ArtikelOpini

Hakikat Pendidikan Perspektif Paulo Freire

Oleh Usman Mafruhin

Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Pendidikan sering terjadi di bawah bimbingan orang lain, tetapi juga memungkinkan secara otodidak.

Etimologi kata pendidikan itu sendiri berasal dari bahasa Latin yaitu ducare, berarti “menuntun, mengarahkan, atau memimpin” dan awalan e, berarti “keluar”. Jadi, pendidikan berarti kegiatan “menuntun ke luar”. Setiap pengalaman yang memiliki efek formatif pada cara orang berpikir, merasa, atau tindakan dapat dianggap pendidikan. Pendidikan umumnya dibagi menjadi tahap seperti prasekolah, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, dan kemudian perguruan tinggi, universitas atau magang.

Begitu pula yang baru-baru booming terkait dengan perubahan pendidikan adalah mentri pendidikan dan kebudayaan. Nadiem Makarim yang mengungkapkan bahwa di dunia pendidikan khususnya guru harus menjadi motor utama dalan perubahan artinya tidak hanya terpaku pada siswa melainkan guru juga harus mampu berperan aktif tidak hanya menjadi pengajar semata.

Banyak konsep dan gagasan tentang pendidikan yang semuanya semata-mata demi mewujudkan pendidikan yang relevan untuk dapat mengahasilkan orang-orang yang berpendidikan. Kita terkadang salah persepsi dalam mengartikan tujuan dan fungsi pendidikan, seringkali pendidikan hanya untuk mengejar karier dan tatanan hidup pribadi, ya walaupun tidak salah tetapi menurut Freire ini tidak tidak benar karena bagaimana nantinya fungsi pendidikan untuk perbaikan hidup sosial masyarakat tidak akan berjalan.

Mengapa? Sebab pendidikan itu untuk meningkatkan kualitas manusia, kalau untuk mencetak pekerja, mencetak mental yang hanya apatis terhadap situasi yang sedang berjalan lantas fungsi pemberdayaan fungsi emansipasi fungsi perbaikan hidup individual maupun sosial pasti tidak akan berjalan.

Freire sangat mengedepankan pendidikan untuk kaum tertindas karenanya yang diperjuangkan oleh freire ialah dengan memberikan kritikan-kritikan terhadap sistem pendidikan yang berjalan waktu itu. Ketika sistem pendidikan yang berjalan tidak semestinya maka yang akan pintar hanya orang-orang kaya sebab yang bisa sekolah hanya mereka.

Pendidikan belajar hendaknya berbentuk investigasi kenyataan. Maksudnya, proses pendidikan itu melibatkan identifikasi permasalahan yang terjadi di masyarkat. Konteks pendidikan negara agraris mislanya, kurikulum pendidikannya juga harus melibatkan realitas permasalahan pertanian di dalamnya.

Korelasi antara gaya pendidikan ala freire dengan bapak pendidikan di indonesia yaitu Ki Hajar Dewantara sebenarnya hampir sama. Semboyan dalam sistem pendidikan yang dipakai Ki hajar Dewantara kini sangat dikenal di kalangan pendidikan Indonesia. Secara utuh, semboyan itu dalam bahasa Jawa berbunyi ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani (di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan).
Semboyan ini masih tetap dipakai dalam dunia pendidikan rakyat Indonesia, terlebih di sekolah-sekolah Perguruan Tamansiswa. Freire pun memandang pendidkan harusnya berpegang teguh pada konsep humanisme.

Pedagogy Of The Oppresed Paulo Freire
Brazil adalah negara yang tidak hanya memproduksi pemain sepak bola yang populer melainkan juga ada tokoh paulo freire 1921. Selain mengkaji tentang dunia pendidikan dia jugs pemikir tentang teologi pembebasan. Salah satu buku karangan Freire ialah Pendidikan untuk kaum tertindas.

Gagasan-gagasan freire terutama tentang pendidikan sangatlah tajam dan juga kritis, hingga freire pernah di cekal karena memang vokal dan merusak tatanan struktur pendidikan waktu itu. Adapun gagasannya ialah memperjuangkan kesetaraan dalam sistem pendidikan, memberikan dedikasi untuk mereka yang tertindas, sistem pendidikan yang menekankan pembelajaran sebagai aksi kultural dan pembebasan. Maka pendidikan yang ideal tidak ada hirarki strata status sosial sehingga dapat berjalan semestinya tidak ada perbedaan karena transformasi pendidikan tidak akan jadi jika tidak ada transformasi sosial.

Bisa ditarik simpulan ketika masyarakat ingin maju maka pendidikannya juga harus maju. Yang meski kita tiru dan kita terpakan di Indonesia kalau mengutip gagasan pendidikan freire yaitu pendidikan dengan metode humanisme, pendidikan yang fokusnya ke manusia yang berorientasi kepada nilai-nilai humanisme (mengembalikan kodrat manusia menjadi pelaku atau subyek, bukan penderita atau objek).

-Penulis adalah Mahasiswa STAINU Temanggung

Tinggalkan Balasan