Pustaka

Meneladani Sang Kiai, Alumni Ponpes Lirboyo 1975

Bagikan:

Biodata Buku:
Judul Buku: Jejak KH. Manaf Achmad Nasir (Alumni Ponpes Lirboyo 1975)
Penulis: M. Ali Basarah, S.E.
Penerbit: CV. Pilar Nusantara
Cetakan: 1, September 2019
Tebal: 21 x 14 cm, ix + 86 Halaman
ISBN: 978-623-91325-8-3

Bicara tentang tokoh NU tak akan ada habisnya, karena tokoh-tokoh NU ini sangat menginspirasi mereka cerdas dan beriman. Hal-hal fantastik yang mereka lakukan juga bukan hanya untuk diri mereka sendiri namun untuk kemaslahatan umat, hidup mereka mereka abdikan untuk kesejahteraan bersama. Seorang tokoh yang akan kita ulas adalah seorang Kiai Alumnus Pondok Pesantren Lirboyo Tahun 1975, Beliau bernama KH. Manaf Achmad Nasir seorang pengerak sekaligus tokoh masyarakat yang dapat dijadikan panutan.

Dalam buku ini juga mengungkapkan bagaimana Kiai Munaf menghidupkan kembali kembali pondok Kiai Achmad Qunawi dan memberi nama pondok tersebut dengan nama Pondok Pesantren An Nashiriyyah yang artinya adalah pertolongan. (hlm. vii) pembaca diharapkan akan mengetahui bagaimana cara manajemen sebuah pondok agar menghasilkan santri yang berkualitas, seimbang antara ilmu agama dan dunia, mereka belajar agama sekaligus diajari berwirausaha.

Di kota udang Cirebon beliau dilahirkan pada 25 Juli 1957 dari seorang ibu bernama Rubiah Adawiyah dan Ayahnya bernama Abdul Nasir bin Syuaaeb bin Muhammad Sali bin Abdul Karim. Nama kecil beliau ialah Manaf mengenyam pendidikan dari SD sampai MTs di Cirebon. Walaupun pada bangku SMP beliau sudah mondok namun tetap mendapat pengajaran dari ibundanya dipangku dann diajarkan membaca dan menghafalkan Alquran. Dari kebiasaan itu Manaf akhirnya bisa menghafal surat-surat pendek juz 30.

Memasuki bangku SMA beliau pindah ke Lirboyo, Kediri, Jawa Timur pada tahun 1973-1978 mengenyam pendidikan di MAAI Tambak Beras pada tahun 1975. Setelah mondok di Kediri, Manaf melanjtkan pendidikan agamanya di Pondok Pesantren Al Musaddadiyah, Garut, Jawa Barat, belajar di Makkah tahun 2002, dan di Madinah 2008. (hlm. 10)

Kiai Manaf adalah seorang Pegawai Negeri Sipil yang mendedikasikan hidupnya untuk negara dan juga agama, sebagai seorang PNS Kiai Manaf juga menyambi berdakwah karena beliau juga merupaka pengasuh Pondok Pesantren An Nashiriyyah. Menjadi pegawai Negeri di DEPAG beliau ditempatkan di Pemalang. Kiai Manaf terpilih dari ribuan PNS Departemen Agama yang menjadi utusan Menteri Agama sebagai Amirul Haj Indonesia karena kompetensinya dalam berbahasa Arab.

Kepercayaan menjadi Pegawai Negeri Sipil tidak membuat semangat berdakwah Kiai Manaf berkurang bahkan goyah, pada usia yang tebilang muda yaitu 25 tahun beliau membuka kembali Pondok Pesantren An Nashiriyyah, walaupun usia yang terbilang muda namun masyarakat sekitar tetap mempercayai untuk mendidik putra-putr mereka.

Lantaran Kiai Manaf adalah seorang PNS, maka untuk mengasuh pondok pesantren pun dia mengikuti kebijakan-kebijakan pemerintah. Misalnya menyesuaikan kurikulum dengan mengajarkan kitab-kitab yang ada dalam kurikulum. Kemudian mengembangkan inovasi dan kreativitas bagi para santri. Kiai Manaf juga sebagai pengerak untuk menghidupkan kegiatan keagamaan Islam bersama-sama dengan santri di pondoknya. (hlm. 30)

Di pondok santri tidak hanya diajarkan belajar berbagai macam kitab, namun juga diajarkan untuk berwirausaha dan bercocok tanam, kerena pondok memiliki lahan yang cukup untuk para santri belajar bercocok tanam. Mereka diajari teknik menanam holtikultura, mereka diajari untuk mengolah lahan, menanam, merawat, hingga memanen tanaman. Istri beliau Nyai Rodliyah mengajarkan membuat kue lapis, kue semprong, dan rempeyek paris. Makanan itu dikemas lalu dijual, selain bercocok tanam dan berwirausaha santri diajarkan pula budidaya ayam kampung petelur. Kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi bekal untuk para santri setelah terjun langsung kemasyarakat.

Beliau juga aktif dalam organisasi ke-NU an, kiprahnya di NU Comal menjulang hingga menjadi ketua Tanfiziyah pada tahun 1982 hingga 1987, kemudian masuk ke pengurusan PCNU Kabupaten Pemalang Tahun 2006-2011. 2018 Kiai Manaf menjabat sebagai MWC NU Comal. Meski demikian Kiai Manaf masih aktif di PCNU Kabupaten Pemalang dalam kegiatan Batsul Masail. Beliau ikut mengurus MUI sebagai anggota Komisi Fatwa, Pengkajian dan Penelitian. Dan ditingkat kecamatan beliau menjabat menjadi ketua. (hlm. 53)

Beliau seorang yang amanah dalam mengemban tugas negara maupun agama, sebagai seorang PNS juga sebagai pengasuh pondok pesantren beliau masih menyisahkan waktunya untuk ikut mengurus organisasi NU, ikut andil memajukan NU, beliau juga dikenal seorang yang mempunyai prinsip melayani sebaik mungkin. Beliau selalu ingin sempurna dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat dan memberikan laporan yang sesuai keadaan prestasi kerjannya bukan untuk menyenangkan pimpinanya. Sebuah sikap yang patut kita teladani yaitu kita memang harus bekerja secara ikhlas tanpa mengharap pujian dari pimpinan maupun bos kita.

Di pondok pesantren santri juga diajarkan bermusik yang bernuansa Islami, mereka begitu lihai memaiknkan alat musik terbang, bedug, darbuka, dan alat lainnya keyakinan beliau ialah musik religi akan menambah keimanan dan mempertebal kayakinan. Yang disampaikan dari kesenian ini ialah pesan keimanan dan ketaqwaan yang dibawakan melalui lagu-lagu religi. Mereka juga dapat bergabung dalam jamiyah simtuduror. (hlm. 65-66)

Kesenian rebana yang sudah engan digeluti para pemuda khusunya para pemuda milenial yang lebih menyukai musik rock, pop, dan dangdut, disini Kiai Manaf hadir untuk mengembalikan semangat para pemuda khususnya santri Pondo Pesantren An Nariyyah untuk mlestarikan dan menyiarkan islam melalui kesenian rebana.

Pondok Pesantren An Nariyyah juga mempunyai segudang prestasi diantaranya seorang santri yang bernama Hisyam Fadlullah berhasil menjadi juara 1 bulu tangkis di Pekan Olahraga Dan Seni Maarif (PORSEMA) di GOR Cisadane Kebondalem tahun 2015. Dia juga mwraih juara III lari 7000 meter (POPDA Kabupaten Semarang 2010), Juara III senam lantai POPDA kabupaten Pemalang 2013. (Hlm. 71-72). Santri yang alim sekaligus berprestasi ini semua berkat doa orang tua dan bimbingan Kiai Manaf.

Sebagai seorang Kiai sekaligus PNS di wilayahnya Kiai manaf membuktikan bahwa seorang yang bisa menjadi dua mata tombak dibidang keagamman, syiar agama melalui pondok pesantren yang disuhnya, mata tombak yang kedua beliau juga sebagai PNS yang patuh dan mengabdikan dirinya untuk negara.

Kekurangan buku ini, desain sampul kurang menarik, sampul kurang tebal, sampul mudah megelupas. Namun isinya, sangat menginspirasi bagi pelajar atau mahasiswa NU untuk aktif dan berjuang meneruskan perjuangan nabi dan para ulama.

-Diresensi Anisa Rachma Agustina, mahasiswi Prodi PAI STAINU Temanggung.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan