*) Oleh: Tjahjono Widarmanto
/1/
Belajar hidup dari kehidupan merupakan hal terbesar pembelajaran manusia. Tidak berlebihan maka jika melalui karya sastra dapat kita jadikan jembatan untuk memahami manusia dan kemanusiaan. Eksistensi manusia dan naluri kemanusiaannya dapat kita pahami dari realitas tokoh-tokoh dalam karya.
Tema manusia dan kemanusiaan dalam perjalanan sastra Indonesia memiliki jejak yang tidak terbilang. Siti Nurbaya mewariskan jejak manusia yang terpasung adat sehingga menerbitkan cermin kritis untuk dimaknai ulang dalam konteks mutakhir. Narasi-narasi Pramudya Ananta Toer, Bumi Manusia, Rumah Kaca, Jejak Langkah, dan cerita lainnya menyuguhkan bagaimana potret derita manusia dalam pagutan sejarah yang tidak menguntungkan. A. Teeuw dalam konteks cerita Pram, sampai-sampai bersusah payah mencitrakan manusia Indonesia dalam “dunia imajinasi” Pramudya.
- Iklan -
Para Priyayi dan Jalan Menikung mengajak kita untuk membaca dunia manusia priyayi yang tidak linier dalam mimpi priyayi Jawa. Sebaliknya, jalan menikung dalam bentangan jalan kehidupan modern.
Linus Suryadi AG di tahun 80-an lewat Pengakuan Pariyem secara sensasional juga memotret bagaimana dunia “manusia alit” yang terhegemoni “dunia manusia besar”. Sebuah bidikan sensitif pada saat itu yang menimbulkan polemik. Potret kemanusian yang “memprihatinkan” karena kebesaran dan kebanggaan hati Pariyem yang teraliri dunia besar meski dalam bentuknya yang tidak “manusiawi”.
Setelah dunia fiksi tertidur tengah 80-an sampai awal 90-an, kehidupan sastra dihentakkan oleh Ayu Utami dengan Saman-nya. Sisi kemanusiaan yang terluka oleh kebiadaban sejarah kembali terekam. Corong hak asasi manusia dan eksistensi kemanusiaan seakan memuncak dan menerbitkan kesadaran baru (seakan-akan). Gerakan kemanusiaan yang dipelopori oleh aktivis perempuan menabrak berbagai logika kemanusiaan (hierarkhis laki-perempuan yang mapan). Inspirasi Ayu Utami itu menumbuhkan aura kemanusiaan (kewanitaan) yang jauh lebih “merdeka” dalam segala sisi pada karya-karya fiksi pengikutnya.
Sisi manusia dan kemanusiaan terus mengalami penajaman dalam teks-teks sastra Indonesia. Dalam khazanah puisi bahkan aroma kemanusiaan nyaris tak luput dalam segala dimensi karya para penyair kita. Dalam sejarah perjalanan perpuisian Indonesia tentunya. Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, misalnya, karya Taufik Ismail, menggambarkan sisi-sisi kemanusiaan yang tajam sebagai korban penguasaan bangsa yang tidak berbudaya. Sampai-sampai penyair, merasa malu atas kemanusiaannya. Sebuah refleksi perjalanan kemanusiaan Indonesia sepanjang sejarah kepenyairannya.
Hamid Jabbar demikian juga. Dia memotret manusia dalam pagutan ke-Indonesiaan dalam Indonesiaku (2005) yang menyentakkan demikian pilunya Indonesia. Hakikat manusia yang terkurung dalam ketidakbebasannya sehingga genre puisi protes sosial yang berbau parodi alir dalam puisinya. Puisi Proklamasi 2, misalnya, adalah bukti hakikat kemanusiaan penyair yang tertindas (paling tidak, tidak terlayani) oleh bangsa besar bernama Indonesia.
Di sinilah, maka hal-hal itu mengingatkan kita akan makna sosiologi sastra dalam kajian penemuan hakikat manusia dan kemanusiaan dalam pembelajaran sastra. Sebuah upaya penanaman kemanusiaan melalui pembelajaran dengan materi karya sastra. Sebab realitas sosial dalam pandangan sosiologi sastra merupakan musabab lahirnya sebuah karya sastra. Ignas Kleden, berpandangan bahwa hubungan kausalitas itu sedemikian kuat sehingga teks sastra tidak lain adalah refleksi (superstruktur) dari struktur sosial di mana seorang pengarang menghasilkan karyanya. Georg Lukacs dalam Ignas Kleden mengungkapkan bahwa fungsi refleksi-imaji karya sastra dapat berperanan sebagai pantulan kembali dari situasi masyarakatnya (Wiederspiegelung), baik menjadi semacam salinan atau kopi (Abbild) suatu struktur sosial, maupun menjadi tiruan atau mimesis (Nachahmung) masyarakat. Refleksi ini dengan sendirinya, bukan sekadar reproduksi suatu realitas sosial menurut berbagai kesan yang masuk dari luar ke dalam persepsi tetapi juga mengandung respons dan reaksi aktif terhadap impresi tersebut. Tak berlebihan jika kemudian pembelajaran sastra dipandang mampu dimanfaatkan untuk memahami hakikat manusia dan kemanusiaan kepada para siswanya.
/2/
Selanjutnya, dalam pembelajaran sastra untuk mendekatkan makna di balik teks sastra, kita kenal beberapa pendekatan sastra. Beberapa pendekatan itu diantaranya: (a) pendekatan sosiologi, (b) pendekatan historis, (c) pendekatan antropologi, (d) pendekatan mitopoik, dan (e) pendekatan psikologis. Kelima pendekatan ini efektif untuk menemukan hakikat manusia dan kemanusiaan dalam karya sastra.
Pendekatan sosiologi akan menyadarkan kita pada hakikat manusia sebagai makhluk sosial di satu sisi dan pada sisi lain bagaimana menjadi manusia yang baik secara sosial. Secara historis, pendekatan ini akan menawarkan bagaimana karya itu lahir sehingga proses kejadian teks sastra itu dapat dijejaki. Sebuah jejak kemanusiaan yang mengalir dalam karya sastra. Sebab, dalam logika karya biasanya selalu diawali oleh realitas empirik yang menyentuh emosi dan hati sastrawannya. Karya yang demikian dengan sendirinya mengalirkan kodrat kemanusiaan secara tidak langsung di dalamnya.
Dari pendekatan psikologis mengingatkan kita bahwa karya sastra juga mengajarkan bagaimana pentingnya kita memahami karakter tokoh berikut kompleksitas kejiwaannya. Orang lain dan diri kita. Dengan begitu, membaca tokoh-tokoh dalam teks sastra sesungguhnya adalah bersahabat dan bersosial dengan kehidupan itu sendiri. Di situlah kemudian kita dapat menemukan keragaman karakter jiwa manusia.
Sedangkan, pendekatan mitopoik menuntun kita bahwa di dalam teks sastra itu menyiratkan mitos-mitos sosial. Karya sastra tidak terlepas dari mitos-mitos itu yang sudah menjadi bagian dari kehidupan manusia secara makro. Dengan begitu, maka mitos-mitos itu biasanya menggerakkan para tokohnya. Membaca cerpen Pistol Perdamaian Kuntowijoyo, contohnya, mengingatkan bagaimana tradisi mitologis Jawa kental di dalamnya.
Pendekatan antropologis akan menyadarkan bahwa secara antopologis teks sastra itu menyimpan jejak-jejak antropologis yang magis. Novel Nukila Amal berjudul Calai Ibi karena itu kuat dengan jejak antropologi yang dapat disisir. Semua itu, dapat dijadikan bahan penelusuran makna kemanusiaan yang dapat didekatkan dalam pembelajaran sastra.
Berangkat dari pendekatan-pendekatan itu maka dengan karya sastra kita dapat (a) memperkaya mental-batin, (b) memahami manusia dalam keragaman, (c) memahami latar sosial, (d) menyadarkan akan eksistensi manusia, (e) menumbuhkan jiwa kemanusiaan, (f) membangun kultur relijius, (g) menggetarkan segala roh gerak yang bermuara pada kebaikan. Alangkah indahnya jika pembelajaran sastra di sekolah mampu memerankan fungsi penting ini.
/3/
Bagaimana memahami hakikat manusia dan kemanusiaan dalam sastra? Karya sastra kental dengan nilai kemanusiaan, dan karena itu, dapat dimanfaatkan untuk menanamkan nilai kemanusiaan. Bagaimana caranya? Salah satu caranya adalah dengan memanfaatkan pendekatan cinta. Pendekatan cinta ini memang tidak lazim dalam pembelajaran sastra di sekolah. Jika kita mau kreatif logika bisa dipikirkan begini. Jika pendekatan sosiologi sastra dimaksudkan untuk menemukan nilai sosial kemasyarakatan maka pendekatan cinta pun dapat dimaksudkan untuk menemukan nilai cinta (cinta lawan jenis, cinta ketuhanan, cinta kemanusiaan, dan cinta keluarga) dalam teks sastra.
Untuk ini maka dapatlah diusulkan bagaimana pentingnya pendekatan cinta ini dalam pembelajaran sastra. Paling tidak hal itu kemudian dapat dioptimalkan untuk menemukan hakikat manusia dan kemanusiaan di balik karya sastra. Pendekatan ini, tentunya dapat dimanfaatkan untuk menemukan hakikat manusia dan kemanusiaan di balik tali kehidupan (cinta).
Harus diakui, dalam konteks perjalanan sastra Indonesia tidak dapat dipisahkan dari persoalan cinta ini. Siti Nurbaya, Belenggu, Layar Terkembang, Harimau-Harimau, Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, Pengakuan Pariyem, Tarian Bumi, Dwilogi Saman, sampai Calaibi. Dimensi cinta dikemas sastrawan dalam beragam bingkai seperti sosial-psikologis, antropologis, agama, adat, mitologis, dan seterusnya. Di sinilah, maka pembaca dapat menemukan makna cinta kemanusiaan itu ke dalam konteks makro kehidupan sosial kemasyarakatannya.
Hakikat manusia yang tidak dapat terlepas dari kaitannya dengan naluri cinta dengan lawan jenis maka melalui karya sastra tentunya dapat dimanfaatkan untuk menggiring pembacanya menemukan hakikat cinta manusia secara benar. Artinya, bagaimana sifat cinta yang menggerakkan bukan melumpuhkan. Sebuah energi terbesar manusia yang dapat dipindahkan dalam berbagai kepentingan kehidupan.
Marilah kita ambil contoh puisi Surat Cinta dalam Empat Kumpulan Sajak karya WS Rendra. Pada puisi itu tampak begitu romantis yang cocok untuk diajarkan kepada para remaja. Dibungkus dengan aroma gaya bahasa yang kuat, permainan bunyi yang rapi, dan metafora yang mempesona. Meskipun dalam larik terakhir bait pertama puisi Surat Cinta begitu lugas (aku cinta kepadamu!), tetapi puisi itu diawali dengan larik-larik yang kental permainan bunyi berikut penggunaan gaya bahasa personifikasi dan asosiasi di dalamnya: //Kutulis surat cinta ini/ kala hujan gerimis/ bagai tambur mainan/ anak-anak peri dunia yang gaib./ Dan angin mendesah/ mengeluh dan mendesah./ Wahai, Dik Narti,/
Bait kedua, Rendra menggunakan gaya personifikasi dan dan asosiasi untuk melukiskan citraan visual (latar peristiwa yang mempesona): /kala langit menangis/ dan dua ekor belibis/ bercintaan dalam kolam/ bagai dua anak nakal/ jenaka dan manis/ mengibaskan ekor/ serta menggetarkan bulu-bulunya/ mempertajam peristiwa romantik yang dialami aku lirik dalam puisi ini.
Cinta dalam bait ketiga, dipersonifikasi-asosiasikan sebagai makhuk hidup yang memiliki kaki-kaki yang tegas seperti logam berat gemerlapan (hal. 13): //Kaki-kaki hujan yang runcing/ menyentuhkan ujungnya di bumi./ Kaki-kaki cinta yang tegas/ bagai logam berat gemerlapan/ menempuh ke muka/ dan tak ‘kan kunjung diundurkan.// Kutipan bait ini, menggambarkan bagaimana kekohonan cinta si aku liris bagaikan berkaki kokoh dengan memancarkan banyak pesona (metaforis: logam berat gemerlapan). Di sinilah maka, metafor cinta yang memiliki daya gerak seperti mengalirkan derap tempuh ke muka yang tak kenal kata tunda.
Bait keenam, metaforik-hiperbolistik bagaimana kekuatan cinta yang mengalirkan semangat kehidupan yang kuat mampu mengirimkan berjuta jarum ke langit sehingga melahirkan hujan sebagai pertanda restu sang langit yang wingit: //Semangat kehidupan yang kuat/ bagai berjuta-juta jarum alit/ menusuki kulit langit:/ kantong rejeki dan restu wingit./ Lalu tumpahlah gerimis./Angin dan cinta/ mendesah dalam gerimis./ Semangat cintaku yang kuat/ bagai seribu tangan gaib/ menyebarkan seribu jarring/ menyergap hatimu/ yang selalu tersenyum padaku.//
Kekuatan cinta yang oleh Rendra diungkapkan dengan larik-larik hiperbolisme. Pesan pentingnya adalah bahwa begitu dahsyatnya kekuatan cinta sehingga dalam kehidupan realitas kita sering kali cinta menjadi pemicu dahsyat tragedi social: pembunuhan, pemerkosaan, korupsi dan lain sebagainya. Dengan begitu, maka penting disadari bahwa cinta (boleh jadi) memang bermata dua. Tidak heran, jika orang yang sedang jatuh cinta mau dan mampu melakukan apa pun untuk sang pujaan.
Dengan begitu, kekuatan cinta dalam konteks kemanusiaan remaja dapat dioreantasikan untuk menyadarkan remaja (a) pada kekuatan cinta yang luar biasa, (b) cinta dapat menggerakkan karena memberikan daya gugah, (c) cinta memberikan inspirasi pada kelangsungan hidup di masa depan, dan (d) cinta bukanlah sesuatu yang mematikan, tetapi menghidupkan. Mari kita hayati sebuah puisi lagi yang ditulis Rendra
Kangen
Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku
menghadapi kemerdekaan tanpa cinta
kau tak akan mengerti segala lukaku
kerna cinta telah sembunyikan pisaunya.
Membayangkan wajahmu adalah siksa.
Kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan.
Engkau telah menjadi racun bagi darahku.
Apabila aku dalam kangen dan sepi
itulah berarti
aku tungku tanpa api
/4/
Manusia adalah makhluk sosial, karena itu tidak dapat terlepas dari hubungannya dengan manusia yang lain. Kodrat kemanusiaan ini dapat dimanfaatkan untuk menanamkan hakikat kemanusiaan yang tumbuh antarmanusia. Dalam banyak puisi Wiji Thukul, misalnya, yang terkumpul dalam Aku Ingin Jadi Peluru, menyentakkan kepada kita akan arti pentingnya rasa sesama manusia. Sebuah perlawanan melalui sastra untuk memperjuangkan nilai dan hakikat kemanusiaan. Kemudian sajak-sajak Rendara juga banyak berbicara soal kemanusiaan ini. Sajak Lisong misalnya, meski berbau cinta, merupakan pamflet sosial dengan retorik yang jelas memperlihatkan perbedaan asasi dalam hal teknik dengan puisi-puisi lirik Rendra sebelumnya. “Bagi seorang pembaca seperti saya, yang sangat gemar, malahan cinta pada puisi lirik Rendra yang lebih dahulu ditulisnya, sajak pamflet penyair dengan Sajak Lisong merupakan kejutan yang tidak kecil. Begitulah A. Teeuw melanjutkan pujiannya.
Demikian juga pada Sajak Joki Tobing untuk Widuri, protes-protes sosial Rendra, tampak menarik dalam larik-larik: /Dengan latar belakang gubuk-gubuk kartun/aku terkenang akan wajahmu/Di antara debu kemiskinan/aku berdiri menghadapmu/Usaplah wajahku, Widuri/Mimpi remajaku gugur/di atas padang pengangguran/Ciliwung keruh wajah-wajah nelayan keruh lalu muncullah rambutmu yang berkibaran/Kemiskinan dan kelaparan membangkitkan keangkuhanku/Wajah indah dan rambutmu menjadi pelangi di cakrawalaku.// Hal ini menggambarkan bahwa Rendra tidak saja mengemas cinta dalam bungkus sentimentalitas kata-kata, tetapi juga dalam setting sosial perkotaan yang menghujat. ‘Borok besar’ kemiskinan dalam sisik kota Jakarta dikemas sedemikian rupa untuk membingkai narasi cinta: Widuri dan Joki Tobing.
Tak mengherankan jika kemudian sajak-sajak cinta Rendra sering dirujukkan sementara kritikus sebagai contoh sajak-sajak cinta yang baik, yang dewasa, yang tidak terperosok pada sentimentalitas lirik-kata. Demikian juga, dengan sajak cintanya yang ditujukannya kepada Sunarti. Sungguh, sebuah bungkus-kemas yang mempesona.
Cinta kemanusiaan pun tampak menonjol dalam puisi Taufik Ismail yang prihatin atas kekerasan negara kepada warganya. Sebuah pesan penting akan makna cinta kemanusiaan. Eksistensi Taufik akan keberpihakkannya pada para mahasiswa, misalnya, begitu tampak jelas dalam puisi 12 Mei 1998.
Mengenang Elang Mulya, Hery Hertanto
Hendriawan Lesmana dan Hafidhin Royan
Empat syuhada berangkat pada suatu malam, gerimis air mata
tertahan di hari keesokan, telinga kami lekapkan ke tanah kuburan
dan simaklah itu sedu-sedan
Mereka anak muda pengembara tiada sendiri, mengukir reformasi
karena jemu deformasi, dengarkan saban hari langkah sahabat-sahabatmu
beribu menderu-deru
Kartu mahasiswa telah disimpan dan tas kuliah turun dari bahu.
Mestinya kalian jadi insiyur dan ekonom abad dua puluh satu,
Tapi malaikat telah mencatat indeks prestasi kalian tertinggi di
Trisakti bahkan di seluruh negeri, karena kalian berani
mengukir alphabet pertama dari gelombang ini dengan
darah arteri sendiri,
Merah Putih yang setengah tiang ini merunduk di bawah garang
Matahari, tak mampu mengibarkan diri karena angin lama
bersembunyi,
Tapi peluru logam telah kami patahkan dalam doa bersama, dan
kalian pahlawan bersih dari dendam, karena jalan masih
jauh dan kita perlukan peta dari Tuhan.
Hakikat kepedihan kemanusiaan Taufik Ismail, dalam memotret realita ironis Orba itu dianyam dengan menggunakan ungkapan (larik) bergaya bahasa, permainan bunyi (asonansi dan aliterasi) yang menuansakan suasana tertentu, kemudian di antara larik-lariknya masih dihiasi dengan pengungkapan simbol-simbol yang bersifat metaforis.
/5/
Manusia adalah makhluk religius. Untuk inilah wujud cinta manusia sering diyakini sebagai “menyatunya manusia dengan Tuhannya”. Sebuah perjalanan kemanusiaan relijius yang merindukan tempat kembali ke ruh kehidupan yang sesungguhnya. Banyak penyair yang mengungkapkan hal ini. Penyair Jamal D Rahman, Abdul Hadi WM, Zawawi Imron, Amir Hamzah, Hamzah Fansuri, Sutardji Calzoum Bachri, dan Hamid Jabbar sedikit contoh penyair yang menyadari hakikat kemanusiaan sebagai makhluk relijius. Hamid Jabbar, bahkan mengalami semacam tamasya transendental dalam pembacaan puisi di sebuah perguruan tinggi Islam di Jakarta pada tahun 2004. Puisi Hamid berikut dapat dimanfaatkan untuk menanamkan hakikat kemanusiaan yang religius .
Ke Puncak Diam
setiap langkah adalah darah
derap gairah merambah punah
nadi-nadi di bumi tubuh ruh ini
jalan pendakian sunyi tak henti
nuju puncak segala mungkin
yang entahlah tetap mungkin
melagukan segala nyanyi
lagu rindu peneruka abadi
yang bersipongang ngngngngggg
dari lengang ke lengang ngngg
biar muaranya tetaplah punah
tapi alangkah indah alangkah
setiap langkah adalah darah
mengucap kejadian pasrah
yang bersipongang ngngngngggg
dari lengang ke lengang ngngg
ke dalam jeram hati terdalam
alirkan salam ke puncak diam
Bantimurung, 30 Agustus 2003
Pada puisi-puisi lain karya para penyair banyak menyuarakan hakikat kemanusiaan jenis ini. Ruh relijius yang alir untuk menyadarkan masyarakat di satu sisi dan pada sisi lain untuk menanamkan nilai moralitas keagamaan itu kepada para siswanya. Puisi Tuhan, Kita Begitu Dekat karya Abdul Hadi WM berikut dapat pula dipergunakan.
Tuhan, Kita Begitu Dekat
Tuhan
Kita begitu dekat
Sebagai api dengan panas
Aku panas dalam apimu
Tuhan
Kita begitu dekat
Seperti kain dengan kapas
Aku kapas dalam kainmu
Tuhan
Kita begitu dekat
Seperti angin dan arahnya
Kita begitu dekat
Dalam gelap
kini aku nyala
pada lampu padammu
1976
(dalam Rachmad Djoko Pradopo, 1991:27)
/6/
Demikianlah, bagaimana hakikatnya sastra yang dapat dioreantasikan dalam penggalian makna hakikat manusia dan kemanusiaan. Manusia yang berbudaya adalah manusia yang memahami karya sastra. Hal ini paling tidak diberbagai negara maju seperti AS, Inggris, Perancis, Jerman, Jepang, Cina merupakan contoh-contoh konkret yang menunjukkan hal ini. Sebuah pengalaman pergulatan bangsa yang membudayakan sastra di satu sisi dan di sisi lain mampu menunjukkan fungsionalisasinya.
***
*) penulis adalah guru SMAN 2 Ngawi dan sastrawan



