ArtikelOpini

Hilangnya Marwah Pendidikan di Era Demokrasi

Oleh Abdul Khalim

Astiah, seorang pengajar Sekolah Dasar (SD) Negeri Pa’bangiang, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan (Sulsel) belum lama ini nahas menjadi korban penganiayaan dua murid dan orang tuanya saat mengajar (iNews.id, 4/9/2019). Tamparan keras bagi dunia pendidikan. Bangunan pendidikan yang semestinya dibangun dengan kesadaran bersama oleh semua komponen tercederai oleh prilaku siswa dan orang tuanya sebagai salah satu komponen dalam mencapai tujuan pendidikan.

Apa yang dipertontonkan pada kasus Astiah dan beberapa guru lain yang menjadi korban kekerasan baik oleh siswa ataupun orang tua siswa merupakan bencana bagi dunia pendidikan, yakni hilangnya marwah pendidikan di era demokrasi. Di era ini, ternyata yang butuh dididik bukan hanya siswa sajam akan tetapi orang tua siswa juga harus dididik agar memilliki kesadaran bersama dalam mewujudkan keberhasilan pendidikan anak.

Dalam hal untuk mencapai keberhasilan pendidikan, tentu kita harus mengingat trilogi pendidikan sebagai skema yang harus saling mendukung, yakni lingkungan keluarga – sekolah – masyarakat. Dalam trilogi pendidikan itu, keluarga merupakan bagian yang sangat mendasar. Orang tua sebagai guru pertama lebih-lebih Ibu sangat menentukan arah pendidikan anak. Mengingat “al Ummu Madrasatul Ula”, ibu adalah madrasah pertama dan utama. Itu artinya, pendidikan yang ditanamkan orang tua menjadi modal karakter dasar anak dalam bersikap pada lingkunganya yang lebih luas.

Pahami Bersama Keberhasilan Pendidikan
Orang tua sebagai pendidik dalam lingkungan keluarga menduduki posisi pertama dan utama. Keberhasilan pendidikan tidak bisa lepas dari peran orang tua dilingkungan rumahnya. Namun demikian manakala anak memasuki dunia sekolah, tanggung jawab orang tua beralih pada pihak sekolah wabil khusus guru. Demikian pula manakala anak memasuki dunia pergaulan di masyarakat, lingkunganlah yang akan membentuk karakter anak.

Ketiga trilogi pendidikan ini harus saling bersinergi dalam mewujudkan tujuan pendidikan. Kecacatan salah satu darinya akan menyebabkan kepincangan dalam proses pendidikan. Lingkungan keluarga sebagai pusat pendidikan pertama dan utama harus mengajarkan nilai-nilai luhur yang harus dipegang anak. Orang tua harus mengajarkan bagaimana menghormati orang tua, menghormati guru, menghormati teman dan sesama. Dari lingkungan keluarga itulah pendidikan karakter jauh lebih memiliki peran strategis dibanding lingkungan yang lain.

Lingkungan sekolah adalah elemen suplemen pendidikan karakter yang disuguhkan kepada peserta didik. Lingkungan sekolah mencoba memberikan sekema dan sketsa karakter ideal yang kelak harus diwujudkan oleh peserta didik dalam kehidupannya. Lingkungan masyarakat adalah penerima manfaat pendidikan karakter yang telah diberikan, baik di lingkungan keluarga maupun sekolah. Namun demikian jika pendidikan karakter yang diberikan kepada anak sejak dari keluarga (rumah) dan sekolah tidak cukup kuat untuk membentuk karakter siswa maka anak justru akan terbawa arus mengikuti pola yang ada di masyarakat.

Dalam rangka untuk mewujudkan keberhasilan tujuan pendidikan tersebut, ketiga trilogi pendidikan tersebut harus saling bekerja sama dan saling melengkapi. Guru sebagai pendidik di sekolah berupaya untuk mengembangkan potensi peserta didik dengan berbagai analisa; psikologi, sikap, intelektual, ketrampilan dan spiritualnya.

Orang tua sebagai penanggung jawab dan penerima manfaat pendidikan sekolah juga harus melakukan hal yang sama sebagaimana yang dilakukan oleh guru maupun pihak sekolah di lingkungan keluarganya. Dengan demikian orang tua, guru dan pihak sekolah harus saling memahami perkembangan anak dalam mencapai tujuan pendidikan.

Penyadaran Orang Tua
Perlakuan orang tua siswa terhadap guru Astiah menandakan hilangnya marwah pendidikan. Kekerasan yang dilakukan oleh dua siswa dan orang tuanya terhadap guru Astiah justru mempertontonkan prilaku tidak mendidik sama sekali bahkan merusak suasana pendidikan. Anak-anak secara psikologis tercederai atas prilaku orang tua tersebut yang dengan terang-terangan meperlakukan guru dengan tidak semestinya didepan peserta didik dan anaknya sendiri disaat proes pembelajaran sedang berlangsung. Dis inilah terjadi kecacatan dalam trilogi pendidikan. Orang tua yang seharusnya mendukung kegiatan sekolah malah merusak dengan intervensi dan melukai suasana edukatif. Tampaknya dalam hal ini orang tua juga perlu diberi penyadaran akan hakikat pendidikan.

Perseteruan orang tua dan pihak sekolah mestinya tidak perlu terjadi secara vulgar atau terang-terangan didepan murid secara leluasa apalagi sampai melibatkan anaknya. Jika ada masalah semestinya diselesaikan secara arif, musyawarah dan dialog yang baik antar pihak-pihak terkait tanpa harus meluapkan emosi didepan anak-anak yang sedang menjalankan proses pembelajaran.

Orang tua harus sadari betul persoalan ini, bahwa pendidikan tentu harus dilaksanakan dengan uswah atau keteladanan oleh berbagai pihak terutama orang-orang dewasa. Jika orang tua sudah terang-terangan meluapkan emosi kepada guru didepan anak-anak (peserta didik) maka akan menciderai psikologi anak-anak, dan perlakuan seperti itu sama sekali tidak mendidik dan merusak proses pendidikan.

Pihak sekolah memerlukan upaya yang tepat sebagai evaluasi atas hubungan antara sekolah dan orang tua murid bahkan masyarakat. Diantara yang harus dilakukan adalah menjalin dialog dan penyadaran kepada orang tua tentang hakikat dalam proses mencapai tujuan pendidikan. Kesadaran akan sinergisitas dalam mencapai tujuan pendidikan perlu ditingkatkan, orang tua murid perlu dilibatkan dalam menilai perkembangan kemajuan anaknya dan diberi wawasan tentang tujuan pendidikan yang harus openi dan diperhatikan bersama.

Termasuk bagaimana orang tua memberikan keteladanan kepada anak-anaknya. Bahkan ketika terjadi permasalahan agar diselesaikan tanpa melibatkan siswa secara langsung dalam arti tidak mempertontonkan emosional orang tua dihadapan siswa atau anak. Cukuplah masalah tersebut menjadi masalah orang-orang dewasa dan bagaimana penyelesaianya harus dibicarakan bersama untuk mencari solusi.

-Penulis adalah Pengurus LP Ma’arif PWNU Jawa Tengah.

Tinggalkan Balasan