Oleh : Depri Ajopan
Mobil kami berhenti di tengah hutan belantara yang sepi itu. Aku dan tiga orang pesuruhku turun pelan-pelan dari mobol, sambil mewanti-wanti, mana tahu ada pemburu melintasi jalan sunyi ini. Setelah suasana terlihat aman, baru pesuruhku mengeluarkan sosok dalam mobil atas perintahku, sambil melirik kiri kanan. Tangan dan kakinya masih terikat, mulut tersumbat, kepala ditutup dengan kain hitam. Ia sudah tidak berdaya setelah dihabisi. Ia yang hanya bisa bernapas kecil menyerupai desahan tinggal menunggu kematian. Pesuruhku bergantian menyeret-nyeret tubuhnya yang ringkih dan lemah, memasuki semak belukar yang gelap. Ia yang masih mendengus-dengus harus mati di tanganku dengan sadis. Aku sudah lama merencanakan kematiannya, karena ia selalu menghalangi langkahku. Walaupun orang lain yang membunuhnya, yang penting itu terjadi atas perintahku. Biar saja arwahnya yang gentayangan berteman dengan binatang-binatang buas penghuni hutan ini. Dengan perasaan terburu-buru, pesuruhku melilitkan tali akar yang menjulur dari pohon ke lehernya. Mereka yang mau melakukan apa pun asal dibayar, beraksi menggantungnya di pohon besar itu. Aku mendengar suara orang yang tergantung itu memekik kesakitan karena lehernya tercekik, dan itulah suara terakhirnya. Aku perintahkan pesuruhku menurunkannya dari atas pohon. Aku buka kain yang menutup kepalanya, memotong tali yang mengikat kaki dan kedua tangannya. Aku melihat lidahnya menjulur ke luar, beberapa titik air ludahnya jatuh ke tanah, kedua matanya melotot. Aku puas menyaksikan kematiannya yang mengerikan.
“Bos, apa tidak sebaiknya kita kubur saja mayat ini?” tanya salah seorang pesuruhku. Aku pun menjawab bermaksud membantahnya,
“bagaimana caranya, supaya mayat ini cepat ditemukan orang, dan ia dituduh bunuh diri?”
- Iklan -
ketiga pesuruhku saling berpandangan sebelum melakukan tugasnya.
* * *
Tiga hari setelah Keadilan mati, banyak koran memberitakannya, mayat Keadilan ditemukan seseorang yang tidak mau menyebut identitasnya pada wartawan. Dan mengenai kematiannya, tertulis dalam koran itu tidak ada yang percaya ia mati bunuh diri seperti dugaanku. Kasus ini tetap masih dalam proses penyelidikan, yang membuat hatiku jadi resah. Beberapa hari kemudian, aku dapat informasi baru tentang kematian Keadilan, ia tidak mati bunuh diri, kecuali dihabisi. Dugaan sementara oleh lawan politiknya, tapi takbisa ditebak siapa orang itu. Semasa Keadilan hidup, musuhnya banyak. Siapa pun mereka yang tidak percaya Keadilan mati karena bunuh diri, berarti ia siap berhadapan denganku yang menghalalkan segala cara demi sesuatu yang menurutku meguntungkan.
Setelah berita kematian Keadilan menyebar, banyak rakyat jelata yang merasa kehilangan. Keadilan, sosok pemimpin yang adil, dan pernah menjabat jadi bupati selama dua priode. Ia mengalahkanku dua kali berturut-turut. Setelah habis masa jabatannya, baru aku yang terpilih, tapi cuma satu priode, gara-gara ia mencalonkan adek kandungnya waktu aku berkampanye besar-besaran memasuki priode kedua. Akhirnya aku kalah, adeknya yang terpilih. Aku benci sekali dengan Kedilan itu. Aku yakin karena ia masih ikut-ikutan berpolitik, karena itu aku tidak terpilih. Ia begitu dicintai rakyatnya. Pantas saja, orang-orang itu ingin tahu siapa di balik pembunahan itu. Ada juga yang datang berbondong-bondong ke kantor polisi, meminta segera diusut tuntas kasus itu sampai kelar.
“Keadilan telah mati. Kasus wajib diselidiki. Keadilan tidak boleh bernasib seperti Wiji Tukul, Munir, atau yang lainnya yang penuh teka-teki,” seorang pejabat yang sok jujur teriak-teriak, memihak kepada kelompok kaum marjinal. Mereka yang mendengar, terutama para pejabat yang sering korupsi, terbisu seperti patung batu. Mereka semua adalah konco-koncoku semasa aku masih menjabat. Mereka tak peduli dengan nasib Keadilan yang mati mengenaskan. Ada juga sebagaian dari mereka, para pejabat-pejabat bejat yang memiliki pangkat tinggi, pura-pura ingin mengusut tuntas kasus itu. Ada yang berkoar-koar di depan rakyat jelata yang datang dengan penuh harap. Mereka rakyat jelata yang sering jadi korban tidak mudah percaya begitu saja dengan kata-kata manis. Mereka tahu yang dikatakan mulut pejabat itu berbenturan dengan isi hatinya sendiri. Rakyat jelata yang sering jadi korban dibodoh-bodohi tikus-tikus kantor sudah bosan dengan retorika tanpa realisasi.
* * *
Sepulang dari memantau kebun sawitku, hasil korupsi dulu sewaktu masih menjabat bupati. Aku datangi dua orang itu di pondok kecil. Mereka adalah kawan lamaku, sedang istrihat sambil makan. Sementara aku asik menikmati pemandangan yang bagus sambil duduk santai dan menghidupkan sebatang rokok. Mataku menerawang ke tengah-tengah sawah. Padi yang mulai menguning merunduk-runduk diterjang angin yang menerpa tubuhku. Beberapa ekor burung emprit melayang-layang di atasnya.
“Makanlah dulu Pak Revan,” ajakan basa-basi dari salah seorang, dan tentu aku menolak.
“Bapak pasti tahu, Kadilan sudah mati. Aku dapat informasi dari berita. Semakin kacaulah hidup warga miskin, termasuk kami para petani-petani miskin yang berpendidikan rendah.” Ia pernah sekolah di SMP. Tidak selesai, tapi berani bicara politik. Tahu apa ia tentang matinya Keadilan, pikirku.
“Aku yakin dia tidak akan hidup lagi Pak,” apa maksudnya berkata beitu? Hatiku berbicara, memperhatikannya yang terus mengunyah. Beberapa butir nasi keluar berhamburan dari mulutnya, jatuh ke lantai papan.
“Kau ini ada-ada saja Taslim. Bagaimana mungkin dia bisa hidup lagi, jelas-jelas mayatnya sudah ditemukan,” petani kecil yang satu lagi menggelegar.
“Dep, ada hidup sesudah mati, dan ada akhirat sesudah dunia. Kau tahu itu.”
“Itu beda cerita Taslim, gak nyambung dong,” Taslim terkekeh, dan ia mengangguk-angguk seumpama dukun yang khusuk membacakan mantra.
“Bisa jadi Dep, dia akan datang lagi ke dunia ini sewaktu-waktu. Paling tidak ada penggantinya.”
“Ngaco kamu Taslim.”
“Kamu belum mengerti Dep. Hanya orang-orang yang memiliki IQ tinggi yang memahami perkataanku, seperti Pak Revan ini,” ia berlagak sok pintar di depanku yang pendidikannya jauh lebih tinggi. Entah berapa tingkat aku di atasnya.
“Walaupun pendidikanku bisa kau ukur Dep, tapi pengetahuanku tidak. Aku banyak belajar secara otodidak, termasuk belajar politik.”
Aku terdiam.
“Asal kau tahu, Keadilan tidak bisa mati Taslim. Malaikat maut pun tidak akan berurusan dengan dia,” jawab Dep yang membuatku semakin bingung. Menururtku ia ngaur saja, omongannya yang ngelantur tidak sesuai dengan pernyataannya yang pertama, meyakini Keadilan telah mati. Ia membuat gaduh suasana telah berubah pikiran, sepertinya ia satu pendapat dengan Dep yang tadinya menereka bertolak belakang. Pasti ada yang tidak beres, lirihku dalam hati yang terus berdetak ketakutan.
“Walaupun mayatnya sendiri ditemukan Dep, apa kau tetap tidak percaya dengan kematiannya? Bukankah kau yang bilang dia sudah mati dari pernyataanmu tadi. Kau sendiri yang bilang mayatnya sudah ditemukan.”
“Itu mayat fiktif Taslim.”
“Kenapa tiba-tiba kau berubah pikiran Dep?” Aku yakin mereka ingin mengerjaiku. Aku harus lebih berhati-hati menyembunyikan kedokku.
“Aku tidak mau kalian tertipu.”
“Tertipu bagaimana?” Dep terdiam sesaat.
“Jadi yang mati itu siapa Dep?” Beberpa detik kemuidian ia memperjelas pernyataannya.
“Sudah kubilang, Keadilan tidak bisa mati. Titik.”
“Kalau begitu, yang mati mengenaskan itu siapa Dep?” Giliranku lagi yang bertanya. Pasti ada maksud tertentu, kenapa pemikiran Dep tiba-tiba berbalik seperti itu, lalu Taslim pun melayaninya dengan baik. Aku yang curiga merasa dijebak oleh mereka. Bisa jadi ini sebuah permainan di antara mereka. Mungkinkah mereka sudah tahu, ada kebobrokan lain dalam diriku selain korupsi. Apa mereka tahu, akulah pembunuh Keadilan itu.
“Sudah kubilang Pak Revan, yang mati itu mayat fiktif. Artinya Keadilan yang sesungguhnya masih hidup. Buktinya tadi malam aku bertemu Keadilan. Ia melintas di depan rumahku seperti bayangan ketika hujan deras turun,” aku yakin ia yang berseloroh pasti membual. Aku pun tak mau kalah. Seorang biang kerok sepertiku harus melawan dengan berbagai cara.
“Jangan-jangan yang kau lihat itu bukan Keadilan tapi si Pengadilan,” tuturku, bermaksud membungkamnya.
“Percuma bapak mantan pejabat, kalau bapak menuduhku tidak bisa membedakan mereka. Lagi pula dari tadi kita bicara Keadilan bukan Pengadilan,” lancang sekali mulut itu. Coba kalau aku masih jadi seorang pejabat, akan kuhabisi dia sampai tuntas, tanpa harus menampakkan wajah. Walaupun nyawanya tidak melayang, paling tidak keberaniannya runtuh.
“Bukankah Keadilan dan Pengadilan itu selalu berjalan seiring?” tanyaku lagi, sengaja membodohi diri sendiri, karena ada tujuan tertentu, seperti yang ia lakukan padaku yang tiba-tiba pikirannya berbalik arah karena mungkin ia bermaksud menjebakku.
“Mereka dua hal yang berbeda, walaupun mereka saling mengenal,” jawab Dep. Melihat ia menunjukkan kepintarannya membuat darahku mendidih.
“Kalau tidak ada Pengadilan, mana mungkin lahir Keadilan,” ucapku, bermaksud menguji pengetahuannya. Aku ingin mendengar penjelasan yang menggerutu dan bersifat menggurui, semoga saja ia salah dalam berucap, biar aku bisa membabatnya secara membabi buta.
“Dari dulu sudah ada Pengadilan itu Pak Revan. Dialah yang terus melawan Keadilan,” giliran Taslim yang angkat suara, membuatku kikuk sesaat. Memang benar, sepertinya mereka sekongkol untuk menghujaniku, dan memukulku dengan kata-kata. Permainan yang tidak adil dan tidak seimbang, dua lawan satu. Coba kalau satu lawan satu, aku masih bisa menyesuaikan diri untuk jadi pemenang.
“Cuma Keadilan tak berkutik di depan Pengadilan. Ia sering diinjak dengan uang. Apalagi setelah ia mati. Entah siapalah pembunuh Keadilan itu?” Pertanyaan Taslim membuatku bergetar, apalagi setelah ia melirikku aneh. Sepertinya ada sesuatu yang mereka sembunyikan dariku.
“Aku tidak tahu bagaimana kepribadian Keadilan itu. Apakah ia tergolong orang jujur atau tidak? Bagiku dia tak pernah ada. Paling tidak aku menganggapnya sebuah ilusi,” jawabku berbohong membodohi diriku, dan bermaksud ingin mengelabui mereka, walaupun aku yakin tidak akan berhasil. Aku tidak mau mereka sampai mencurigaiku, dan menuduhku tanpa membeberkan bukti-bukti. Aku tidak menyangka obrolan jadi ruwet seperti ini.
“Seandainya Keadilan benar-benar mati, masih ada keadilan yang hidup dalam diri setiap manusia walaupun sewaktu-waktu ia bisa redup. Ketika seseorang menghapus jejak keadilan dari hati, karena itulah ia korupsi,” kata-kata Dep membuatku tersinggung. Aku sakit hati, karena aku yakin ia bermaksud menghujatku yang pernah jadi pejabat, dan ketahuan korupsi. Tapi bisa selamat, tidak sampai masuk jeruji besi, walaupun akhirnya aku dipecat secara tidak hormat. Keadilan itulah yang menggelegar mengumbar kebobrokanku. Karena itu juga salah satu penyebab, aku ingin membunuhnya diam-diam tanpa seorang pun yang tahu, kecuali pesuruhku.
Aku ingin mengalihkan pembicaraan dengan dua orang itu, tapi tidak berhasil.
“Bagaimana dengan mereka yang mengenalnya, tapi tetap bersikap masa bodoh?”
“Kita tidak bisa selamat hanya dengan mengenal Keadilan saja, tanpa mengikuti jejaknya,” Dep yang menjawab pertanyaan Taslim. Dugaanku tentang mereka yang sengaja mempermainkanku semakin besar dentumannya. Mereka memang bersekongkol untuk melukai nuraniku. Walaupun suara Dep tenang dan santai, tapi menusuk jantungku.
“Selama ini Keadilan itu mencoba melawan, tapi ia selalu kalah oleh Pengadilan yang bekerjasama dengan ketidak adilan yang memiliki persenjataan lengkap.” Ia masih melanjutkan menamparku. Waktu berbincang-bincang panjang seperti itu, tiba-tiba tiga orang polisi datang.
“Dengan Pak Revan?” aku mengangguk gemetar.
“Bapak harus kami bawa ke kantor polisi,” ia mengeluarkan surat perintah penangkapan. Aku yang berkeringat tak bergeming karena ketakutan. Aku melihat wajah kebahagiaan pada dua orang petani miskin itu.
“Bapak terduga pelaku pembunuhan. Untuk keterangan lebih lanjut, jelaskan di kantor nanti.” Ia memborgol tanganku. Kedua kawanku itu tak berkata sepatah pun, mereka saling pandang, dan lempar senyum.
“Sebelum kami membawa bapak, masih ada kesempatan untuk kita berdamai. Kami sudah tahu apa penyebab bapak membunuh Keadilan, dan siapa kawan bapak. Kami juga tahu, bapak jadi orang kaya mendadak dengan uang korupsi sewaktu bapak jadi pejabat. Jika mau berbagi dengan kami, bapak bisa kami selamatkan,” ucap seorang polisi terang-terangan di depan kami. Mungkin ia menganggap dua orang petani kecil itu tak mungkin melaporkan kejahatan polisi, dan mereka tak tahu cara melapor. Tiga polisi itu menatapku sinis menunggu jawabanku.
“Kau lihat kelakuan polisi itu Taslim, menandakan Keadilan itu benar-benar sudah mati,” aku dengar Dep berbisik menatap kawannya dengan wajah kesal.
Depri Ajopan, Anggota Komunitas Suku Seni Riau. Mengajar di Pesantren Basma Darul Ilmi Wassa’dah, Kepenuhan Barat Mulya, Rokan Hulu, Riau, sebagai guru Bahasa Indonesia.




