Oleh: Hamidulloh Ibda
Pada Rabu, 25 Februari 2026, di Ruang Theater Fakultas Kedokteran Kampus 2 Unwahas, Semarang, saya berkesempatan menghadiri sidang ujian terbuka promosi doktor Ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah, Fakhruddin Karmani. Biasanya, saya pasti menulis berita ketika diundang resmi oleh rekan, kolega, sahabat, atau dosen saya di kampus.
Pada Ujian Terbuka Promosi Doktor pada Program Studi S3 Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang itu, Kang Fakhruddin menulis disertasi bertajuk “Integrasi Nilai-Nilai Islam Nusantara dalam Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan Profil Pelajar Rahmatan Lil ‘Alamin (P5PPRA) pada Kurikulum Merdeka Madrasah di Jawa Tengah” dan sudah dipertahankan di depan dewan penguji.
Dewan Penguji dalam sidang tersebut terdiri atas Ketua Sidang/Penguji (Dr. H. Iman Fadilah, S.H.I., M.SI), Sekretaris Sidang/Penguji (Dr. Ifada Retno Ekaningrum, M.Ag), Penguji/Promotor (Prof. Dr. H. Mahmudarroh HR, S.H., M.H), Penguji (Prof. H. Abu Hapsin, M.A., Ph.D), Penguji Eksternal (Prof. Dr. Muhammad Ali Ramdhani, S.TP., M.T), Penguji/Co-Promotor (Dr. Hj. Sari Hernawati, S.Ag., M.Pd), dan Penguji (Dr. H. Nur Cholid, M.Ag., M.Pd).
- Iklan -
Saya lanjutnya, terlepas dari proses sidang tersebut, saya mau mengkaji bahwa di era globalisasi yang makin deras lajut pertumbuhannya, madrasah dan sekolah kini dihadapkan pada tantangan tak ringan. Generasi Z hidup dalam dunia tanpa sekat, akrab dengan budaya populer global, medsos, TikTok, budaya tak jelas, namun sering kali berjarak dengan akar budayanya sendiri. Di ruang ini pendidikan termasuk Lembaga Pendidikan Ma’arif NU diuji. Lahir sebuah pertanyaan, mampukah ia membentuk generasi yang religius, toleran, dan tetap berakar pada identitas kebangsaan?
Saya kira, disertasi Kang Fakhruddin mencoba menjawab pertanyaan tersebut. Riset tersebut dilakukan pada empat sekolah dan madrasah di Jawa Tengah. Fakhruddin mengkaji satu gagasan penting, yaitu integrasi nilai-nilai Islam Nusantara dalam P5RA pada Kurikulum Merdeka.
Islam Nusantara dan Moderasi yang Membumi
Sudah lazim di kalangan nahdliyin soal Islam Nusantara. Bahkan ini menjadi program studi dan konsentrasi pada program doktoral. Intinya clear lah. Pada konteks tulisan ini, pada dasarnya Islam Nusantara bukan agama baru. Islam Nusantara merupakan manhaj, cara, metode, pendekatan berislam yang lahir dari dialog panjang antara ajaran Islam yang universal dengan budaya lokal Indonesia. Model ini sejak Muktamar ke-33 NU tahun 2015 dipopulerkan oleh Nahdlatul Ulama.
Apa saja cirinya? Di antara ciri utama Islam Nusantara terdiri atas toleransi (tasamuh), keseimbangan (tawazun), moderat (tawassut), musyawarah (syura), dan cinta tanah air (wathaniyyah). Values tersebut menjadi manifestasi bahwa agama Islam hadir sebagai rahmat bagi semua (rahmatallilalamin), tidak sekadar sebagai sumber ketegangan.
Di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk, banyak gagasan, konsep, rujukan kitab kuning, bahkan mazhab, pendekatan ini tentu sangat relevan. Pendekatan ini tak mengubah ajaran Islam, jelas lah ini, namun menerjemahkannya ke dalam bahasa budaya setempat yang lebih membumi yang sudah sudah dipraktikkan Walisongo ketika menyebarkan Islam ke tanah Jawa. Prinsipnya eksplisit, yaitu menjaga esensi, merawat konteks. Ngono!
Kurikulum Merdeka dan Ruang Penguatan Karakter
Kita sedikit ke belakang, dunia pendidikan menghadapi fenomena learning loss, pasca pandemi Covid-19, tak sekadar pada aspek akademik, namun juga karakter. Ini riil. Artinya, di sini pemerintah kemudian meluncurkan Kurikulum Merdeka sebagai ikhtiar pemulihan. Bahkan dari Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim hingga Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI Abdul Mu’ti, semua menggunakan Kurikulum Merdeka.
Di dalamnya terdapat Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) yang kini berubah menjadi 8 Dimensi Profil Lulusan dalam konteks Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) Kemendikdasmen. P5 menekankan enam dimensi utama: beriman dan bertakwa, berkebinekaan global, gotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif. Di lingkungan madrasah, konsep ini diperkaya menjadi P5RA atau Profil Pelajar Pancasila Rahmatan Lil ‘Alamin yang kini menjadi Panca Cinta sebagai lima pilar inti dalam Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) meliputi (1) Allah & Rasul-Nya(2) ilmu(3) diri & sesama(4) lingkungan, dan (5) tanah air, yang menambahkan dimensi moderasi beragama.
Islam Nusantara di sini menemukan relevansinya. Nilai tasamuh beririsan dengan kebinekaan global. Syura kompatibel dengan demokrasi dan gotong royong. Karakyer wathaniyyah menguatkan nasionalisme dalam bingkai Pancasila. Nah, tentu integrasi keduanya bukan sekadar mungkin, tetapi niscaya.
Riset Kang Fakhruddin mengambil lokasi di dua wilayah pedesaan dan dua wilayah perkotaan: SMA NU Kradenan dan MAN 1 Blora (pedesaan), serta SMK NU Ungaran dan MA NU Nurul Huda Mangkang (perkotaan). Di pedesaan, tantangan utama tentu tidak berupa globalisasi budaya, namun berbentuk problem internal keluarga dan religiusitas. Sebut saja di MAN 1 Blora, sebagian besar siswa berasal dari keluarga broken home. Integrasi nilai Islam Nusantara di sana bersifat rehabilitatif, yaitu menguatkan karakter melalui pembiasaan religius, pendekatan humanis, serta proyek berbasis kearifan lokal seperti sedekah bumi dan kesenian barongan.
Di SMA NU Kradenan, integrasi berlangsung secara sistemik. Tradisi tahlil, kendurenan, ziarah kubur, manakiban, hingga diskusi toleransi menjadi bagian dari pembelajaran dan budaya sekolah. Islam Nusantara bukan sekadar materi, melainkan identitas yang hidup.
Di wilayah perkotaan, ditemukan karakter berbeda lagi. Sebut saja di SMK NU Ungaran, integrasi bersifat preventif-transformatif. SMK NU Unggaran menggabungkan pendidikan vokasional dengan nilai moderasi, etika kerja, dan proyek ramah lingkungan seperti ecoprint dan daur ulang sampah. Tujuannya jelas, yaitu dalam rangka membentengi siswa dari sikap ekstrem sekaligus membekali kompetensi global.
Di MA NU Nurul Huda Mangkang, integrasi tampil dalam model kultural-institusional. Perayaan hari besar nasional dengan pakaian adat, pemilihan ketua organisasi siswa berbasis musyawarah, hingga proyek kreatif berbasis budaya menjadi wahana internalisasi nilai.
Empat Model, Satu Spirit
Dari penelitian tersebut, ditemukan empat model integrasi yang dijadikan novelty Kang Fakhruddin. Pertama, model kontekstual-ideologis (SMA NU Kradenan), yaitu Islam Nusantara sebagai kerangka nilai dasar. Kedua, model rehabilitatif-karakterologis (MAN 1 Blora), yaitu penguatan karakter religius sebagai respons atas problem sosial. Ketiga, model preventif-transformatif (SMK NU Ungaran), yaitu pencegahan intoleransi melalui pendidikan kompetensi dan etika kerja. Keempat, model kultural-institusional (MA NU Nurul Huda), yaitu Islam Nusantara sebagai budaya hidup madrasah.
Kebaruan ini mengungkap bahwa integrasi tidak bisa diseragamkan. Ia harus kontekstual, adaptif, dan berakar pada kebutuhan sosial masing-masing satuan pendidikan. Nah, tentu dalam kerangka ini, integrasi Islam Nusantara dalam Kurikulum Merdeka tak sebatas inovasi akademik. Ini merupakan strategi kebudayaan. Di satu sisi, ia memperkuat identitas kebangsaan dan moderasi beragama. Di sisi lain, ia menyiapkan generasi yang mampu bersaing secara global tanpa kehilangan jati diri.
Dalam dunia yang mudah terbelah ekstremisme dan polarisasi, bahkan kini marak kekerasan di media sosial dan lewat game digital, pendidikan yang membumi sekaligus terbuka menjadi kebutuhan mendesak. Madrasah dan sekolah utamanya Lembaga Pendidikan Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah tak sekadar tempat mentransfer ilmu, namun juga ruang menanam nilai.
Dalam konteks ini, Islam Nusantara tak sekadar romantisme klasik dan klise. Namun, ini menjadi sebuah tawaran masa depan soal bagaimana menjadi religius tanpa kehilangan toleransi, kearifan lokal, dan menjadi nasionalis tanpa menutup diri (ekslusif), dan menjadi modern tanpa tercerabut dari akar budaya. Kan keren. Bisa jadi juga dari ruang-ruang kelas di Jawa Tengah itulah, khususya dari Lembaga Pendidikan Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah, masa depan moderasi Indonesia sedang disemai dan digerakkan.
Adakah pendapat lain?



