ArtikelOpini

Sakralitas Batik Ma’arif

(Refleksi Hari Batik Nasional)
Oleh Usman Mafruhin

Lembaga atau intansi mana di Indonesia yang tidak mempunyai seragam batik sebagai identitas lembaga tersebut? Hampir semua lembaga mempunyai batik. Komoditas batik di Indonesia tidak hanya berkutat pada kota Pekalongan dan Solo yang notabene memang terkenal dengan khas batiknya. Akan tetapi hampir tiap daerah memproduksi juga batik dengan gambar maupun corak yang mempunyai nilai filosofis sendiri-sendiri, dan biasanya bergantung adat atau budaya setempat kemudian memunculkan motif batik yang disesuaikan.

Seperti di Kabupaten Temanggung Jawa Tengah yang memang erat dengan kebudayaan kuda lumping dan juga memang kabupaten penghasil Tembakau atau rata-rata petani tembakau. Maka batiknya yang muncul motifnya identik dengan kedua hal tersebut, artinya terdapat motif gambar kuda lumping dan juga daun tembakau.

Dalam proses pembuatannya, seni batik terutama batik tulis melambangkan kesabaran pembuatnya. Setiap hiasan dibuat dengan teliti dan melalui proses yang panjang. Kesempurnaan motif tersebut menyiratkan ketenangan pembuatnya. Corak batik tertentu dipercaya memiliki kekuatan gaib dan hanya boleh dikenakan oleh kalangan tertentu. Misalnya, motif parang yang melambangkan kekuatan dan kekuasaan, hanya boleh dikenakan oleh penguasa dan kesatria.

Batik jenis ini harus dibuat dengan ketenangan dan kesabaran yang tinggi. Kesalahan dalam proses pembatikan dipercaya akan menghilangkan kekuatan gaib batik tersebut. Selain proses pembuatan batik yang sarat dengan makna filosofis, corak batik merupakan simbol-simbol penuh makna yang memperlihatkan cara berfikir masyarakat pembuatnya. Berikut ini adalah beberapa motif batik beserta filosofisnya.

Semenjak diakui oleh UNESCO pada 2009, batik menjadi identas tekstil Indonesia. Tak hanya Pekalongan dan Solo, berbagai kota di Indonesia punya batik yang jadi identitas. Tidak hanya itu batik juga merupakan simbol identitas. Simbol adalah objek sosial dalam suatu interaksi untuk digunakan sebagai perwakilan dan komunikasi yang ditentukan oleh orang yang menggunakannya.

Orang-orang tersebut memberi arti, menciptakan dan mengubah objek tersebut di dalam interaksi. Simbol sosial misalnya, dapat mewujud dalam bentuk objek fisik ( benda-benda kasat mata)seperti batik ini, kata kata (untuk mewakili objek fisik, perasaan, ide-ide, dan nilai nilai), serta tindakan (yang dilakukan orang untuk memberi arti dalam berkomunikasi dengan orang lain berupa penyaimpaian pesan atau kesan melalui media dengan cara tertentu agar tertarik.

Salah satu instansi atau organisasi yang menaungi pendidikan yang memiliki batik adalah Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (LP Ma’arif NU), baik dari tingkat pusat, wilayah, cabang dan di sekolah atau madrasah. Mereka mengenakan batik dengan bangga karena batik Ma’arif juga sarat akan nilai-nilai filosofis di dalamnya.

Sakralitas Batik Ma’arif
Bertepatan di Hari Batik Nasional yang jatuh pada 2 Oktober 2019 ini, maka kita akan mengupas lebih tentang batik Ma’arif. karena seperti tadi ditulis di depan setiap lembaga pasti punya identitas batik. LP Ma’arif NU merupakan salah satu aparat departementasi di lingkungan organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Didirikannya lembaga ini di NU bertujuan untuk mewujudkan cita-cita pendidikan NU.

Bagi NU, pendidikan menjadi pilar utama yang harus ditegakkan demi mewujudkan masyarakat yang mandiri. Maka dari itu, sebagai lembaga Ma’arif juga mempunyai batik yang selain menjadi simbol identitas juga bertujuan untuk salah satu memajukan kebudayaan yang menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia. Melalui seni dan juga tradisi batik ini, Indonesia menjadi lebih dikenal di dunia internasional.

Tak hanya itu, batik yang merupakan kesenian asli bangsa Indonesia ini telah berhasil masuk ke dalam pasar internasional. Bahkan, batik Indonesia ini menjadi terkenal karena desain dan juga motif batik nya yang unik dan berbeda dengan tekstil lainnya. Jadi, sudah sepatutnya kita sebagai bangsa Indonesia merasa bangga terhadap seni batik.

Beranjak dari hal demikian, Batik Ma’arif juga mempunyai sakralitas dan filosofi sesuai dengan batik-batik lainya. Dengan kombinasi warna hijau dan putih melambangkan kesuburan dan kesucian sesuai dengan warna khas NU atau nahdliyin.

Terdapat pula logo Ma’arif dan logo NU di dalam motifnya yang menjadi simbol identiknya batik yang dimiliki oleh Ma’arif, batik yang kemudian dipakai oleh setiap guru maupun karyawan yang ada dibawah kendali Ma’arif menunjukan bahwa inilah kreatifitas dan juga inovasi Ma’arif khususnya dalam memajukan komoditas Batik di Indonesia.

Untuk itu, batik Ma’arif harus dijaga karena lahir dari proses yang tidak sederhana. Dijaga fisiknya, namun juga martabat batik Ma’arif dari noda hitam, kotoran, atau sekelompok orang yang ingin menganggu Ma’arif dari segi ideologi, seni, maupun kelembagaan.

-Penulis adalah Ketua Umum PMII Komisariat Trisula STAINU Temanggung.

Tinggalkan Balasan