ArtikelEsai

Saya yang Rembes dan Umbelen!

Oleh Hamidulloh Ibda

Selama dua hari ini, badan saya lungkrah, akibat kegiatan maraton yang akhirnya menjadikan saya umbelen nan rembes. Kesel banget rasanya. Lebih kesal, ada pertanyaan seperti ini “Apa benar Nabi Muhammad saat kecil umbelen atau rembes, Pak?” ada pesan WA masuk ke inbox demikian.

Malas menjawab. Namun akhirnya harus saya tulis karena ini hari Selasa. “Sek-sek, kalau soal Nabi Muhammad, ini berposisi ganda. Jawabannya beda-beda. Ada Muhammad yang berposisi sebagai manusia biasa, posisi nabi/rasul, dan posisi Muhammad sebagai Nur Muhammad (cahaya yang terpuji). Maksud Anda ini yang mana?” jawab saya agak panjang.

“Kalau pertanyaan itu ditujukan pada penutur (dalam hal ini Gus Muwafiq), harusnya kita tabayun kepada beliau. Jangan asal menafsir sendiri dengan nada emosi,” jelas saya kepadanya.

Jika mau diperdalam, harusnya dibedakan. Ada posisi Nabi Muhammad sebagai “nabi”. Ada pula posisi sebagai “manusia biasa”. Saat lahir, berarti bisa Muhammad sebagai manusia biasa, maka ia bukan Maulid Nabi, melainkan Maulid Muhammad. Jika Maulid Nabi, maka ya ketika Muhammad ditetapkan sebagai Nabi. Jelas itu.

Rembes dan umbelen, bagi orang Jawa merupakan kejadian atau fenomena wajar. Umbel atau ingus, sering keluar tak teratur di kala saat kita kecil. Umbelen, ingusan, meler, merupakan penanda masih kecil, kanak-kanak, dan membuktikan anak belum bisa mandiri karena ingusnya masih belum teratur. Semua orang, sebagai manusia biasa, tentu pernah mengalami. Dus, apakah Kanjeng Nabi Muhammad jika diposisikan sebagai manusia biasa tidak pernah umbelen?

Inilah yang kini ramai di media sosial, layanan pesan, dan jagat maya. Geger-gender menghiasi media sosial dan layanan pesan yang mendiskreditkan Gus Muwafiq gara-gara “umbel-umbelen”. K.H. Ahmad Muwafiq alias Gus Muwafiq dianggap menghina Nabi Muhammad.

Dalam potongan ceramahnya yang viral, Gus Muwafiq mengisahkan kelahiran Nabi Muhammad dan kehidupannya di masa kecil. Beliau menyebut Nabi lahir biasa saja. Sebab, jika terlihat bersinar, maka diketahui bala tentara Abrahah. Dalam ceramahnya, Gus Muwafiq mengibaratkan Nabi saat kecil rembes karena ikut kakeknya.

Ungkapan tersebut melahirkan kritik, karena dianggap menghina Nabi Muhammad. Sebagai wujud tawadlu, Gus Muwafiq pun meminta maaf jika ucapannya dalam ceramah di Purwodadi Grobogan tersebut menuai kontroversi. Jika emosi itu lahir lantaran hanya melihat potongan video ceramah Gus Muwafiq, tanpa melihat secara utuh, maka sangat lucu ketika berkomentar nyinyir dan tentunya pemahaman atas video itu juga parsial.

Inilah yang bisa disebut “generasi umbelen” – “generasi rembes”. Masih kanak-kanak, ikut-ikutan trending yang sedang viral. Tanpa ada dasar pengetahuan agama, bahasa, komunikasi, dan konten isi ceramah, sangat paradoks jika banyak komentar karena alasan benci terhadap ulama atau kiai NU, atau terhadap NU itu sendiri.

Sebagai orang yang menyukai kajian bahasa, sebenarnya fenomena yang terjadi pada Gus Muwafiq merupakan hal biasa. Anda bisa mengkajinya dalam kajian semantik, psikolinguistik, sosiolinguistik, atau sejenisnya. Hanya saja, karena banyak para cebong dan kampret memang tidak menyukai ulama/kiai NU, ya saya ulangi, tidak menyukai ulama/kiai NU, mereka sangat tidak objektif dan lebay dalam membesar-besarkan fenomena ini.

Tidak Objektif
Lupa, kadang-kadang ngelantur atau di bawah kesadaran, menjadi hal wajar dalam berorasi, juga dalam menulis. Namun kadang, kita tak objektif soal itu. Coba kita kembali ke beberapa kejadian, banyak ustaz yang diagungkan mereka yang juga pernah secara eksplisit menghina Nabi Muhammad.

Sebut saja Evie Evendi yang jelas-jelas menistakan Nabi Muhammad dengan mengatakan (Muhammad sesat), Haikal Hasan, bersama Waloni, dan Khalid Basalamah, yang mengatakan jika kedua ayah dan ibu Nabi Muhammad kafir dan tidak masuk surga.

Lalu Sugik Nur alis Dus Nur yang sering menistakan ayat Al-Quran. Juga UAS yang secara jelas di depan forum HTI menistakan Nabi Muhammad dengan mengatakan bahwa Nabi Muhammad tidak mampu menciptakan Rahmatan lil Alamiin semasa hidupnya). Ada juga Felix Siauw yang mengaburkan Nabi Muhammad bisa membaca dan menulis, padahal jelas Nabi Muhammad itu Al-Ummi.

“Sebenarnya mereka tidak cinta nabi an Alqur’an, mereka hanya benci Ulama-ulama NU.” Begitu banyak orang menulis di status layanan pesan atau media sosial. Harusnya, tradisi tabayun kita utamakan, dan harus menonton video Gus Muwafiq secara utuh. Agar, tak keluar dari teks, konteks, interteks.

Saya yang Rembes dan Umbelen!
Banyak para intelektual dan kiai merespon kejadian pada Gus Muwafiq itu. Mereka berpendapat, Gus Muwafiq sudah memakai rujukan meski tak diucapkan. Seperti contoh tulisan Mohammad Cholid Mahsus.

Ia menulis “Nabi lahir biasa saja, tidak mengeluarkan sinar” yang diambil dari Kitab An-Ni’mat Al-Kubro alal Alam. Dalam kitab-kitab sirah memang tidak ada keterangan bahwa Nabi lahir sembari mengeluarkan sinar, yang terjadi sebenarnya keadaan langit saat kelahiran beliau sangat terang benderang penuh cahaya.

Lanjut, “tubuh Nabi saat masih kanak-kanak mrembes dan degil.” Hal itu merupakan kondisi umum anak-anak pada masa itu. Sumber referensi dalam Kitab Ar-Rohiq al-Makhtum. Lalu. “Nabi tidak begitu terurus ketika diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib.” Maksudnya: kasih sayang dan pelayanan kakek tentu tak sehebat kasih sayang dan pelayanan orang tua sendiri. Jadi, bukan lantas dipahami “terlantar”. Sumber referensi Kitab Al-Kamil fi al-Tarikh.

Kemudian, Nabi Muhammad saat usia tujuh tahun masih dirawat kakeknya, mata Beliau kena penyakit (rembes) setelah kakeknya wafat dirawat pamannya Abu Tholib yang daimbil dari Kitab Nurul Absor نور الأبصار في مناقب أل بيت النبي المختار.

Sudah clear. Yang dijelaskan Mahsus di atas membuktikan ada dasar ilmiah terhadap apa yang disalahpahami tentang ungkapan rembes atau umbelen.

Yang umbelen di sini tentu bukan Gus Muwafiq, bukan pula Kanjeng Nabi Muhammad. Yang umbelen dan rembes adalah saya yang beberapa hari memang flu, sehingga pemahaman saya kabur terhadap apa yang disampaikan Gus Muwafiq yang menuai kritik.

Soal kesalahan atau kekhilafan (jika memang salah dan khilaf), Gus Muwafiq sudah tabayun dan meminta maaf. Beliau sudah mengaku cinta Kanjeng Nabi Muhammad. Masalahnya, banyak generasi rembes yang terus-menerus menggoreng isu ini secara berlebihan dan tidak objektif.

Semua pendakwah, ulama, kiai, sebagai manusia biasa tentu pernah berujar khilaf. Dan, dari kekhilafan itulah menjadikan mereka semakin hati-hati, dewasa, dan tentu menggerakkan hati mereka untuk mengakui bahwa yang Maha Sempurnya hanya Allah Swt.

Dalam hal ini, yang rembes dan umbelen jelas-jelas saya sendiri. Bukan Gus Muwafiq, bukan pula Kanjeng Nabi Muhammad.

Jika ada generasi milenial yang masih mempermasalahkan ungkapan Gus Muwafiq di atas, anggap saja mereka masih rembes dan umbelen. Sama seperti saya. Apa Anda juga masih rembes dan umbelen?

Tinggalkan Balasan