ArtikelOpini

Nasionalisme, Kadang-kadang Tak Ada Logika

Oleh Ahmad Farichin

Polemik pernyataan Agnez Monica yang menegaskan dirinya tak “berdarah Indonesia” menarik dikaji. Ini soal nasionalisme dan logika. Memang benar, sesuai lagu “Tak Ada Logika” yang ia populerkan tahun 2005, cinta termasuk kepada bangsa dan negara memang “kadang-kadang tak ada logika”.

Dalam pernyataannya, Agnez Mo mengaku berdarah Jerman, Jepang dan China. Bahkan, ia justru menyebut Indonesia sebagai tempat kelahirannya saja. Ia menyatakan agama di Indonesia mayoritas muslim yang membuatnya merasa tidak memiliki Indonesia sepenuhnya.

Kadang-kadang cinta tak ada logika, tak mengenal waktu, datang seenaknya sendiri, dan pergi tanpa undur diri. Lantas bagaimana cinta terhadap negara? Apakah juga tak ada logika? Perkataan guru ngaji saya bahwa “NKRI Harga Mati” masih membekas hingga kini. Tak ada tawaran sekalipun untuk meninggalkan nasionalisme. Orang yang lahir di Indonesia harusnya bangga dengan tanah kelahirannya.

Logika Nasionalisme

Setiap orang yang lahir di negaranya, wajib mencintai dan menjaga negaranya. Dari pandangan agama, anak yang lupa dengan sosok yang melahirkan dan membesarkannya dianggap durhaka. Begitupun nasionalisme, siapa saja yang lupa negaranya, berarti mereka durhaka.

Nasionalisme menjadi ruh setiap negara, mempunyai jasad tanpa ruh maka akan mati. Itulah sebabnya nasionalisme selalu dibumikan di penjuru dunia. Hancurnya negara bisa muncul karena nasionalisme warganya minim, bagaimana bisa menjaga negaranya kalau tak ada rasa cinta? Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 harus menjadi spirit bernegara dengan benar. Indonesia lebih dari cukup untuk dicintai. Sebab, banyak warga asing jatuh cinta dan kangen dengan Indonesia.

Indonesia itu kurang apa? Pada masa penjajahan, ternyata Indonesia menjadi negara yang disoroti dunia karena memiliki kekayaan alam melimpah. Tak dari sudut pandang itu saja, budaya dan karakteristik Indonesia beragam. Adanya penjajah justru memupuk nasionalisme tinggi bagi masyarakat. Buktinya, banyak peneliti luar negeri meneliti tentang Indonesia dan tokoh-tokohnya, bahkan penjajah juga ikut andil meneliti.

Tan Malaka (1897-1949) yang dikenal sebagai Bapak Republik, ketika masa kolonialisme diasingkan ke Belanda. Namun ia tetap memikirkan bangsanya lewat bukunya, dan sumbangsih pemikirannya. Ia banyak dikenal orang, bukan hanya dari negaranya tapi juga dari manca negara. Buktinya, Tan diteliti Harry Poeze dari Belanda. Rasa cinta memang tida dapat diprediksi, peneliti asal Amerika yang jatuh cinta dengan Indonesia yaitu George Mcturnan Kahin (1918-2000). Walaupun bukan warga Indonesia, tapi ia banyak belajar tentang nasionalisme Indonesia.

Pluralisme menjadi bagian dari nasionalisme, memahami perbedaan suku, ras, budaya dan agama menjadi penting dalam kehidupan, tak terkecuali cinta tanah air. Abdurrahman Wahid (1940-2009) atau Gus Dur yang menjadi guru toleransi dan perdamaian juga diteliti banyak tokoh asing. Laiknya obat, Indonesia menjadi candu bagi para pendatang bahkan penjajah. Mengapa kita harus minder menjadi bangsa Indonesia?

Jika kita analogikan, banyak warga asing berada di Indonesia mempunyai rasa cinta terhadap Indonesia, mulai dari jurnalis sampai atlet sepak bola. Seharusnya kita sebagai warga negara, jauh lebih bangga dan cinta. Logika itu harus dipakai, meski cinta termasuk kepada bangsa memang kadang-kadang tak ada logika.

Nasionalisme Agnez Mo
Apa yang dipopulerkan Agnez Mo dalam lagu “Tak Ada Logika” menjawab perilakunya sendiri. Bisa jadi, ungkapan Agnez Mo yang viral benar-benar “tak ada logika”. Artinya, kita tak perlu khawatir, karena menurut pernyataan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, dipastikan Agnez Mo masih doyan tempe yang berarti masih nasionalis (Kompas, 26/11/2019).

Agnez Mo mengajak kita berlogika, karena nasionalisme menjadi bentuk dari cinta. Sifat dari itu membutakan, dan antara cinta dengan benci beda tipis. Bisa jadi, Agnez Mo kecewa karena ia tidak “dihargai” di negerinya sendiri, sehingga saat diwawancarai di Amerika, ia “kehilangan logika” cinta kepada bangsanya sendiri.

Candu nasionalisme mulai tergerus arus globalisasi. Negara yang dikagumi banyak orang diklaim sebagai negara lemah, sumber daya kurang berkualitas. Faktor-faktor itu menebabkan mental masyarakat berkurang, merasa malu mengakui bangsanya.

Nasionalisme perlu dibaca lagi agar tidak mengartikan secara sempit. Pancasila sebagai dasar negara sudah menjadi ideologi negara Indonesia yang bulat. Ras, budaya dan agama dapat disatukan dalam satu wadah bernama NKRI. Pancasila mewakili dari segala bentuk persatuan termasuk nasionalisme. Gerakan nasionalisme harus dilestarikan agar ruh negara dapat hidup. NKRI harga mati tidak bisa diubah lagi, dokrtin untuk menumbuhkan rasa nasionalisme.

Rasa cinta terhadap Negara tidak hanya mucul dari letak geografis seseorang dilahirkan, nasionalisme harus dicontohkan oleh semua warga negara. Presiden, gubernur, bupati, atlet olahraga sampai artis harus menjadi pelopor nasionalisme di mana saja berada. Sudah saatnya kita membaca lagi nasionalisme.

Untuk itu perlu kita berlogika ditambah etika dan estetika dalam menguat nasionalisme. Pertama, memahami nasionalisme, hubbul wathan (cinta tanah air) sebagai bagian dari iman. Artinya, bernasionalisme itu satu paket, yaitu bernegara dan juga beragama.

Kedua, minoritas bukan menjadi alasan untuk tidak memiliki rasa nasionalisme. Perbedaan harusnya memperkuat nasionalisme, bukan mengecilkan logika cinta pada Negara. Ketiga, inti dari implementasi nasionalisme ada pada diri kita masing-masing, kita perlu menanyakan pada diri kita. Apakah kita sudah memakai logika, etika, dan estetika dalam mencintai negara?

Keempat, bagi artis/pelaku seni harus menunjukkan rasa nasionalismenya, baik berupa perkataan, perbuatan atau karya yang dihasilkan. Artis selama ini dibayar mahal namun merusak moral. Sedangkan guru sebagai pembentuk moral, namun justru dibayar murah. Harusnya, Agnez Mo membaca pesan moral ini.

Kelima, kita harus menyadari bahwa negara kita, Indonesia adalah tanah kelahiran dan tanah akhir hayat. Doktrin seperti itu akan memunculkan nasionalisme, bangga dengan yang kita miliki adalah bentuk dari revolusi mental bangsa.

Rumus nasionalisme tak hanya logika, namun juga etika dan estetika, karena ia wujud cinta. Namun, mengapa Agnez Mo justru kehilangan logika terhadap bangsanya sendiri? Mari kita renungkan!

Penulis adalah Mahasiswa dan Ketua UKM Unit Kajian Islam (UKI) STAINU Temanggung

Tinggalkan Balasan