Banyak hal aneh jika kita merenung saat menjalankan puasa Ramadhan kali ini. Indonesia, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, semestinya menjadikan bulan Ramadhan sebagai momentum perbaikan diri dan masyarakat.
Tapi, realitas menunjukkan, di tengah gempita ibadah, praktik kepalsuan malahan kian merajalela. Pemalsuan emas, sertifikat tanah, bahan bakar, sampai janji-janji politik sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial kita.
Ironi ini melahirkan pertanyaan mendalam: apakah puasa yang kita jalani betul-betul mendidik kita menjadi insan yang lebih baik, atau hanya menjadi ritual tahunan yang tak bermakna? Kalau di luar ibadah kita tetap terjebak dalam praktik kepalsuan, maka puasa yang kita jalani pun layak dipertanyakan maknanya.
- Iklan -
Pemalsuan dalam berbagai bentuk kian membuktikan bahwa integritas di negeri ini mengalami kemunduran serius. Data dari Kepolisian Republik Indonesia menunjukkan, sepanjang tahun 2023, terdapat lebih 3.200 kasus pemalsuan dokumen dan barang. Pemalsuan emas batangan Antam yang mengejutkan publik adalah bukti nyata bahwa kepercayaan terhadap institusi keuangan kian tergerus. Sertifikat ‘pagar laut’ juga palsu. Kalau uang dan ijazah, sudah banyak yang dipalsu. Bahkan, di tahun 2025 ini diketahui bahwa cadangan emas negara pun tidak luput dari praktik manipulasi.
Di sektor energi, pengoplosan Pertamax dengan bahan berkualitas rendah menjadi preseden buruk bagi layanan publik yang semestinya transparan dan terpercaya. Lahirlah Pertamax palsu. Masyarakat dipaksa membayar harga tinggi untuk bahan bakar yang kualitasnya sengaja diturunkan demi keuntungan segelintir pihak. Ini bukan cuma kejahatan ekonomi, namun juga penghianatan terhadap rakyat.
Lebih parah lagi, kepalsuan sudah menjangkau ranah politik. Janji-janji yang diberikan dalam kampanye acap kali tidak lebih dari retorika kosong. Pada Pilpres 2024, masyarakat berharap mendapatkan pemimpin baru dengan visi segar, tapi yang mereka dapatkan adalah pengulangan kekuasaan dalam bentuk dinasti politik yang kian mengakar. Demokrasi pun terasa seperti sandiwara, di mana pilihan rakyat cuma menjadi formalitas tanpa esensi.
Di tengah maraknya kepalsuan itu, tepat di saat puasa Ramadhan ini, layak kita introspeksi bahwa puasa dalam Islam bukan cuma soal menahan diri dari makan dan minum, namun juga menahan diri dari semua bentuk keburukan, termasuk kebohongan dan kepalsuan. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 183 bahwa tujuan utama puasa adalah membentuk manusia yang bertakwa. Tapi, mengapa takwa yang semestinya tumbuh dari ibadah ini tidak sanggup mengikis praktik kepalsuan yang terus menjalar di masyarakat?
Esensi puasa adalah kejujuran: jujur kepada diri sendiri dan kepada Tuhan. Kalau seseorang berpuasa namun tetap berbohong, menipu, atau membiarkan kebohongan merajalela, maka puasanya hanyalah ibadah kosong. Ramadhan semestinya menjadi momentum untuk mempertanyakan apakah kita masih terjebak dalam kepalsuan. Apakah infak dan sedekah yang kita berikan betul-betul tulus atau hanya pencitraan? Apakah ceramah agama yang disampaikan di masjid-masjid berbicara tentang kebenaran atau malahan dipenuhi retorika yang melayani kepentingan tertentu? Kalau semua itu cuma pura-pura, maka Ramadhan kita pun hanyalah panggung sandiwara.
Untuk mengakhiri siklus kepalsuan yang terus berulang, kita membutuhkan revolusi moral yang dimulai dari individu sampai level kebijakan negara. Sejumlah langkah konkret yang bisa kita lakukan antara lain:
Pertama, meningkatkan kesadaran akan pentingnya kejujuran. Setiap individu mesti menjadikan kejujuran sebagai prinsip hidup yang tak tergoyahkan. Pendidikan sejak dini perlu lebih menekankan pentingnya integritas ketimbang cuma mengejar nilai akademik.
Kedua, mengembangkan keberanian sosial. Budaya diam terhadap kepalsuan perlu diubah. Masyarakat mesti berani menegur, mengkritisi, dan melaporkan praktik pemalsuan yang merugikan orang banyak. Ketakutan untuk berbicara cuma akan memperpanjang kebohongan.
Ketiga, menjadikan puasa sebagai sarana evaluasi diri. Jangan cuma menjadikan puasa sebagai kebiasaan tahunan. Jadikan ia sebagai alat introspeksi sejati: apakah ibadah yang kita jalani selama ini betul-betul mengubah kita menjadi pribadi yang lebih baik?
Keempat, menuntut pemerintah bertindak tegas. Regulasi yang lebih ketat dan penegakan hukum yang adil terhadap praktik kepalsuan perlu menjadi prioritas. Tidak boleh ada tebang pilih dalam pemberantasan kejahatan, terutama kalau itu menyangkut kepentingan publik.
Akhirnya, marilah kita mewujudkan bangsa yang jujur dan bermartabat. Bagaimanapun, maraknya kepalsuan di Indonesia adalah bukti nyata bahwa kita mengalami krisis moral yang mendalam. Kalau kita mau keluar dari lingkaran setan ini, maka kita mesti mulai dari diri sendiri. Puasa yang sejati adalah puasa yang membentuk kepribadian yang lebih jujur dan berintegritas, bukan cumaa menahan lapar dan haus. Kalau kita tetap membiarkan kebohongan merajalela, maka jangan heran jika suatu saat nanti keimanan kita pun cuma menjadi simbol tanpa makna alias keimanan palsu.
Sadarilah, Ramadhan adalah bulan di mana kita semestinya berupaya membersihkan hati, bukan cuma dengan ibadah formal, namun juga dengan keberanian melawan kebohongan yang sudah mengakar dalam sistem. Kalau kita tidak bergerak mulai kini, maka jangan kaget jika kepalsuan ini suatu saat akan menjadi identitas bangsa yang sukar diubah. Janganlah akhirnya kita jadi bangsa palsu!
*) Dr. Hendrizal, S.IP., M.Pd. adalah dosen Prodi S2 Pendidikan Dasar-PGSD FKIP Universitas Bung Hatta (UBH) Padang; penasihat Pondok Sinau Plikon (PSP) Magelang.



