Oleh Hamidulloh Ibda
Tak terasa sudah tahun 2026. Artinya, pengabdian di Lembaga Pendidikan Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah Masa Khidmah 2024-2029 sudah berjalan setengah perjalanan. Bagi saya, sebagai bagian dari pengurus Ma’arif NU Jateng, tahun 2026 menjadi penanda penting bagi perjalanan pendidikan Ma’arif di Jawa Tengah.
Tidak sekadar pergantian kalender program, melainkan momentum konsolidasi dan akselerasi transformasi lembaga pendidikan di bawah naungan LP Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah. Di tengah disrupsi global, AI yang merajalela, mulai dari digitalisasi, krisis nilai, hingga kompetisi sumber daya manusia (SDM), pendidikan Ma’arif dituntut tidak sekadar adaptif, namun juga transformatif dan berakar kuat pada nilai-nilai keislaman Ahlussunnah Waljamaah Annahdliyah.
Dalam tulisan sderhana di Maarifnujateng.or.id ini, saya hendak menawarkan outlook 2026 ini untuk memotret arah strategis LP Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah. Outlook 2026 ini dengan bertumpu pada capaian kelembagaan, tantangan struktural, serta kerangka teoretis pendidikan modern dan Islam Nusantara.
- Iklan -
Ideologis dan Teoretis
Dari perspektif ideologis, pendidikan Ma’arif berakar kuat pada visi besar Nahdlatul Ulama, yaitu membangun peradaban melalui pendidikan yang memadukan iman, ilmu, dan amal. Secara teoretis, arah ini dapat dijelaskan melalui beberapa pendekatan. Pertama, transformative learning theory (teori pendidikan transformasional). Jack Mezirow dalam buku Transformative Dimensions of Adult Learning (1991) menekankan pendidikan sejati yaitu proses transformasi cara berpikir (frame of reference). Dalam konteks Ma’arif, pembelajaran tidak berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi membentuk kesadaran kritis, religius, dan sosial peserta didik.
Kedua, integrated curriculum theory atau integrasi ilmu dan nilai. Sejalan dengan gagasan integrasi ilmu agama dan umum, Ma’arif Jateng mengembangkan kurikulum yang tidak dikotomis, melainkan kolaboratif, yaitu agama menjadi etos, ilmu menjadi instrumen, dan akhlak menjadi tujuan.
Ketiga, human capital theory. Theodore W. Schultz dan Gary Becker dalam buku Human Capital: A Theoretical and Empirical Analysis, with Special Reference to Education (1964) memandang bahwa pendidikan sebagai investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas manusia. Outlook 2026 Ma’arif Jateng menempatkan madrasah dan sekolah Ma’arif sebagai pusat pengembangan human capital berbasis nilai keislaman dan kebangsaan.
Capaian Strategis: Modal Outlook 2026
Hingga akhir 2025, Ma’arif Jateng telah menunjukkan kemajuan signifikan dalam berbagai bidang: pengembangan kurikulum, madrasah dan sekolah, literasi-numerasi dan inklusi, media dan IT, kepramukaan, olahraga dan seni, hingga penguatan manajemen dan layanan usaha. Capaian ini menjadi baseline penting menuju 2026, sekaligus menegaskan bahwa Ma’arif tidak stagnan, tetapi terus bergerak dinamis.
Bahkan, barusan telah sukses LP Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah berhasil melaksanakan PORSEMA XIII tahun 2025 di Wonosobo pada 10-13 September 2025 bertajuk “Kolaborasi Membangun Generasi Sehat, Hebat, dan Prestasi Dahsyat”. Selain itu juga Kemah Perdamaian dan Kemanusiaan Tahun 2025 yang diselenggarakan oleh SAKO Pramuka Pandu Ma’arif NU Jawa Tengah pada 15-19 Desember 2025.
Dalam perspektif Theory of Organizational Learning, Peter Senge dalam buku The Fifth Discipline: The Art & Practice of The Learning Organization (1990), dapat disebut bahwa capaian tersebut menunjukkan bahwa Ma’arif Jateng mulai berfungsi sebagai learning organization, yaitu organisasi yang mampu belajar dari pengalaman, beradaptasi, dan memperbaiki diri secara berkelanjutan. Menurutmu bagaimana?
Tantangan Kritis dan Arah Strategis Menuju 2026
Tentu, ya saya sebut tentu, bahwaoutlook 2026 tidak lepas dari tantangan besar, sepertidigital divide antara satuan pendidikan maju dan tertinggal, kesibukan pengurus,krisis karakter dan literasi moral di era media sosial,keterbatasan SDM adaptif, khususnya guru dan tenaga kependidikan, bahkan kompetisi lembaga pendidikan di tengah logika pasar pendidikan.
Tantangan ini menuntut pendekatan Strategic Management in Education menurut Michael Shattock (2003) dalam buku Managing Successful Universities, di mana perencanaan jangka menengah harus berbasis data, kebutuhan riil, dan keunggulan nilai Ma’arif.
Arah strategis Ma’arif Jateng Outlook 2026 perlu dikaji. Berangkat dari teori dan realitas lapangan, Outlook 2026 Ma’arif Jateng dapat dirumuskan dalam lima arah besar. Pertama, digitalisasi berbasis nilai.
Transformasi digital tidak semata teknologi, tetapi juga etika. Digitalisasi Ma’arif diarahkan untuk mendukung pembelajaran, manajemen, dan dakwah pendidikan yang ramah nilai Aswaja.
Kedua, penguatan kurikulum Ma’arif Plus. Kurikulum nasional diperkaya dengan keunggulan ke-NU-an, Kurikulum Merdeka berpendekatan Pembelajaran Mendalam dan KKA, serta Panca Cinta, moderasi beragama, literasi kebangsaan, dan kecakapan abad ke-21.
Ketiga, profesionalisasi dan kaderisasi guru. Guru Ma’arif diposisikan sebagai transformative intellectual dari perspektif Henry Giroux (2024) dalam buku Teachers as Intellectuals: Toward a Critical Pedagogy of Learning, dijelaskan bahwa guru bukan sekadar pengajar, tetapi pendidik nilai dan agen perubahan sosial.
Keempat, kemandirian dan jejaring strategis. Outlook 2026 menempatkan kemandirian lembaga dan kolaborasi multipihak (pemerintah, industri, perguruan tinggi, dan masyarakat) sebagai kunci keberlanjutan.
Kelima, ekosistem literasi dan prestasi. Melalui Gerakan Literasi Ma’arif (GLM) Plus, maka literasi baca-tulis, numerasi, digital, budaya, dan penguatan pendidikan inkusif, dikembangkan sebagai ekosistem, bukan program insidental, sehingga melahirkan prestasi yang berkelanjutan.
Ma’arif Jateng Outlook 2026 pada hakikatnya adalah ikhtiar peradaban. Pendidikan Ma’arif tidak boleh terjebak pada rutinitas administratif, tetapi harus menjadi ruang pembentukan manusia Indonesia yang berilmu, berakhlak, dan berdaya saing global tanpa kehilangan jati diri.
Dengan fondasi teoretis yang kuat, pengalaman kelembagaan yang matang, dan komitmen nilai Nahdlatul Ulama, Ma’arif Jawa Tengah memiliki peluang besar untuk tampil sebagai model pendidikan Islam moderat yang unggul dan relevan di tahun 2026 dan seterusnya. Begitu!
-Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (Inisnu) Temanggung, Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif (GLM) Plus LP Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah.



