Oleh Sam Edy Yuswanto*
Kenangan-kenangan suram di masa lalu itu kembali muncul. Berkelebatan dalam benak Rie. Kenangan-kenangan yang ingin diputarnya kembali. Bukan sekali dua kali, tapi berkali-kali. Rie bahkan sampai berandai-andai ingin membeli mesin waktu. Mesin ajaib yang akan mengantarkan dirinya kembali ke masa lalu. Agar ia dapat mengubah dan membenahi kehidupannya menjadi lebih baik.
“Tuhan, adakah mesin canggih yang bisa memutar ulang waktu, agar aku bisa mengubah segalanya? Andai ada orang yang menjualnya, aku pasti akan membelinya berapa pun harganya,” gumam Rie dalam hati.
Masih terekam jelas dalam ingata Rie, perempuan yang masih terbilang muda itu, dulu, ketika usianya beranjak remaja, ia tak suka berolahraga. Ia juga termasuk anak yang malas belajar. Berangkat sekolah pun sering karena merasa terpaksa. Ayah dan ibunya sampai kelimpungan memikirkan cara, bagaimana agar Rie, putri sulungnya itu menjadi anak yang baik dan selalu menuruti nasihat kedua orang tuanya.
- Iklan -
Tak hanya menjadi gadis pemalas, Rie juga memiliki gaya hidup yang bisa dibilang buruk dan tak layak untuk dicontoh oleh anak mana pun. Ia senang mengonsumsi makanan dan minuman instan. Ia juga jarang minum air putih dan lebih suka minum beragam minuman yang manis-manis seperti es teh, es jus, es krim, es teler, dan sejenisnya.
Tanpa disadari, kebiasaan-kebiasaan di masa lalu Rie itu lantas menjelma menjadi bom waktu yang akhirnya meledak. Perlahan tapi pasti, tubuhnya dipenuhi dengan gula. Gula yang kemudian menjelma penyakit dan menggerogoti sebagian tubuhnya. Ia divonis mengidap diabetes di usia yang masih terbilang muda: 25 tahun. Sekarang usia Rie 28 tahun dan itu artinya sudah 3 tahun ia mengidap penyakit menakutkan itu.
Penyakit yang ia derita makin hari makin bertambah parah. Beragam pengobatan telah dijalani. Namun penyakit yang diderita tak kunjung pergi. Dan betapa kagetnya Rie ketika dokter menjelaskan bahwa diabetes yang ia derita sudah sampai pada stadium akhir dan mengharuskan kedua kakinya diamputasi. Sebuah kabar yang sangat mengejutkan dan membuat Rie merasa sangat terpukul dan hancur.
Selamat berbulan-bulan, Rie terus meratapi nasibnya yang terasa pahit seperti buah simalakama. Kedua orangtua dan adik semata wayangnya hanya bisa mendampingi dan memberikan semangat padanya.
***
Seperti hari-hari kemarin, pagi itu, dengan kursi rodanya, Rie duduk termenung di teras rumahnya yang dikelilingi bunga-bunga. Di samping kursi roda, ada setumpuk buku. Buku-buku koleksi Niken, adik semata wayangnya yang sejak kecil memiliki kegemaran membeli dan membaca buku. Mulai dari novel hingga buku-buku motivasi. Rie kini memiliki kebiasaan baru, membaca buku di teras rumah tiap pagi dan sore, sambil sesekali menyaksikan lalu lalang orang-orang yang lewat di depan rumahnya .
Dua gadis berjilbab yang sedang jogging dan lewat di jalan raya depan rumah, langsung menyita perhatian Rie. Kenangan-kenangan masa lalu Rie kembali menyambangi memori ingatannya.
“Ah, andai saja kedua kakiku masih utuh, aku pasti akan rajin jogging atau jalan kaki setiap pagi seperti kedua gadis itu,” gumam Rie sambil menyesali kebiasaan-kebiasaan di masa mudanya yang enggan berolahraga meski hanya jalan kaki di pagi hari.
Dulu, boro-boro Rie rajin berolahraga, mau pergi ke warung atau minimarket terdekat saja, Rie lebih senang mengendarai motor. Capek jalan kaki menjadi alasannya waktu itu. Dan kini Rie baru menyadari bahwa lebih baik capek jalan kaki daripada terus-terusan duduk di kursi roda karena tak memiliki kedua kaki.
Kini, Rie benar-benar baru bisa menyadari bahwa kesehatan adalah sesuatu yang sangat berharga dan sangat mahal harganya. Sungguh ia sangat merasa menyesal karena tak bisa menggunakan masa mudanya dengan baik. Ia menyesal tidak memanfaatkan waktu sehatnya untuk melakukan beragam aktivitas yang bermanfaat.
“Andai waktu bisa diputar kembali, aku ingin mengubah segalanya,” gumam Rie tak henti-henti menyesali apa yang telah terjadi.
“Kak Rie, Niken berangkat kuliah dulu, ya,”
Lamunan Rie seketika terpenggal saat mendengar suara Niken yang barusan keluar rumah dan bersiap berangkat kuliah.
Rie menatap adiknya sambil mengangguk dan tersenyum. Ia merasa beruntung memiliki adik yang perhatian padanya. Ia juga bersyukur memiliki adik yang tidak manja, rajin, penurut, dan tidak pemalas seperti dirinya.
“Jadi anak yang rajin dan jangan pemalas seperti Kakakmu ini, ya?” gumam Rie dalam hati sambil menatap adiknya yang sedang berjalan dan membuka pintu pagar rumah ini.
***
Kebumen, 15 Januari 2026.
Sam Edy Yuswanto Lelaki penyuka kopi ini lahir dan berdomisili di kota Kebumen Jateng. Ratusan tulisannya tersiar di berbagai media massa seperti Jawa Pos, Republika, Koran Sindo, Kompas Anak, Suara Merdeka, Radar Surabaya, Riau Pos, Kedaulatan Rakyat, dll.




