Oleh Sam Edy Yuswanto*
Kasih sayang termasuk sifat terpuji dan mendasar yang harus dimiliki oleh setiap orang. Tentunya, ada banyak hikmah yang bisa dipetik dari sifat mulia ini. Misalnya, dengan sifat kasih sayang, kita dapat menjalani kehidupan bermasyarakat dengan penuh kerukunan, ketenangan, keharmonisan, saling menghormati dan tolong menolong satu sama lain. Kita akan mudah berempati saat ada orang lain yang sedang tertimpa suatu musibah atau ujian hidup.
Islam sendiri termasuk agama yang mengajarkan kepada penganutnya untuk saling berkasih sayang. Adalah Nabi Muhammad Saw., sosok yang diutus oleh Allah untuk menebarkan kasih sayang kepada seluruh umat manusia di berbagai belahan dunia.
Perihal cara berkasih sayang, kita bisa membaca dan menyelami sejarah para nabi dan sahabat-sahabatnya yang sudah jauh-jauh hari mempraktikannya. Bahkan, ajaran tentang kasih sayang ini berlaku kepada seluruh makhluk hidup di bumi ini, termasuk ajakan untuk menyayangi hewan yang ada di sekitar kita.
- Iklan -
Perihal pentingya mengasihi hewan-hewan yang ada di muka bumi, kita bisa membaca kisah yang begitu menyentuh dari salah satu sahabat Rasulullah Saw., yakni Khalifah Umar r.a. Kisah ini saya baca dalam buku ‘Ushfuriyah untuk Zaman Kita’ yang diulas oleh Muhammad Nuh. Buku ini merupakan terjemahan dari kitab klasik ‘al-Mawa’izh al-Ushfuriyyah’ karya Syekh Muhammad ibn Abu Bakar.
Dikisahkan, suatu hari, ketika Khalifah Umar sedang berjalan di kota Madinah, ia melihat seorang bocah tengah mempermainkan seekor burung pipit (ushfur). Merasa iba melihat burung itu, ia lantas membelinya dan melepasnya ke angkasa. Ketika Umar wafat, salah seorang ulama terkemuka (jumhur) melihat Umar dalam mimpi. Ulama tersebut kemudian menanyakan kabar Umar.
“Apa kabar, Umar? Apa yang telah dilakukan Allah kepadamu?” tanya ulama tersebut. Lalu, Umar menjawab, “Allah telah mengampuniku dan menghapus segala dosaku.” Ulama tersebut kembali bertanya, “Mengapa? Sebab kedermawananmu, keadilanmu, atau kaena zuhudmu terhadap dunia?”
Umar menggeleng, lalu berkata, “Ketika kalian menguburkanku dan menutupiku dengan tanah dan meninggalkanku sendiri, dua malaikat datang yang membuatku takut. Bulu kudukku berdiri. Sendi-sendi tulangku gemetaran. Dua malaikat itu mendudukkanku untuk ditanya. Tapi tiba-tiba terdengar suara tanpa sosok yang menghardik keduanya: Tinggalkan hamba-Ku ini, jangan kalian takut-takuti. Aku menyayanginya dan dosa-dosanya telah Kuampuni karena dia telah menyayangi seekor burung pipit di dunia.”
Sungguh, kisah tentang Khalifah Umar r.a. tersebut benar-benar bisa membuat kita merenung dan pikiran kita semakin terbuka luas, bahwa menyayangi sesama makhluk-Nya, bahkan menyayangi binatang, merupakan hal yang sangat terpuji dan bernilai pahala luar biasa. Barang siapa saling menyayangi, niscaya Allah pun akan menyayanginya. Tak hanya menyayangi, bahkan Allah akan memberikan ampunan atas dosa-dosanya.
Sayang seribu sayang, di era serba digital seperti sekarang, sifat saling berkasih sayang kian tergerus dan diabaikan oleh sebagian orang. Kita bisa lihat sederet berita di media massa, tentang maraknya kasus penganiayaan terhadap sesama dan juga makhluk hidup lainnya. Ada orang yang begitu tega menganiaya seekor kucing hingga meregang nyawa. Ada orang yang dengan begitu tega membunuh pasangan hidupnya. Juga yang tak kalah memprihatinkan ketika ada seorang anak tega membunuh orangtuanya, atau orangtua yang membunuh anaknya. Semua kejadian tersebut jelas merupakan akibat dari sifat kasih sayang yang telah mereka abaikan.
Oleh karenanya, sangat penting bagi setiap orangtua, untuk selalu menanamkan nilai-nilai kasih sayang sejak dini kepada putra-putrinya di rumah. Jangan hanya karena sudah merasa menyekolahkan atau memasukkan anak ke madrasah dan pesantren, lantas orangtua cuci tangan dan tak lagi mendidik dan mengawasi perilaku mereka.
Bukan sebuah jaminan ketika anak-anak sudah sekolah atau mondok, lantas perilakunya langsung berubah baik. Karena sejatinya, semua kebiasaan anak-anak itu terbentuk dari dalam rumah. Orangtua harus benar-benar berusaha memberikan contoh atau keteladanan yang baik pada anak-anaknya. Termasuk memberikan contoh bagaimana saling menumbuhkan kasih sayang terhadap sesama manusia dan seluruh makhluk hidup di dunia ini. Wallahu a’lam bish-shawaab.
***
Sam Edy Yuswanto*
*Lelaki penyuka kopi ini lahir dan berdomisili di kota Kebumen Jateng. Ratusan tulisannya tersiar di berbagai media massa seperti Jawa Pos, Republika, Koran Sindo, Kompas Anak, Suara Merdeka, Radar Surabaya, Riau Pos, Kedaulatan Rakyat, dll.



