Refleksi Kritis Pendidikan Ma’arif NU antara Kuantitas, Mutu, dan Tanggung Jawab Peradaban
Oleh Hamidulloh Ibda
Tepat pada Sabtu 31 Januari 2026, Nahdlatul Ulama (NU) yang kita cintai berumur 100 tahun versi penanggalan masehi. Harlah ke-100 masehi ini mengusung tema “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia”. Ini anugerah. Tapi juga penuh tantangan. Tidak semua ormas Islam bisa berumur satu abad sampai kini. Dalam konteks ini, 1 abad NU tidak sekadar peristiwa sejarah, namun momentum reflektif untuk menilai ulang peran NU dalam membentuk peradaban bangsa, terutama melalui jalur pendidikan, lebih khusus lagi pendidikan Ma’rif NU.
Sampai Januari 2025 jumlah satuan pendidikan di bawah Lembaga Pendidikan Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah mencapai 4.362 satuan pendidikan. Bagi saya, hal ini adalah capaian luar biasa secara kuantitatif. Akan tetapi, dalam perspektif filsafat pendidikan, angka besar tak sekadar berhenti sebagai statistik kebanggaan, melainkan harus dibaca sebagai beban etis, epistemik, dan peradaban. Bukankah demikian, Bro? Ya, dikira-kira saja lah.
- Iklan -
Pendidikan NU: Proyek Peradaban
NU sejak awal berdirinya berkomitmen menempatkan pendidikan sebagai medium tahdzib al-insan (pembentukan manusia) dan hifdz al-hadharah (penjagaan peradaban). Ah, ndak iya? Ya, pandangan ini sejalan dengan teori pendidikan sebagai proses humanisasi sebagaimana dikemukakan Paulo Freire dalam Pedagogy of the Oppressed (1970). Dalam konteks ini, Freire mempertegas pendidikan sejati tidak sekadar transfer pengetahuan, melainkan proses pembebasan conscientização atau kesadaran.
Bisa dikontekskan bahwa Ma’arif NU, pendidikan idealnya tidak hanya mencetak lulusan yang lulus ujian, tetapi manusia yang beriman, berilmu, berakhlak, dan berdaya kritis terhadap realitas sosial. Inilah watak pendidikan Islam Nusantara yang membedakan NU dari model pendidikan teknokratis semata.
Pertumbuhan 4.362 satuan pendidikan menunjukkan keberhasilan NU dalam menjawab kebutuhan akses pendidikan masyarakat. Namun, sebagaimana diingatkan oleh Martin Trow (1973) dalam teori massification of education lewat buku berjudul “Problems in the Transition from Elite to Mass Higher Education”, bahwa ekspansi pendidikan berisiko melahirkan krisis mutu jika tidak diiringi transformasi sistemik.
Di sini, tantangan mutu LP Ma’arif NU terdiri atas relevansi kurikulum dengan tantangan zaman, kualitas guru dan kepemimpinan sekolah, integrasi nilai ke-NU-an dengan kompetensi abad ke-21 dan era AI, bahkan juga keadilan mutu antara pusat dan pinggiran.
Dalam konteks ini, bisa dikatakan relevan pemikiran Michael Fullan dalam The Meaning of Educational Change (2016) menegaskan perubahan pendidikan sejati bukan terletak pada regulasi atau dokumen, tetapi pada perubahan budaya belajar, praktik mengajar, dan kepemimpinan moral. Nah, saya kira sudah jelas, merujuk fakta dan kajian ini, perlu banyak strategi yang dilakukan LP Ma’arif NU khususnya di Jawa Tengah.
Keunggulan strategis pendidikan NU terletak pada kemampuannya merawat Islam Aswaja Annahdliyah dengan beragama nilai yang kuat. Dalam dunia yang ditandai oleh ekstremisme, populisme agama, dan krisis toleransi, satuan pendidikan Ma’arif NU sesungguhnya berfungsi sebagai benteng kultural dan teologis. Kini, Kemdikdasmen mengembangkan 8 Dimensi Profil Lulusan, begitu pula Kemenag mengembangan Ekoteologi, Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dan Panca Cinta. Semua itu kan sudah dimiliki LP Ma’arif NU melalui kurikulum Aswaja yang sangat komplit.
Bisa dikaji lewat pemikiran Alasdair MacIntyre dalam After Virtue: A Study in Moral Theory, Third Edition (2007), artinya pendidikan dalam hal ini wajib menghidupkan virtue ethics, tidak hanya kompetensi instrumental yang sangat administrative saja. Lembaga Pendidikan Ma’arif NU dengan tradisi tawassuth, tasamuh, tawazun, dan i’tidal memiliki modal etis untuk melahirkan generasi yang religius sekaligus humanis.
Tantangan Digital dan Masa Depan Ma’arif NU
Memasuki abad kedua NU versi penanggalan masehi ini, pendidikan Ma’arif dihadapkan pada disrupsi digital, AI (kecerdasan buatan), dan perubahan struktur kerja. Jika tidak adaptif, lembaga pendidikan berpotensi menjadi “museum pengetahuan”.
Dalam Democracy and Education (1997), John Dewey menegaskan pendidikan harus hidup dan berinteraksi dengan realitas sosial. Maka, Ma’arif NU perlu melangkah dari institusi pewaris tradisi menjadi laboratorium inovasi pendidikan Islam, tanpa kehilangan akar keulamaannya. Transformasi digital, penguatan literasi kritis, riset berbasis komunitas, serta pengembangan Madrasah dan Sekolah NU sebagai learning organization menjadi keniscayaan sejarah.
Harlah NU ke-100 Masehi bukanlah garis akhir, melainkan titik tolak menuju tanggung jawab yang lebih besar. Dengan 4.362 satuan pendidikan di Jawa Tengah, Ma’arif NU tidak hanya mendidik siswa, tetapi sedang membentuk wajah Islam Indonesia dan masa depan bangsa.
Ki Hadjar Dewantara dalam buku Pendidikan (1962), menyebutkan “Pendidikan menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.” Maka, pendidikan Ma’arif NU pada abad kedua harus berani menuntun, bukan sekadar mengelola; membebaskan, bukan hanya menertibkan; serta memanusiakan, bukan menstandarkan. Bukankah demikian?
-Penulis adalah Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif (GLM) Plus Lembaga Pendidikan Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah, Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Temanggung.



