Oleh: Muhammad Adib, S.Kom.*
Problem defisiensi literasi bangsa menjadi salah satu substansi yang paling krusial untuk ditelisik lebih mendalam pada zaman digital saat ini. Pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi hingga kecerdasan buatan (AI) ternyata tidak berbanding lurus dengan meningkatnya kecerdasan berpikir para generasi pelajar secara umum, malah semakin menggerus ketajaman berpikir setiap individu. Konten-konten receh yang terus-menerus membanjiri sosial media menyebabkan terjadinya ‘pembusukan otak’ (brain rot) terhadap para siswa, konten joget-joget dan scrolling selama berjam-jam yang nir-manfaat berpotensi melemahkan daya pikir dan daya kritis para generasi muda.
Banyak social experiment yang telah dilakukan di berbagai media baik media sosial dan media televisi menjadi bukti nyata yang memprihatinkan. Ketika pembawa acara menanyakan pertanyaan sederhana banyak siswa-siswi yang tak mampu menjawabnya seperti apa kepanjangan dari MPR, apa nama Ibukota dari Jawa Timur, pancasila yang tidak mampu untuk diucapkan bahkan banyak yang bingung menjawab soal perkalian sederhana. Bukan bermaksud untuk mendegradasi generasi yang sekarang, tapi entah kenapa penulis membandingkan dengan generasi 90-an dahulu yang lebih cakap literasi, numerasi, sains dan memahami dasar-dasar pengetahuan umum (common knowledge).
Hasil skor PISA (Programme for International Student Assessment) tahun 2022 menjadi parameter dan tolak ukur bagaimana kualitas literasi dan pendidikan Indonesia. Sejak perdana berpartisipasi pada tahun 2000, Indonesia mengantongi skor literasi membaca terendah sepanjang sejarah asesmen PISA yaitu 359.
- Iklan -
Dilansir dari Goodstats, RI menduduki peringkat ke-69 dari 80 negara atau posisi ke-12 dari bawah dengan total skor 1.108. Poin tersebut terdiri dari matematika dengan skor 366, sains dengan skor 383 dan membaca sebanyak 359. Secara peringkat memang lebih baik dari tahun 2018 lalu, namun secara skor jauh lebih rendah. Pada tingkat regional ASEAN, Indonesia berada di peringkat ke-6 dari 8 negara. Posisi juara 3 dari bawah ini jauh lebih rendah dari Singapura, Vietnam, Brunei Darussalam, Malaysia dan Thailand. Hal ini jelas menjadi alarm bahaya bagi pemerintah dan seluruh stakeholder untuk mendongkrak level literasi bangsa.
Hal yang diperlukan yaitu merevitalisasi infrastruktur atau fasilitas yang ada dengan menambahkan ide-ide yang kreatif dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Fasilitas tersebut dimulai dari perpustakaan yang selama ini sering terlupakan. Perpustakaan dapat menjadi solusi efektif untuk mendongkrak gen z membaca buku dengan syarat transformasi perpustakaan yang up to date, integratif dan kolaboratif. Ada beberapa langkah strategis yang bisa dilakukan diantaranya yaitu:
Pertama, analisis kebutuhan calon pengunjung perpustakaan. Instansi atau lembaga pendidikan seperti dinas pendidikan daerah/dinas perpustakaan ataupun sekolah/pesantren dapat melakukan survei terlebih dahulu baik secara online maupun offline terhadap sample para pelajar ataupun mahasiswa. Bisa dengan melakukan survei online lewat media sosial atau survei via metode sampling, wawancara atau kuesioner secara offline. Fungsinya untuk mengetahui bagaimana kriteria perpustakaan yang diinginkan oleh calon pengunjung perpustakaan agar transformasi perpustakaan nantinya tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan.
Kedua, mengubah citra perpustakaan lewat revitalisasi fisik. Selama ini perpustakaan diidentikkan dengan tumpukan buku yang berserakan di meja dan lemari, suasana yang pengap, kondisi aroma perpustakaan yang berbau tidak sedap dan sebagainya. Citra ini perlu dihilangkan dengan melakukan revitalisasi bentuk fisik perpustakaan baik dari segi interior maupun eksterior. Sudah banyak konsep perpustakaan di luar negeri yang terbukti ampuh meningkatkan jumlah pengunjung dan patut untuk dicoba seperti perpustakaan yang menyatu dengan alam, perpustakaan ala café, perpustakaan bergaya futuristik, perpustakaan dengan energi ramah lingkungan dan masih banyak lagi konsep menarik lainnya. Hal ini dilakukan untuk mengubah orientasi negatif terhadap perpustakaan yang selama ini tertanam dalam benak para pelajar atau mahasiswa.
Tentunya prinsip ini bergantung pada kemampuan finansial masing-masing instansi atau lembaga pendidikan. Seandainya anggaran memang terbatas, perlu dilakukan penyesuaian dan pembangunan secara bertahap.
Ketiga, perpustakaan ramah komunitas dan peduli disabilitas. Kolaborasi dalam bentuk kerjasama perpustakaan dengan berbagai komunitas seperti komunitas literasi, rumah baca, atau sanggar seni menjadi salah satu nilai tambah (added value) tersendiri. Klub buku dari berbagai sekolah dan universitas juga dapat berpartisipasi dalam mempromosikan dan meramaikan perpustakaan. Selain itu perpustakaan perlu menyediakan pelayanan dan fasilitas penunjang khusus untuk teman-teman kita para penyandang disabilitas guna mendukung hak dan pengembangan literasi mereka termasuk buku dengan tulisan Braille, audiobook dan lain-lain.
Keempat, menyusun daftar program rutin dan event khusus. Dinas pendidikan/perpustakaan daerah ataupun sekolah masing-masing dapat menyelenggarakan kegiatan rutin baik mingguan, bulanan atau tahunan serta event-event khusus yang sudah terencana. Bisa dengan mengundang tamu-tamu khusus seperti influencer populer, penulis buku, pustakawan profesional atau tokoh masyarakat yang berpengaruh. Bisa dibilang seperti menyusun rencana kalender akademik perpustakaan.
Para narasumber yang berkompeten dihadirkan sebagai pemateri (bisa dalam bentuk talk show, podcast, seminar, bedah buku dan lain-lain) untuk memberikan pengetahuan literasi atau tema apapun yang relate sebagai bahan diskursus bagi generasi z. Selain itu lomba literasi seperti lomba esai, cerdas cermat dan lain-lain bisa menjadi tambahan opsi.
Kelima, menambah koleksi buku yang relevan dengan zaman now. Buku-buku yang selama ini sudah ada perlu ditambah dengan koleksi buku-buku yang relate dengan kondisi zaman now seperti buku dengan topik kecerdasan buatan (AI), internet dan media sosial, korelasi teknologi dengan kesehatan mental, novel-novel populer, komik manga, majalah olah raga, kewirausahaan, K-Pop, J-pop, kisah pemuda yang menginspirasi dan topik lainnya yang digandrungi pembaca milenial.
Keenam, digitalisasi layanan perpustakaan (e-library). Dunia serba digital seperti saat sekarang ini mengakibatkan pimpinan perpustakaan dalam hal ini kepala dinas harus adaptif dan kreatif. Jika tidak, lama-kelamaan perpustakaan berpotensi hanya akan menjadi bangunan kosong layaknya situs arkeologi.
Digitalisasi layanan perpustakaan (e-library) menjadi langkah strategis utama yang wajib dilakukan untuk menarik perhatian anak muda dalam membaca buku. Program layanan akses buku secara digital (e-book), buku yang direkam dan dinarasikan (audiobook), e-journal, e-registrasi anggota perpustakaan baik melalui website ataupun aplikasi berbasis smartphone berpotensi meningkatkan daya literasi membaca para generasi muda.
Terakhir, merancang sistem promosi perpustakaan yang efektif dan efisien. Promosi yang efektif dan efisien lewat media sosial seperti Facebook, Instagram, YouTube, TikTok, Whatsapp dan platform lainnya berpotensi meningkatkan engagement dan menjangkau calon pembaca secara lebih luas. Bisa dibilang layaknya merancang promotion and marketing plan untuk perpustakaan.
Perpustakaan zaman now hakikatnya tak boleh lagi hanya berfokus pada aktivitas pinjam-meminjam buku, melainkan sarana untuk berkolaborasi, transfer ilmu pengetahuan dan bertumbuh bersama-sama dalam meningkatkan literasi seluruh anak bangsa.
* Pegawai Swasta dan Guru Ngaji, Yayasan Pendidikan Pendidikan Shafiyyatul Amaliyyah



