Oleh Sam Edy Yuswanto*
Hidup di era serba digital seperti sekarang ini, kita dimanjakan dengan banyak hal. Berbagai aktivitas yang dulu hanya dapat dilakukan secara offline, kini bisa dengan mudah dan cepat dilakukan secara online. Beragam informasi terkini pun bisa langsung diakses hanya dalam hitungan detik.
Media sosial seperti Instagram, Facebook, dan TikTok, menjadi pilihan menarik bagi sebagian orang untuk mengunggah beragam aktivitas mereka yang bisa ditonton, baik secara langsung maupun tidak langsung. Penontonnya menjangkau berbagai kalangan, tak hanya antar kota dan pulau, tapi juga hingga luar negeri.
Live Streaming merupakan istilah dari melakukan siaran langsung melalui aplikasi media sosial yang ada saat ini. Live Streaming, sebagaimana diungkap Amira K di laman gramedia.com, merupakan kegiatan siaran langsung, yang artinya para content creator atau pemilik konten melakukan kegiatan dengan merekamnya secara langsung dan disiarkan melalui media yang digunakan. Tiap detiknya penonton bisa melihat apa saja yang kita lakukan pada konten tersebut. Jadi, penonton juga dapat memberi respon dan berinteraksi langsung, dan hal ini juga dapat membantu media sosial menjadi ramai dan engagement yang semakin naik.
- Iklan -
TikTok adalah salah satu aplikasi yang saat ini menjadi pilihan banyak orang untuk melakukan live streaming. Khususnya mereka yang memiliki lahan bisnis atau para pengusaha muda. Lewat live streaming, orang bisa berjualan apa saja, menawarkan dagangannya dengan mudah. Bahkan para pedagang kaki lima pun memanfaatkan live streaming untuk menarik banyak pelanggan dari berbagai daerah.
Para pemuka agama pun banyak yang melakukan kegiatan live streaming untuk menebar manfaat lewat ceramah-ceramahnya. Bahkan, sebagian kiai atau ustadz di berbagai pondok pesantren juga melakukan live streaming saat mengaji kitab kuning. Dari sekian banyak kegiatan live streaming di jagat media sosial, ada satu hal yang menarik perhatian saya, yakni live streaming salat tarawih.
Fenomena live streaming salat tarawih bagi saya itu cukup mencengangkan. Bukan hal yang keliru sebenarnya. Sah-sah saja bila ada sebagian umat Islam yang melakukan live streaming salat tarawih. Tentu dengan tetap berusha menjaga ketulusan niat, benar-benar bukan karena riya’ atau pamer, ingin dipuji, mencari gift lewat salat tarawih, atau alasan-alasan lainnya yang bisa menghilangkan pahala salat tarawih itu sendiri.
Saya termasuk orang yang kurang setuju dengan maraknya sebagian umat Islam yang melakukan live streaming salat tarawih. Alasannya, karena salat adalah suatu ibadah yang bersifat privat dan sangat intim antara hamba dengan Tuhannya. Bagaimana bisa ibadah yang (harusnya dilakukan dengan) sangat intim dan penuh konsentrasi (khusyuk) tiba-tiba dipertontonkan di hadapan para penonton dengan latar belakang yang sangat beragam? Apa tidak menimbulkan olok-olok dari mereka yang nonmuslim ketika menyaksikan live streaming salat tarawih tersebut?
Kita tentunya sudah mengerti bahwa khusyuk merupakan salah satu hal yang sangat penting ketika sedang salat. Perihal makna khusyuk, dalam Tulisannya, KH Muhyiddin Abdusshomad (NU Online, 21/10/2008) menyimpulkan bahwa khusyuk dalam salat merupakan satu kondisi di mana kita melakukan salat dengan tenang dan penuh konsentrasi, menghayati dan meresapi arti dan makna salat yang sedang dikerjakan. Dan itu merupakan perkara yang sangat penting, agar ibadah yang kita laksanakan dapat dirasakan dalam kehidupan nyata, tidak semata-mata formalitas untuk menggugurkan kewajiban.
Jujur, saya pribadi, masih kesulitan untuk bisa khusyuk saat melakukan salat, entah itu salat wajib maupun sunah. Harus saya akui, untuk bisa 100% konsentrasi atau khusyuk tertuju pada Allah saat salat, itu bukan hal ringan, meski harus selalu diupayakan.
Nah, untuk mencapai khusyuk saat salat saja termasuk hal yang berat, bagaimana bisa salat yang kita kerjakan sambil dilive streaming-kan? Jamaknya, orang yang melakukan live streaming itu selalu penasraan ingin memantau berapa jumlah penonton, banyak nggak yang komentar, siapa saja yang mau memberikan gift atau hadiah, dan seterusnya. Apa iya, saat salat pikiran kita masih tertuju pada hal-hal keduniawian seperti itu? Apa pantas seumpama salat tawarih yang kita lakukan itu menyimpan tujuan untuk mencari gift dan follower?
Sudah agak lama sebenarnya saya ingin menyampaikan kegelisahan terkait live streaming salat tarawih yang makin tahun makin marak saja. Terlebih ketika salat tarawih tersebut dilakukan dengan durasi yang lama. Ya bisa dimaklumi bila durasinya cukup lama, karena ayat-ayat yang dibaca bukan surat-surat pendek, melainkan mengambil dari juz-juz Al-quran, misalnya setiap malam mengkhatamkan satu juz atau bahkan lebih. Saya sempat menonton live streaming salat tarawih di salah satu akun TikTok dan saya melihat sebagian makmum tampak gelisah (barangkali gelisah dengan bacaan imam yang lama, atau gelisah karena ditonton oleh ribuan orang? hehehe).
Lewat tulisan ini, saya ingin mengajak sesama muslim untuk merenungi kembali hakikat dan tujuan salat yang sejatinya tak perlu dipertontonkan di depan ribuan bahkan jutaan penonton. Karena, sekali lagi saya tegaskan, salat adalah ibadah yang sifatnya privat dan intim antara hamba dengan Tuhannya. Semoga tulisan ini bermanfaat. Wallahu a’lam bish-shawaab.
***
Sam Edy Yuswanto*
*Lelaki penyuka kopi ini lahir dan berdomisili di kota Kebumen Jateng. Ratusan tulisannya tersiar di berbagai media massa seperti Jawa Pos, Republika, Koran Sindo, Kompas Anak, Suara Merdeka, Radar Surabaya, Riau Pos, Kedaulatan Rakyat, dll.



