah.

Tempo hari baru diceritakan kisah Bilal oleh guru ngajinya tentang seorang budak yang sangat kokoh terhadap pendirian dan keimananya meskipun disiksa dengan siksaan yang berat namun tidak pernah melunturkan iman yang ada di dada. Kisah inilah yang menjadi motivasi Faait ketika pagi hari untuk bangun sholat subuh. Bagi Faait beratnya bangun pagi tidak seberapa dibanding beratnya penderitaan Bilal bin Rabah.

Gesekan merdu sepasang sandal dengan bumi sret…sret..sret..sret…faait menuju kolah tempat wudhu.
Dengan dinginnya udara pegunungan serta angkasa yang masih berhias bintang-bintang Faait menegadahkan tangan ke atas seraya menghafalkan doa sesudah wudhu, doa yang baru dia hafal beberapa hari dari ustad ngajinya, Ustad Asnawi.

Setelah selesai dari kolah kemudian “ALLAHUMAGFIRLI DZUNUBI WAFTAHLI ABWABA ROHMATIK” keluar dari mulut Faait seraya melangkahkan kaki kanannya ke dalam masjid, terlihat masih lenggang pagi ini belum banyak yang datang, maklum mayoritas di desa Faait petani mereka capek setelah seharian bekerja di sawah.

Niat hati ingin mendapatkan “dunia dan seisinya” dengan mengangkat tangan untuk melaksanakan sholat sunah dua rakaat tetapi imam sudah masuk masjid dan iqomah segera berkumandang.

Faait langsung mengambil barisan paling depan, memang agak tabu kalau anak-anak mengambil barisan paling depan, tetapi Faait berpegang teguh pada ucapan seorang kyai tempo hari yang mengatakan barisan paling depan dalam sholat pahalanya paling banyak.

Setelah salam Faait tidak langsung pulang dia mengambil tasbih di sebelah kanannya seraya berdzikir mengikuti imam, setelah berdoa Faait juga belum beranjak dari tempat duduknya ia masih mengadu pada Tuhan, tentang cita-cinta untuk menjadi seorang tentara.
Mengadu tentang kesehatan ibu yang sudah merawat, mendidik dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Mengadukan tentang rindunya dengan Ayah yang sedang di perantauan. Rindu tiada tara dengan ayah yang rela bersimbah peluh berkuah keringat untuk biaya hidup keluarga dan pendidikan Faait sendiri.

Memang lapangan dekat rumah Faait sering digunakan untuk latihan tembak dari Dandim kota Faait tinggal.dari situlah mungkin Faait tergugah untuk bisa bergabung menjadi seorang Abdi negara.
Tidak terasa sudah setengah jam Faait beriktikaf di dalam masjid, dari celah gorden cahaya putih sudah masuk dan hawa dingin sudah berganti dengan kehangatan berarti sebentar lagi sang surya akan segera datang. begegas faait melipat sajadahnya kemudian berjalan dengan agak cepat menuju rumah.

Sampai rumah sudah terlihat asap tipis keluar dari dapur, ini menandakan bahwa ibu tercinta sudah siap untuk menghidangkan makanan kesukaanya. “Faait mandi dulu, sambil nunggu ibu masak” suara ibu keluar bersamaan dengan aroma asap wangi bau masakan tempe yang sama enak dan lembut untuk di dengar dan dinikmati.

“Iya Bu” jawab Faait dengan membawa handuk untuk siap menuju ke kamar mandi.

Sarapan siap, pakaian sudah siap degan setrikaan khas ibunya yang lagi-lagi begitu halus.

kemudian terdengar suara jarum jam yang menunjukkan pukul 06.30. Waktunya untuk berangkat sekolah. Faait pamitan dengan ibu dan tidak lupa mencium tangannya.

Perjuangan di sekolah Faait tidaklah mudah, karena lingkugan tempat sekolah Faait agak jauh dari nilai-nilai agama, ini adalah tantangan Faait sekaligus ujian keimanannya. Faait sekolah hampir enam tahun tetapi miris sekalipun Faait belum melihat teman-temanya mendirikan sholat. Memang untuk nilai agama Faaitlah yang paling tinggi dibanding dengan teman lain. tapi nilai inilah yang menjadi bomerang bagi Faait. Teman-teman Faait banyak yang membecinya karena dia rajin ibadah dan belajar.

Sesekali Faait pernah mengajak teman-temanya untuk rajin sholat, sebagian dari mereka menjawab orang tua mereka tidak pernah menyuruh karena bapak ibunya juga tidak pernah melaksanakan. Ada juga yang menjawab ngapain repot- repot sholat, kamu sholat belum tentu bahagia paling mentok nilai agamaya yang seratus. Sholat juga tidak bisa membuat kamu jadi kaya, paling setiap hari makan tempe enak-enakny tahu.

Sebagai seorang anak cukup berani Faait terhadap teman-temannya apapun yang dia katakan dan dia ucapkan menurut orang dewasa ini adalah dakwah amar ma’ruf nahi mungkar. sampai di rumah Faait cerita dari A sampai Z apa yang dia alami di sekolah Sebagai seorang ibu, dia tahu bahwa lingkungan sekolahnya tidak terlalu baik untuk pergaulanya tetapi sekolah satu-satunya dengan jarak yang dekat hanya itu.sempat ibunya berfikir untuk memindahkan Faait ke sekolah yang lebih baik namun lagi-lagi masalah biaya yang tidak memungkinkan.

Juga tidak mendapat persetujuan dari ayah Faait yang bekerja di luar jawa. Menurut Ayahnya, Faait pertahankan dulu di SD tersebut tidak apa-apa setelah lulus baru kita masukkan ke LP Ma’arif lembaga pendidikan yang sudah banyak menciptakan tokoh-tokoh hebat di negeri ini.

Hari itu hujan rintik-rintik dibarengi dengan goyangan daun-daun pisang di kanan dan kiri jalan karena tiupan angin. Faait dan ibunya mengunakan satu payung menyusuri setapak demi setapak jalanan sempit menuju sekolahan. Hari ini menjadi sejarah yang tidak akan terlupakan karena akan selamaya tertulis dan tidak akan bisa terhapuskan di dalam ijazah.
Hari ini, hari kelulusan Faait di sekolahannya. meskipun kelulusannya tidak dirayakan seperti anak-anak kota, tetapi Faait dan teman-temanya cukup bangga dengan kelulusan ini. Mereka saling menyapa dan bertanya -tanya tentang rencana ke depanya. Apakah melanjutkan sekolah atau malah bekerja.
dari 25 anak tidak ada separuhnya yang melanjutkan sekolah kebayankan bekerja membantu orang tua di rumah.
tanpa komentar Faait dan ibunya langsung bergegas pulang dan keesokan harinya Faait menyiapkan berkas- berkas untuk mendaftar di sekolah yang ditunjuk oleh ayahnya.
dengan bangga Faait diterima di sekolah Tsanawiyah yang orang tua dulu idam-idamkan. Karena jarak yang jauh Faait mondok di dekat sekolahanya.

Di pondok tidak diragukan lagi bagusnya pendidikan agamanya di sekolah begitu juga, disini beda jauh diibaratkan seperti langit dan bumi dalam hal sopan santun dan ibadah. Kalau dulu perlombaannya adalah sukses mengerjai, membully guru dan teman sekelas kalau di sini yang dilombakan adalah berlomaba-lomba dalam kebaikan.
karena rajin dan teladanya Faait dipercaya oleh guru dan teman-temannya sebagai ketua Osis, dalam menahkodai organisasi ini, prestasi Faait dan teman-teman cukup moncer, terbukti dengan beberapa prestasi yang diperoleh bahkan mengalahkan sekolah favorit lainya.

Hari libur tiba, dua tahun Faait tidak pulang karena tidak diperbolehkan pulang oleh orang tuanya. Ada kekhawatiran jika sering pulang Faait jadi tidak betah di pondok. Sekarang Faait pulang, dengan senyum yang lebar Faait bisa melihat kembali jalan yang dulu penuh dengan beribu kenangan.
sampai di rumah Faait langsung merebahka badanya dengan pandangan yang sayu-sayu dan setengah bermimpi dia bertemu dengan teman lamanya. Setelah terbangun dia langsung teringat dengan teman-temannya. Ali, Abi, Ridho dan lain-lain, dimanakah kini mereka sekarang. Faait langsung menanyakan kabar mereka keibunya.
ibunya menjawab,tidak jelas mereka sekarang.beberapa bulan yang lalu orang tua Ridho bercerita bahwa Ridho sudah kerja di Jakarta dan sudah bisa kirim uang ke orang tuanya di kampung.
kalau yang lain tidak paham kata ibu.

Mendengar kata-kata ibu, Faait sedikit lega, namun ada sedikit rasa malu kepada ibu. Karena Faait belum bisa memberi kiriman uang ke ibu malah dia selalu meminta kiriman ibu setiap bulanya.

Dengan nada sedikit gemetar Faait minta maaf ke pada ibu ” Ibu maafkan faait kalau selama ini hanya merepotkan ibu, Faait belum bisa seperti Ridho dan lainya yang setiap bulan kirim uang, kalau Faait malah kebalikannya” “tidak apa-apa” jawab ibu. Ibu Faait menjelaskan bahwa dia lebih senang kalau faait terus melanjutkan sekolah daripada seusia kamu harus mengais rejeki ke kota orang.

Dalam hati Faait “Saya berjanji suatu hari nanti saya akan membahagiakan ibu degan selalu mengirimi uang, mencukupi segala kebutuhanya. Saya akan seperti Ridho bahkan lebih”.
Setelah liburan selesai, faaitpun berangkat ke sekolah dan pondok lagi. agak berat kepergian kali ini karena ibu Faait sedang sakit. Tetapi karena desakan ibu, Faait memutuskan untuk tetap berangkat.

Ada alasan tersendiri kenapa Faait langsung disuruh berangkat, karena kalau terlalu lama di rumah takut akan ada tekanan dan cibiran dari tetangga-tetangga. Ibunya ternyata selama ini bohong ke faait, setiap kali ditanya kabar, ibunya selalu menjawab baik-baik saja. Padahal tidak! selama ini Ibu Faait selalu mendapat cibiran dari tetangga-tetangganya karena anak-anak mereka sudah berpenghasilan sementara Faait hanya minta kiriman. Tidak hanya satu orang tapi hampir semua warga berkata seperti itu ” Buat apa susah-susah sekolah sementara yang sekolah tinggi saja jadi pengangguran” Ibu Faait berjanji akan cerita kepada Faait tetapi tidak sekarang, karena kalau sekarang Faait belum siap.
Pagi itu di pondok Faait menyendiri dibawah pohon mangga yang lebat. Sambil melamun dan ditemani dengan kicauan burung-burung yang bertautan seperti bernyanyi menghibur dirinya.

Faait mencoba mencerna apa yang dikatakan lek Suyoto tempo hari ketika bersama pas berangkat. “Faait buat apa sekolah, mending kerja seperti yang lain, sekolah tinggi hanya membuang uang saja” kata lek suyoto yang tidak lain adalah Bapak dari Ridho. Sepanjang perjalanan Lek Suyoto hanya bercerita tentang kesuksesan anaknya Ridho yang sudah bisa membeli banyak barang, baik di rumah ataupun yang ada di jakarta. Mendengar cerita tersebut Faait hanya tersenyum dan bangga terhadap temannya.walau di dalam hati kecilnya sedikit ada rasa kecewa karena tidak bisa menjadi seperti yang lainya.

Di tengah -tengah lamunanya Faait kejatuhan ranting pohon mangga karena kaget Faait sadar dari lamunannya. Segera faait membuka selembar kertas yang dia bawa kemudian mengerakkan jemarinya dan memulai mengeluarkan isi hatinya. Hati yang seperti bom waktu yang siap meledak setiap waktu karena penuh terisi oleh masalah tentang dirinya, keluarga dan masyarakat sekitar.

Desaku
Luas lahan pertanianya
Tanaman subur
Sayur mayur siap dipetik
Pagi petang sore malam
Warga berbondong bodong
Merawat dan menjaga tanaman

Siang dari hama kalau malam
Dari maling maling kepala hitam

Hidup rukun
Ekonomi mapan
Rumah2 kokoh
Kendaraan mewah
Semua serba kecukupan

tapi pendidikan
Sebagian masih menyepelekan
Mereka anggap pendidikan
Hanya buang2 uang

Mereke mengambarkan
Ijazah hanya untuk mendaftar jadi pengangguran
sekolah tinggi hanya anti dengan pekerjaan kasar.

Padahal tidak..
Sekolah, mencari ilmu adalah
Kewajiban
Bukan semata-mata untuk kekayaan
Dan mencetak lembaran uang

Ini paradigma
Yang membuat saya seperti terbuang
Dari desa yang ku banggakan!

kemudian Faait menutup kertas dan menyimpannya diantara tumpukan baju-bajunya berharap suatu hari nanti dia bisa membacanya lagi.
Sempat terfikir di benak Faait untuk berhenti sekolah, dan dia ingin menyusul ayahnya untuk bekerja menjadi buruh sawit di Kalimantan. Namun, lagi-lagi teringat wajah ibunya yang begitu bersabar dalam mendidik dan menyuruh Faait untuk selalu sekolah mencari ilmu. Rasanya tidak tega dan nyalinya menciut jika tiba-tiba tidak ada angin dan hujan langsung minta berhenti sekolah. Selian itu Faait harus mengubur cita-cinta untuk menjadi seorang tentara.

Lagi- lagi Faait telah termakan racun dari omongan lek Suyoto, tentang keberhasilan anaknya dan “kegagalan” dirinya yang hanya bisa menyusahkan orang tua.

Hari ini adalah hari kamis dan malam ini adalah malam Jum’at setelah semua kegiatan rutin tadarus, Yasinan dan lain-lain Selesai. Santri diperbolehkan untuk menonton TV, pertama yang Faait dan teman-temanya tonton adalah film kartun lucu-lucu yang bisa menghibur dan melebur semua masalah. Tetapi ketika iklah tidak sengaja temanya menganti chanel TV dan muncul sebuah berita kriminal yang menanyangkan komplotan remaja yang merampok sebuah toko mas. disitu disiarkan bahwa polisi tidak kesulitan mengkap pelaku karena toko tersebut dilengkapi dengan kamera pengintai atau CCTV.
Sekilas Faait mengenali wajah para pelaku namun masih belum percaya tetapi setelah disiarkan berulang-ulang bahwa pelaku utamanya berinisial “R” yang tidak lain adalah Ridho dan kawan-kawanya.

Malam semakin larut teman-teman satu pondok sudah tidur, Faait hanya ditemani oleh suara cicak, jangkrik dan beberapa suara burung-burung malam, dia masih belum percaya tentang apa yang tadi diberitakan. Teman-temanku kenapa kalian membanggakan keluarga dengan menjadi perampok. Memang memberi uang dan membahagiakan orang tua adalah hal baik tetapi kalau caranya seperti itu sama saja seperti “Mencuci baju dengan air kencingnya sendiri”Faait berharap orang-orang rumah tidak ada yang tahu tentang berita perampokan kemarin. mudah-mudahan kejadian ini ada hikmah untuk teman-temanku untuk menjadi orang yang lebih baik lagi.
Faait hanya bisa berdoa mudah-mudahan lek Suyoto tidak tahu tentang kejadian ini. Kalau tahu tentunya sangat malu. Karena selama ini kemewahan yang disedikan oleh anaknya adalah berkat dari pekerjaan yang tidak halal.


*Ahmad Hamid, Relawan Literasi Ma’arif, Guru di Yayasan SD Al Madina Wonosobo.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan