Oleh Dian Marta Wijayanti
Ya, awalnya memang ingin dekat dari rumah. Alhamdulillah, ajuan saya dikabulkan. Saya akhirnya dimutasi dari SD Negeri Gajahmungkur 03 Kota Semarang ke SD Negeri Patemon 02 Gunungpati, Kota Semarang. Apakah enak? Ya, tidak juga.
Sebab, saya harus banyak membenahi aspek-aspek yang kurang. Termasuk, hal-hal receh seperti Google Maps SD Negeri Patemon 02 awalnya tidak ada, dicari pun tak ketemu. Setelah saya ke sana, saya buatkan akhirnya bisa dicari di Google Maps dengan kata kunci SD Negeri Patemon 02. Unik memang!
Bagi saya, mutasi jabatan kepala sekolah merupakan bagian tak terpisahkan dari dinamika manajemen pendidikan. Ia bukan sekadar perpindahan administratif, melainkan momentum strategis yang menentukan arah baru sebuah satuan pendidikan. Hal inilah yang tercermin dalam mutasi saya, dari Kepala SD Negeri Gajahmungkur 03 Kota Semarang menjadi Kepala SD Negeri Patemon 02, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.
- Iklan -
Penugasan tersebut ditetapkan melalui Keputusan Wali Kota Semarang Nomor P/1426/800.1.3.3/XII/2025 tertanggal 1 Desember 2025 dan dilantik secara resmi pada 11 Desember 2025 di Balaikota Semarang. Peristiwa ini menjadi contoh konkret bagaimana seorang kepala sekolah memaknai mutasi bukan sebagai “akhir”, melainkan sebagai awal pengabdian yang lebih luas.
Strategi Tepat
Lalu, apa strategi yang tepat bagi kepala sekolah ketika dimutasi? Pertama, memahami mutasi sebagai amanah, bukan sekadar rotasi. Strategi pertama adalah mengubah cara pandang. Mutasi harus dipahami sebagai amanah kepemimpinan dan bentuk kepercayaan institusi. Saya pribadi terus menegaskan bahwa jabatan kepala sekolah bukan posisi struktural semata, melainkan ruang pengabdian untuk memastikan setiap anak mendapatkan layanan pendidikan yang bermutu, aman, dan berpihak pada tumbuh kembang karakter. Cara pandang ini penting agar kepala sekolah tidak terjebak pada perasaan “dipindahkan”, tetapi justru terdorong untuk memberi makna pada tempat tugas yang baru.
Kedua, membaca konteks sekolah tujuan secara mendalam. Setiap sekolah memiliki ekosistem unik: karakter peserta didik, budaya kerja guru, peran orang tua, dan dukungan lingkungan. Strategi krusial saat mutasi adalah melakukan pemetaan awal (school diagnosis). Kepala sekolah perlu mendengar lebih banyak, mengamati dengan jernih, dan menahan diri untuk tidak langsung “menghakimi” kondisi sekolah. Di SD Negeri Patemon 02, misalnya, tantangan dan potensinya tentu berbeda dengan SD Negeri Gajahmungkur 03. Kepekaan membaca konteks inilah yang menjadi fondasi kepemimpinan yang efektif.
Ketiga, melanjutkan yang baik, menguatkan yang perlu. Kesalahan umum kepala sekolah baru adalah keinginan untuk segera mengganti semua kebijakan lama. Padahal, strategi yang bijak adalah melanjutkan program-program baik yang sudah berjalan, lalu memperkuatnya secara bertahap.
Saya memiliki komitmen untuk melanjutkan sekaligus menguatkan program strategis, seperti penguatan literasi dan numerasi, pendidikan karakter, serta peningkatan peran keluarga dalam pendidikan. Pendekatan ini mencerminkan kepemimpinan yang menghargai kesinambungan, bukan sekadar perubahan simbolik.
Keempat, membangun kepercayaan melalui komunikasi humanis. Di lingkungan SD Negeri Patemon 02 mayoritas Nahdliyin. Di sini, saya mencoba mendudukkan beragam tokoh masyarakat, komite untuk mendukung kesuksesan pendidikan dan pembelajaran di sana.
Umumnya, mutase memang sering kali diikuti dengan resistensi laten, baik dari guru, tenaga kependidikan, maupun orang tua. Karena itu, strategi kunci berikutnya adalah membangun kepercayaan (trust building). Kepala sekolah perlu hadir sebagai pemimpin yang komunikatif, terbuka, dan humanis.
Penekanan saya pada kolaborasi antara guru, tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat menunjukkan bahwa keberhasilan sekolah tidak mungkin dicapai secara individual. Komunikasi intensif, dialog yang setara, dan keteladanan sikap menjadi instrumen kepemimpinan yang efektif.
Kelima, menyeimbangkan administrasi dan kepemimpinan pembelajaran. Dalam konteks mutasi, kepala sekolah kerap “tersedot” pada penyesuaian administratif. Padahal, strategi jangka panjang justru terletak pada kepemimpinan pembelajaran (instructional leadership). Administrasi penting, tetapi tidak boleh mengaburkan fokus utama: kualitas proses belajar-mengajar.
Komitmen kepala sekolah untuk membangun ekosistem pembelajaran yang humanis dan berkelanjutan menunjukkan kesadaran bahwa kepala sekolah adalah pemimpin pembelajaran, bukan sekadar manajer dokumen.
Keenam, menjadikan mutasi sebagai momentum inovasi. Mutasi memberi ruang refleksi dan pembaruan. Kepala sekolah dapat membawa praktik baik dari sekolah lama, lalu menyesuaikannya dengan kebutuhan sekolah baru. Inovasi tidak selalu berarti program besar, tetapi bisa berupa perbaikan kecil yang konsisten dan berdampak.
Dengan latar belakang akademik dan pengalaman kepemimpinan yang dimiliki, saya berharap mampu membawa SD Negeri Patemon 02 menjadi sekolah yang adaptif, inklusif, dan berorientasi masa depan.
Strategi menjadi kepala sekolah saat dimutasi pada dasarnya adalah strategi mengelola diri, relasi, dan visi. Mutasi menguji kedewasaan kepemimpinan: sejauh mana seorang kepala sekolah mampu melepaskan ego, membangun kepercayaan, dan menata harapan baru.
Belajar dari mutasi saya pribadi, jelas bahwa mutasi bukanlah penurunan atau penggeseran peran, melainkan perluasan ladang pengabdian. Ketika dimaknai dengan benar, mutasi justru menjadi titik tolak lahirnya kepemimpinan sekolah yang lebih matang, humanis, dan berdampak nyata bagi masa depan pendidikan.
-Dr. Dian Marta Wijayanti, M.Pd., Kepala SD Negeri Patemon 02 Gunungpati, Kota Semarang.



