ArtikelOpini

Manajemen Madrasah (Sebuah Pengalaman)

Oleh M. Dalhar

Mengajar di madrasah swasta merupakan sebuah kenikmatan tersendiri. Terlebih lagi sekolah yang berada di pedesaan. Dampak dari sistem zonasi sekolah negeri sepenuhnya dirasakan karena menjamurnya lembaga pendidikan swasta yang lain.

Secara gelar akademik, mengajar bukan jurusan penulis. Dengan alasan kebutuhan, penulis diminta untuk mengajar sejarah pada lembaga pendidikan madrasah yang ada di desa penulis. Tahun ini merupakan tahun ketiga penulis bergabung dengan dunia pendidikan formal. Sedikit demi sedikit, ada banyak hal yang penulis dapatkan dari proses belajar selama waktu yang relatif singkat itu.

Pada awalnya konsep madrasah dan sekolah memiliki perbedaan yang signfikan. Momentumnya adalah pada saat diberlakukan Politik Etis 1901. Perbedaan madrasah dan sekolah tampak pada penekanan kurikulumnya. Madrasah, meskipun mengajarkan ilmu umum sebagaimana sekolah, namun sangat menonjolkan nilai religiusitas masyarakatnya. Sementara itu, sekolah merupakan lembaga pendidikan umum dengan pelajaran universal dan terpengaruh iklim pencerahan Barat (Streenbrink, 1986). Setelah kemerdekaan 1945, antara keduanya disetarakan dan diakui oleh pemerintah sebagai penyelenggara pendidikan bagi masyarakat.

Menjadikan madrasah maju atau berkembang tidak dapat dilepaskan dari faktor guru sebagai pendidik. Pentaan internal lembaga menjadi sesuatu yang penting dilakukan untuk menciptakan lembaga pendidikan yang bermutu.

Di madrasah kami yang berada di pedesaan mencoba untuk kembali menertibkan proses pembelajaran yang ada di sekolah. Ketertiban waktu menjadi hal yang pertama dilakukan. Para dewan guru meyakini bahwa penataan internal akan membawa dampak yang besar, terutama untuk kepentingan lembaga. Menata manajemen internal madrasah diutamakan daripada “memaksa” para siswa untuk disiplin. Yang pertama harus disiplin adalah guru, itu prinsipnya.

Disadari atau tidak, guru menjadi panutan para murid atau siswa. Jika para murid setiap hari melihat para guru menunggu para siswa di depan gerbang madrasah dan tepat waktu dalam mengajar, tentu para siswa pelan-pelan akan berubah. Sekurang-kurangnya adalah perubahan untuk tidak lagi terlambat tiba di sekolah.

Pada awalnya para siswa merasa heran dengan “perubahan” yang ada. Jika pada hari biasanya terlambat menjadi sesuatu yang biasa dan tidak ada teguran, akan tetapi setelah para guru berkomitmen untuk disiplin, para siswa yang terlambat pun ditegur. Biasanya ada tugas khusus yang diberikan agar mereka tidak mengulangi kembali apa yang sudah biasa dilakukan. Hasilnya pun sedikit demi sekit mulai terlihat. Jika pun ada jumlahnya relatif berkurang.

Tidak hanya yang datang terlambat, yang bolos pun diberikan “hukuman” agar yang bersangkutan tidak mengulanginya kembali. Hukuman yang diberikan bersifat edukatif, mulai dari mengaji, menghafal surat-surat pendek, sampai membersihkan madrasah. Harapannya, sedikit demi sedikit ada perubahan pada diri siswa dan menjadikan madrasah sebagai tempat belajar yang nyaman.

Menjaga marwah lembaga, tantangan terbesar dewan guru. Ada banyak tantangan untuk menjadikan para pengajar kembali disiplin. Iklim mengajar yang terlalu santai menjadikan sebuah tantangan untuk mengembalikan tugas mengajar sebagaimana mestinya.

Peran Orangtua
Perbaikan lembaga adalah sebuah keharusan di tengah kompetisi dunia pendidikan. Kita dapat memaknai kompetisi adalah perlombaan dalam kebaikan (fastabiq al-khairat). Dewasa ini kita merasakan sekolah menjadi semacam pasar. Siapa yang lebih besar dan lengkap, ia akan banyak diburu oleh para orangtua. Sebaliknya, sekolah yang terkesan biasa saja, terlebih di pedesaan, tidak dilirik. Teori semacam itu bisa jadi benar, bisa juga salah.

Bagaimanapun yang terjadi, madrasah harus tetap diupayakan tetap ideal. Mengingat, lembaga yang kami kelola adalah warisan dari para sesepuh desa. Menjadikan sekolah maju sama halnya dengan melanjutkan perjuangan para pendahulu, melalui dunia pendidikan.

Suatu ketika penulis mendapati ada anak yang terlambat. Seperti biasa, siswa yang terlambat diminta untuk berdoa di halaman. Saat ditanya alasan keterlambatan, salah satu anak menjawab karena ia begadang sampai larut malam dengan gadget. Yang cukup mencengangkan adalah jawaban selanjutnya, yaitu orangtuanya tidak melarang dan tidak membangunkan di pagi hari. Hasilnya, ketika waktu bersekolah ia terlambat.

Orangtua tidak membangunkan dengan alasan kasihan karena anak tidur larut malam adalah sesuatu yang ironis. Orangtua dapat “memaksa” anak untuk tidur pada jam tertentu agar anak dapat menunaikan kewajibannya esok hari. Bukan hanya kewajiban belajar, tetapi juga kewajiban salat Subuh. Di samping itu, orangtua juga seharusnya tahu dengan lingkungan seperti apa yang ada di sekitar anak. Termasuk situs apa yang sering diakses anak melalui gadget.

Kedisiplinan dalam waktu menurut penulis adalah yang pertama dan utama sebelum yang lain. Dengan disiplin waktu, pelan-pelan lembaga dapat ditata dengan baik. Menjadi juara atau tidak adalah bukan yang utama. Kedisiplinan perlu ditekankan sejak dini kepada siapa saja. Anak memang tidak dapat dipaksa kemampuannya. Akan tetapi, dengan materi-materi yang diajarkan di madrasah anak dapat menambah wawasannya dan memilih mana yang sesuai dengan minatnya.

Hal penting kedua yang harus diperhatikan adalah iklim pembelajaran di kelas. Jangan dianggap anak adalah robot yang tidak memiliki rasa lelah, kantukm, dan bosan. Mereka adalah manusia yang sudah seharusnya dimanusiakan. Sampaikan pelajaran dan berikan tugas yang sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki. Jangan berikan tugas yang berat di luar kelebihan yang mereka miliki.

Iklim yang sudah ada perlu senantiasa diuji dengan keadaan yanga ada agar dapat dikatakan sebagai sekolah yang tertib. Anak berada di kelas, bagaimanapun kondisinya adalah tahap awal untuk memberikan materi atau isi pada diri siswa. Ketika anak sudah betah berada di kelas, tahap selanjutnya adalah memberikan materi-materi yang menarik. Sehingga, ketiaka berada di kelas, tidak adala lagi kapan pulan, kapan istirahat. Semua sudah terjadwal dengan baik.

Yang terakhir adalah partisipasi orangtua untuk memperhatikan anak. Peran ini penting dilakukan terutama adalah dalam pengawasan. Sinergitas antara manajemen madrasah yang baik dan peran serta orangtua diharapkan dapat menjadikan madrasah sebagai lembaga pendidikan yang tidak dipandang sebelah mata. (*)

-Penulis adalah Pengajar di Madrasah Aliyah (MA) Matholiul Ulum Banjaragung Jepara.

Tinggalkan Balasan