Oleh Hamidulloh Ibda
Apakah mati? Jelas tidak. Ya, ini soal pramuka. Ekstrakurikuler sejak kecil yang sebenarnya saya sangat tidak suka. Sekali lagi: sangat tidak suka. Tapi masalahnya, ini bukan soal suka dan tidak suka, tapi ini soal alam, kehidupan, dan tentang karakter. Kira-kira begitu!
Sako Pandu Ma’arif NU Jawa Tengah bukan sekadar wadah kepramukaan formal di lingkungan pendidikan, melainkan instrumen strategis kaderisasi pelajar Nahdlatul Ulama yang memadukan nilai keislaman, kebangsaan, dan kepemimpinan. Di tengah tantangan zaman, mulai dari krisis keteladanan, degradasi karakter, hingga disrupsi digital menghidupkan kembali Sako Pandu Ma’arif NU menjadi agenda penting dan mendesak.
Sebagai satuan komunitas pramuka yang berada di bawah naungan Lembaga Pendidikan Ma’arif NU, Sako Pandu Ma’arif NU memiliki mandat ideologis dan pedagogis yang khas. Ia berakar pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyah, berorientasi pada penguatan karakter pelajar, dan berfungsi sebagai ruang praksis pendidikan moderasi beragama di tingkat akar rumput.
- Iklan -
Pramuka Ma’arif NU: Pilar Pendidikan Karakter
Dalam sejarah pendidikan Indonesia, kepramukaan terbukti efektif sebagai media pembentukan karakter, disiplin, dan kepemimpinan. Bagi Ma’arif NU, kepramukaan bukan hanya kegiatan ekstrakurikuler, tetapi bagian integral dari sistem pendidikan. Sako Pandu Ma’arif NU mengintegrasikan Dasa Dharma Pramuka dengan nilai-nilai ke-NU-an: tawassuth (moderat), tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), dan i’tidal (adil).
Di Jawa Tengah, wilayah dengan basis pendidikan Ma’arif NU yang kuat, potensi Sako Pandu Ma’arif NU sangat besar. Ribuan madrasah dan sekolah Ma’arif menjadi ladang kaderisasi pelajar NU yang berkarakter religius, nasionalis, dan berwawasan kebangsaan. Namun, potensi besar ini perlu dihidupkan secara sistematis, terstruktur, dan berkelanjutan.
Tantangan Aktual Sako Pandu Ma’arif NU Jateng
Menghidupkan Sako Pandu Ma’arif NU Jawa Tengah tidak bisa dilepaskan dari realitas tantangan yang dihadapi. Di antaranya adalah melemahnya konsistensi pembinaan, keterbatasan pembina yang kompeten, serta belum optimalnya sinergi antara satuan pendidikan dan struktur organisasi NU. Selain itu, sebagian pelajar memandang pramuka sekadar kewajiban administratif, bukan ruang pengembangan diri yang inspiratif.
Di sisi lain, arus globalisasi dan digitalisasi turut memengaruhi minat generasi muda. Jika Sako Pandu Ma’arif NU tidak adaptif, ia berisiko ditinggalkan. Oleh karena itu, revitalisasi harus dilakukan dengan pendekatan kreatif, kontekstual, dan relevan dengan dunia pelajar hari ini.
Revitalisasi Program
Menghidupkan Sako Pandu Ma’arif NU Jawa Tengah berarti menggeser orientasi dari kegiatan seremonial menuju program yang berdampak. Kegiatan kemah, latihan rutin, dan lomba-lomba harus dirancang sebagai ruang internalisasi nilai, bukan sekadar formalitas. Program seperti Kemah Kemanusiaan dan Perdamaian, pelatihan kepemimpinan pelajar, serta literasi kebangsaan menjadi contoh konkret revitalisasi yang berorientasi substansi.
Dalam konteks ini, Sako Pandu Ma’arif NU dapat menjadi garda terdepan dalam menanamkan nilai moderasi beragama—sejalan dengan misi besar Nahdlatul Ulama sebagai penjaga Islam rahmatan lil ‘alamin di Indonesia. Pelajar dilatih untuk peka terhadap isu kemanusiaan, perdamaian, dan keadilan sosial, sekaligus memiliki daya tahan ideologis dari paham ekstrem dan intoleran.
Sebagai salah satu basis utama NU, Jawa Tengah memiliki posisi strategis dalam menggerakkan Sako Pandu Ma’arif NU. Keberhasilan revitalisasi di Jawa Tengah akan menjadi model nasional bagi pengembangan Sako Pandu Ma’arif NU di wilayah lain. Oleh karena itu, diperlukan komitmen kolektif dari pengurus Ma’arif NU, kepala sekolah/madrasah, pembina pramuka, hingga pelajar itu sendiri.
Sinergi lintas sector, antara lembaga pendidikan, organisasi kepramukaan, dan struktur NU—menjadi kunci. Dukungan kebijakan, peningkatan kapasitas pembina, serta penyediaan ruang aktualisasi pelajar harus berjalan seiring.
Menghidupkan Sako Pandu Ma’arif NU Jawa Tengah sejatinya adalah menanam masa depan. Di tangan para pandu Ma’arif NU, nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan ditanamkan sejak dini melalui pengalaman nyata. Di sanalah lahir generasi pelajar NU yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan sosial.
Jika dikelola dengan visi yang jelas dan langkah yang konsisten, Sako Pandu Ma’arif NU Jawa Tengah akan kembali menjadi kawah candradimuka kader NU: tangguh, moderat, dan siap memimpin Indonesia di masa depan. Begitu!
– Dr. Hamidulloh Ibda, M.Pd., Wakil Ketua Sako Pandu Ma’arif NU Jawa Tengah, Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama Temanggung.



