Teman Lama

Cerpen Latif Nur Janah Kutinggalkan istriku yang masih duduk di kursi dapur. Kuempas tubuh ke dipan kayu di teras rumah. Angin yang berembus dari selatan tak membawa kesejukan berarti seperti biasanya. Barangkali karena hati dan pikiranku sedang kusut sehingga angin sepoi yang menggerakkan dedaunan itu tak begitu terasa. Kuhela napas panjang beberapa kali. Kusut pikiran […]

Berkunjung ke Surga

Cerpen Latif Nur Janah Abdullah terduduk murung di kursi tunggu. Baru sejam yang lalu, Fahira, istrinya meminum obat sebelum tidur. Ia sudah pulas sekarang. Tampak napasnya yang teratur dari gerak perutnya yang turun naik. Kondisi Fahira semakin baik. Abdullah mendesah. Posisi duduknya mulai melorot. Matanya juga mulai lelah, namun bayangan ibunya semakin mendesak-desak ingatan. Kenapa […]

Penjemputan

Cerpen Latif Nur Janah Nyaris semua makmum salat Magrib petang itu tercengang dalam posisi tangan masih bersedekap. Setelah ayat keempat surah Alkafirun dilantunkan Mbah Rosidi, ada jeda sekitar tiga detik sebelum seseorang di baris paling depan melanjutkan ayat berikutnya. Tentu dengan maksud mengingatkan Mbah Rosidi. Tetapi, Mbah Rosidi justru mengulang ayat ketiga hingga dua kali. […]

Ibu Tiga Kali

Cerpen Latif Nur Janah Bapak menghubungiku, dua hari yang lalu. Dari suaranya yang lambat, aku tahu ada sesuatu. Petang memang telah jatuh, namun matahari seperti tak mau berlabuh. Aku melihat wajah Bapak di antara semburat sinarnya yang terpantul di kisi-kisi kaca jendela kereta. Wajah itu membawa serta pilu. Lebih dari lima bulan, aku tak pulang. […]