Pustaka

Islam Garis Santuy: Berprinsip Boleh, Kaku Jangan

Olah Em. Sastroatmodjo

Biodata Buku:
Judul : Tuhan itu Maha Santai, Maka Selowlah
Penulis : Edi Ah Iyu Benu
Penerbit : DIVA Press
Terbit: September 2019
Tebal: 180 Halaman

“Sebelum aku berhijrah: aku yang salah, setelah aku berhijrah: kamu yang salah.”

Kalimat tersebut sangat masyhur kita dengar atau kita baca belakangan ini. Tentunya bukan sebuah kebetulan, fenomena hijrah yang sekarang menjamur melahirkan beberapa tanggapan beragam di masyarakat. Ada yang menanggapinya dengan riang gembira, ada pula yang menanggapinya secara kritis dengan melihat beberapa titik yang memang memerlukan kajian yang lebih intim.

Adalah Edi Ah Iyu Benu, di antara bagian orang yang bersikap kritis mengenai fenomena tersebut. Lewat buku teranyarnya yang berjudul Tuhan itu Maha Santai, Maka Selowlah ia menegaskan bahwa beragama tidak harus kaku dan tekstualis, ber-Islam ngono yo ngono ning yo ojo ngunu (ber-Islam itu ya begitu, tapi ya jangan begitu). ia prihatin dengan cara ber-Islam sebagian orang yang menurutnya ‘terlalu berlebihan’. Bahkan Penulis yang sekaligus juragan penerbitan itu mengatakan dalam mukaddimah bukunya bahwa jangan melampaui batas, jangan memicu perpecahan, atas nama apapun, termasuk atas nama iman, takwa, dan Islam. Mari Tetap tenang dalam menjadi manusia yang rendah dan tawadluk.

Buku setebal 180 halaman ini memuat 20 esai ringan dan dengan menggunakan bahasa yang sederhana. Esai-esai Edi membahas seputar permasalah cara beragama: kesalahan berdakwah, politik beragama, tasawwuf, fenomena hijrah dan khususnya fenomena menyalahkan, mensyirikkan, serta mengkafirkan liyan yang berbeda pandangan.

Kekerdilan berpikir dan sempitnya ilmu agama, mampu menyulap seseorang menjadi keras dan arogansi dalam menyikapi perbedaan. Maka kiranya sangat penting bagi setiap kita untuk bersegera mengindahkan konteks-konteks khas yang melingkari kehidupan kita masing-masing. Dari aspek budaya, tradisi, sosial, dan ilmu pengetahuannya. Inilah derajat ilmu yang akan menjadi pintu gerbang bagi lajunya kita ke karakter kelegowoan tadi (hlm 46).

Kearogansian dalam beragama disempurnakan pula oleh tergusurnya para ahli (agama), sebab di hari ini, belantara jagat digital dan media sosial telah mengaburkan sekat dan batas. Setiap orang dapat berbicara sesukanya, berfatwa sesukanya, dan mendalil sesukanya. Kemampuan ulama bernama syekh Google telah menyediakan fasilitas bagi semua orang untuk menjadi ahli tanpa melalui sanad. Ini pula yang menjadi kegelisahan Edi yang ia tulis dalam esai nomor enam.

Pun tak luput perihal pertaubatan, edi membahasnya dalam esai nomor tiga belas berjudul ‘Hijrah: Kerawanan materialisasi taubat’, ia memberikan pendapat bahwa pertaubatan yang diglorifikasikan dengan luas melalui bendera hijrah, di detik yang sama mengerek kepatuhan syariat yang memukau, tetapi di sisi lainnya rawan mewartakan residu rohani.

Secara keseluruhan, buku terbitan DIVA Press ini memberikan tawaran berpikir kritis sekaligus tetap memegang sikap santai, fleksibel dalam menanggapi dinamika kehidupan yang selalu dinamis, atau dalam bahasa K.H Mustafa Bisri: saleh ritual sekaligus saleh sosial.

-Peresensi adalah Penyair sekaligus pengajar di Ponpes Ali Maksum Krapyak Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan