Oleh: Gunoto Saparie
Sejak kecil, aku selalu merasa bulan Rabi’ul Awal datang seperti angin semilir yang membawa sesuatu yang tak tampak, tetapi terasa di dada. Di kampungku, sebuah desa kecil yang terletak jauh dari hiruk-pikuk kota, bulan itu tidak pernah lewat tanpa meninggalkan aroma harum bunga kenanga dan suara rebana yang terdengar dari kejauhan. Orang-orang di sini menyebutnya bulan Maulid. Bulan kelahiran Rasulullah. Bulan ketika rumah-rumah dibersihkan, sajadah-sajadah dijemur, dan ibu-ibu menyiapkan kue apem serta nagasari sebagai suguhan sederhana.
Dulu, ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar, aku sering berdiri di serambi rumah sambil memandangi rombongan bapak-bapak yang berjalan menuju langgar. Mereka membawa rebana yang dibungkus kain panjang, sementara dari kejauhan terdengar pula suara latihan shalawat dari kelompok remaja masjid. Kampungku selalu semarak di bulan itu, tetapi semarak yang tidak bising, justru semarak yang menenteramkan hati.
Namun tahun ini berbeda. Aku kembali ke kampung setelah bertahun-tahun merantau di kota. Usia ibu semakin senja, menyusul ayah yang telah lama pergi. Aku juga kembali membawa kegelisahan yang selama ini tak pernah kusebutkan pada siapa pun: rasa jauh dari rumah, bukan sekadar rumah fisik, tetapi juga rumah batin: rumah nilai dan tradisi yang dulu pernah kupeluk erat, namun kemudian kutinggalkan pelan-pelan.
- Iklan -
Ketika kereta berhenti di stasiun kecil itu, udara lembap menerpa wajahku, mengingatkan pada masa bocah. Jalan menuju kampung tampak sama, hanya beberapa rumah baru berdiri, menggeser halaman kosong tempat kami dulu bermain gobak sodor. Senja sedang meluruh, dan dari langgar kecil di dekat tikungan, terdengar suara anak-anak membaca sesuatu dengan lantang: suara yang kukenal sejak dulu: lantunan Barzanji.
Aku tersenyum lirih. Rupanya tradisi itu belum padam.
Malam itu, setelah makan malam, ibu duduk di ruang tengah sambil merapikan toples-toples kue. Tangan tuanya masih lincah, seolah waktu belum sepenuhnya sempat singgah di sana.
“Besok malam Rabu,” katanya sambil menatapku lembut. “Ada barjanjen di rumah Mbah Saini. Kau ikut?”
Pertanyaan itu terasa seperti tangan lembut yang mengetuk pintu hatiku. Sudah puluhan tahun aku tidak ikut membaca Kitab Al-Barzanji. Di kota, suara yang mendominasi adalah suara mesin, klakson, dan notifikasi ponsel. Tak ada rebana, tak ada harum bunga kenanga, tak ada denting sendok aluminium yang beradu ketika ibu-ibu menyiapkan minuman panas untuk para jamaah.
“Sudah lama sekali aku tidak ikut membaca Barzanji, Bu,” jawabku pelan.
Ibu tersenyum, seolah sudah menduga jawabanku. “Justru itu. Pulang ke kampung, pulang juga pada yang dulu pernah membuatmu tenang.”
Aku tidak menjawab. Hanya memandangi dinding ruang tengah yang dihiasi foto hitam putih ayah ketika masih muda, berdiri di samping ayunan tempat aku dulu sering ditidurkan.
Malam semakin larut. Suara jangkrik terdengar berulang-ulang seperti doa panjang yang tak putus. Di luar, sinar bulan merayap ke jendela, membentuk garis putih di lantai rumah. Aku berbaring, tetapi pikiranku melayang pada kehidupan yang kutinggalkan di kota, pekerjaan yang tak lagi memberi ruang bagi napas, ambisi yang justru membawaku jauh dari diri sendiri.
Mungkin benar kata ibu: pulang tidak sekadar pulang pada rumah, tetapi pulang pada hal-hal yang pernah membentuk hati.
Keesokan harinya, udara pagi dipenuhi aroma rerumputan basah. Anak-anak kecil berlarian sambil membawa buku Iqra’, ibu-ibu menyapu halaman rumah, dan suara ayam jago bersahut-sahutan dari kejauhan. Aku membantu ibu menyiapkan kue-kue untuk besok malam. Dalam diam, aku menikmati tiap gerakan sederhana itu: memotong daun pisang, mencuci beras ketan, mencium aroma pandan dari dapur. Ada sesuatu yang menenangkan ketika tangan sibuk bekerja tanpa perlu memikirkan apa pun selain yang ada di depan mata.
Menjelang sore, aku pergi ke rumah Mbah Saini untuk membantu menata tikar. Rumah itu masih sama seperti dulu, dengan dinding kayu berwarna cokelat tua, jendela besar yang selalu terbuka, dan halaman yang dipenuhi bunga kembang sepatu merah. Mbah Saini duduk di kursi bambu, mengenakan kerudung sederhana. Ia tersenyum ketika melihatku.
“Lho, Nduk… pulang? Sudah lama sekali,” katanya sambil menepuk tanganku.
Aku duduk di sampingnya. “Iya, Mbah. Kangen suasana kampung.”
“Bagus. Orang kalau terlalu lama jauh dari tanahnya, hatinya bisa kering. Tradisi di kampung ini bukan sekadar kebiasaan, tapi pegangan hidup.”
Aku hanya mengangguk. Ada sesuatu yang menghujam di dada ketika mendengarnya.
Malam pun datang. Lampu-lampu neon di halaman rumah Mbah Saini memancarkan cahaya kekuningan yang lembut. Orang-orang berdatangan, menyalami satu sama lain dengan salam hangat. Di serambi rumah, rebana sudah disusun rapi, Kitab Al-Barzanji dibagikan.
Aku duduk di antara para jamaah, kebanyakan orang tua, beberapa pemuda, dan beberapa ibu-ibu yang membawa anak kecil. Ketika suara pembacaan Al-Barzanji dimulai, suasana berubah menjadi hening yang khidmat. Lantunan awal itu begitu akrab: puji-pujian atas Nabi Muhammad, dengan bahasa yang indah dan ritme yang mengalun pelan.
Kitab Al-Barzanji selalu dimulai dengan penyebutan silsilah Nabi, kisah kelahirannya, masa kecilnya, hingga saat beliau diangkat menjadi Rasul. Setiap bait diucapkan dengan suara merdu, diiringi rebana yang dipukul perlahan. Aku memejamkan mata, merasakan ritme itu meresap ke dalam dada.
Di luar, angin malam membawa aroma bunga kenanga yang diletakkan di sudut ruangan. Aku merasa seolah kembali menjadi anak kecil yang duduk bersila, memegang kitab lusuh sambil meniru suara orang-orang dewasa.
Namun kini rasanya berbeda. Ada jarak waktu yang panjang, bertahun-tahun, antara aku dan tradisi ini. Jarang sekali aku mengingatnya, bahkan sempat menganggapnya hanya ritual tanpa makna. Tetapi malam ini, mendengarnya kembali, aku justru merasa segala hal sederhana yang dulu kupelajari ini memiliki makna yang jauh lebih dalam.
“Ya Nabi salam ‘alaika…”
Suara jamaah bergema, lembut namun penuh cinta.
Aku menoleh pada wajah-wajah di sekitarku. Mereka menyanyikannya dengan ketulusan yang tak dibuat-buat. Tidak memikirkan pendapat orang, tidak memperhatikan perdebatan panjang tentang bid’ah atau tidak. Mereka melakukannya karena cinta, karena menghormati Nabi yang menjadi teladan bagi hidup mereka.
Ada yang tiba-tiba perih di dadaku, seperti sesuatu yang baru kusadari setelah lama terpendam. Aku menunduk, menahan air mata yang hampir jatuh.
Selesai acara, orang-orang mulai pulang. Namun aku tetap duduk di serambi, memandangi halaman yang diterangi cahaya bulan. Mbah Saini menghampiriku pelan-pelan.
“Kok tidak pulang, Nduk?” tanyanya.
Aku tersenyum kecil. “Masih ingin di sini, Mbah. Rasanya nyaman.”
Ia duduk di sampingku. “Kau sedang mencari sesuatu, ya?”
Pertanyaan itu membuatku tercekat. “Entahlah, Mbah. Aku merasa hidupku di kota… seperti berjalan cepat, tapi tidak ke mana-mana. Ada yang hilang.”
Mbah Saini mengangguk pelan, seperti sudah sering mendengar keluhan serupa.
“Manusia sering terjebak pada apa yang mereka kira penting, padahal yang paling penting justru hal-hal yang membuat hati tenang.”
Ia menunjuk Kitab Al-Barzanji yang tergeletak di meja kecil.
“Tradisi ini bukan sekadar bacaan. Ini cara kami menjaga ingatan, menjaga cinta pada Nabi, dan menjaga diri agar tidak hilang arah.”
Aku diam, meresapi kata-katanya.
“Banyak yang bilang ini bid’ah, ini tidak ada di zaman Nabi,” lanjutnya. “Tapi bagi kami, ini adalah ungkapan rindu. Tidak semua hal perlu diperdebatkan. Kadang-kadang manusia hanya perlu tempat untuk pulang.”
Aku memandang wajahnya yang penuh keriput tetapi tampak damai. Tidak ada kegelisahan seperti yang sering kulihat pada wajah orang-orang di kota. Tidak ada aroma ambisi atau ketergesaan. Hanya keikhlasan yang dalam.
Malam itu, aku pulang dengan hati yang lebih ringan.
Hari-hari berikutnya, kampung tampak semakin hidup. Setiap malam, suara shalawat terdengar dari langgar. Anak-anak berlatih rebana, sementara ibu-ibu menyiapkan hidangan sederhana untuk para jamaah. Aku membantu di mana bisa: mengantar kue, membersihkan tikar, atau sekadar menemani ibu duduk di beranda sambil memandangi bulan yang menggantung rendah.
Suatu malam, hujan rintik-rintik turun. Langgar masih ramai. Aku duduk di sana, mendengarkan cerita Ustaz Rahmad tentang sejarah Kitab Al-Barzanji. Ia menjelaskan bagaimana kitab itu ditulis oleh Syekh Ja’far al-Barzanji, seorang ulama dari Madinah, berabad-abad lalu. Cerita itu mengalir dengan tenang, seolah menghubungkan masa lalu dan masa kini dalam satu garis panjang yang tidak terputus.
Aku merasa kecil, namun juga merasa menjadi bagian dari sesuatu yang besar.
Pada malam terakhir rangkaian Maulid, setelah jamaah bubar, aku berjalan sendirian menyusuri jalan kampung. Udara malam membawa aroma tanah basah. Lampu-lampu rumah dipadamkan satu per satu. Hanya suara sungai kecil yang terdengar samar dari kejauhan.
Tiba-tiba aku memahami sesuatu: selama ini aku mengejar banyak hal, tetapi melupakan akar. Melupakan nilai-nilai yang dulu membuatku merasa aman. Melupakan betapa indahnya tradisi yang diwariskan turun-temurun ini, tradisi yang bukan tentang benar atau salah semata, tetapi tentang cinta dan keteladanan.
Di ujung jalan, aku menatap langgar kecil yang masih menyisakan cahaya dari jendela. Dalam hati aku berkata, “Mungkin pulang memang cara Tuhan memanggilku untuk kembali pada yang penting.”
Aku menarik napas panjang, membiarkan udara malam memenuhi dadaku.
Mungkin esok aku tetap akan kembali ke kota. Pekerjaan menunggu, tanggung jawab menuntut. Tapi kini aku membawa pulang sesuatu yang baru, atau mungkin justru sesuatu yang lama, yang kutinggalkan begitu saja dulu: rasa damai ketika mendengar shalawat, rasa akrab pada lantunan Barzanji, dan rasa bahwa tradisi bukan sekadar ritual, melainkan jalan yang menyambungkan manusia dengan akarnya.
Tiba-tiba aku mengerti apa yang dimaksud ibu saat berkata bahwa pulang juga berarti pulang pada diri sendiri.
Taman Karonsih, Semarang, 2025.




