Oleh Hamidulloh Ibda*
Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (LP Ma’arif NU) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah periode 2024-2029 menggelar Gerakan Literasi Ma’arif (GLM) Ramadan 1446 H di delapan titik di Jawa Tengah, yaitu Blora, Pati, Pemalang, Wonosobo, Temanggung, Magelang, Purworejo, dan Sukoharjo. GLM Ramadan 1446 H mengusung tema “Gerakan Murid Ma’arif Menulis Kreatif Selama Ramadan (GEMUKKAN).”
GLM Ramadan diselenggarakan di delapan titik strategis di Jawa Tengah, yaitu Blora, Pati, Pemalang, Wonosobo, Temanggung, Magelang, Purworejo, dan Sukoharjo. Program ini bertujuan untuk membangun ekosistem literasi di lingkungan pendidikan Ma’arif NU serta membekali peserta dengan keterampilan menulis, desain, dan manajemen redaksi.
Pada tahun pertama pelaksanaan GLM Ramadan tersebar pada 8 (delapan titik). Pertama, Jum’at, 7 Maret 2025 di MTs Hasyim Asyari Jompong, Sumber, Kacamatan Kradenan, Kabupaten Blora. Kedua, Sabtu, 8 Maret 2025 di MA. Roudlotusysyubban Tawangrejo, Jl. Tawangrejo – Winong RT.01/RW.06, Tawangrejo, Winong, Pati. Ketiga, Ahad, 9 Maret 2025 di Pondok Pesantren Mislakhul Muta’allimin , Jalan Santri Nomor 24 Karangtengah, Warungpring, Pemalang. Keempat, Senin, 17 Maret 2025 di Pesantren Karang Santri Bendosari, Bandunggede, Kec. Kedu, Kabupaten Temanggung. Kelima, Selasa, 18 Maret 2025 di SMK Andalusia Wonosobo, Jalan Raya Wonosobo – Kertek No.KM.05, Area Gn., Ngadikusuman, Kecamatan Kertek, Kabupaten Wonosobo. Keenam, Rabu 19 Maret 2025 di SMK Ma’arif NU 1 Bener, Jalan Magelang No.Km. 12, Kaliboto, Bener, Kec. Bener, Kabupaten Purworejo. Ketujuh, Sabtu, 22 Maret 2025 di Aula RA / MI Riyadhus Sholihin Dusun III, Nguter, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo. Kedelapan, Ahad, 23 Maret 2025 di SMK Ma’arif Kota Mungkit Magelang, Jl. Letnan Tukiat Nglerep, Jangkungan, Deyangan, Kec. Mertoyudan, Magelang.
- Iklan -
Gerakan Literasi Ramadan (GLM) Ramadan 1446 H yang diselenggarakan oleh Lembaga Pendidikan Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah resmi berakhir pada 23 Maret 2025. Selama satu bulan penuh pada delapan (8) zona di Jawa Tengah, berbagai materi tentang literasi, kepenulisan, dan jurnalistik digembleng kepada para peserta dari unsur peserta didik, santri, guru, dan tenaga kependidikan.
Banyak cerita dan pengalaman yang sudah saya tulis. Salah satunya adalah “Di Mana Kantor Pusat GLM?” yang nyeletuk dari pertanyaan polos santri Pesantren Karang Santri Temanggung.
Dalam rangkaian GLM Ramadan, dua narasumber tamu yang memberikan pencerahan dalam sesi strategi penulisan dan rilis berita di media massa adalah Kiai Qomarul Adib (pemimpin umum Suaranahdliyin.com) dan Gus Syaiful Mustaqim (Pemimpin Redaksi Soearamoeria.com). Dua orang ini sangat unik saat mengisi materi maupun selama rangkaian perjalanan. Guyonan dan joke-joke bernas selalu hadir dari mereka.
Ketegasan Kiai Qomarul Adib
Kiai Qomarul Adib, pemimpin umum Suaranahdliyin.com, dikenal sebagai sosok yang tegas dan disiplin dalam dunia kepenulisan. Kiai muda asal Kudus ini menegaskan bahwa menulis berita tidak hanya soal menyampaikan informasi, tetapi juga menjaga akurasi dan nilai-nilai kebenaran dalam setiap kalimat yang disajikan.
Dalam sesi materinya, Kiai Qomarul Adib memberikan strategi jitu bagaimana seorang jurnalis harus menggali fakta dengan cermat, melakukan verifikasi, serta menyusun rilis berita yang efektif dan menarik. Ia menegaskan, bahwa menulis berita harus dilengkapi data, jangan terburu-buru menyimpulkan tanpa verifikasi. Seorang jurnalis itu harus bertanggung jawab atas apa yang ditulisnya.
Ia juga menekankan pentingnya memahami karakteristik media massa khusus jaringan LP. Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah. Media massa memiliki standar yang harus dipenuhi. Berita bukan sekadar cerita, tetapi harus memenuhi unsur 5W+1H serta memiliki sudut pandang yang jelas.
Gus Syaiful Mustaqim: Si Suka Tanya
Di sisi lain, Gus Syaiful Mustaqim, yang akrab disapa Gus Taqim, juga turut memberikan wawasan mendalam dalam sesi literasi jurnalistik. Pemimpin Redaksi Soearamoeria.com asal Jepara ini menyoroti pentingnya kreativitas dalam menulis berita, terutama dalam merilis informasi yang mampu menarik perhatian pembaca. “Mas Ibda ini lo perlu ditiru, menulis artikel tiap hari di website pcnupati.or.id,” kata dia yang saya dengarkan dari luar saat mengisi di SMK Ma’arif NU Kota Mungkid, Ahad (23/3/2025).
Gus Taqim, juga meyakini bahwa enulis berita itu seni, bukan sekadar menyampaikan fakta. Kita harus mampu menyusun kata-kata yang mengundang rasa ingin tahu tanpa kehilangan substansi.
Salah satu hal yang paling khas dari Gus Taqim adalah kebiasaannya yang selalu bertanya. Dikenal sebagai “Si Suka Tanya”, ia percaya bahwa bertanya adalah kunci utama dalam menggali informasi yang mendalam. Saya perhatikan, dan akhirnya saya simpulkan bersama Mbah Niam, bahwa Gus Taqim selalu bertanya, bahkan untuk hal yang terlihat sepele. Karena sering kali, jawaban dari pertanyaan sederhana justru membawa kita ke cerita yang lebih besar dan menarik.
Selain itu, ia juga membagikan pengalaman dan strategi menulis rilis berita yang efektif agar bisa diterbitkan di media-media utamanya jaringan LP. Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah. Sebagai penulis, Gus Taqim menegaskan bahwa kita harus punya insting berita yang tajam. Sesuatu yang biasa-biasa saja bisa menjadi berita menarik jika dikemas dengan sudut pandang yang berbeda.
Gus Taqim juga memberikan praktik langsung bagaimana menulis berita yang sesuai dengan kaidah jurnalistik dan cepat menarik perhatian editor media. Menurutnya, penting bagi seorang penulis untuk memahami apa yang dicari oleh media agar berita yang dibuat bisa dipublikasikan secara luas.
Gerakan Literasi Ramadan dengan Semangat Baru
Dengan berakhirnya GLM Ramadan 1446 H, para peserta tidak hanya mendapatkan wawasan teoretis, tetapi juga pengalaman praktik langsung dalam dunia kepenulisan jurnalistik. Baik Kiai Qomarul Adib maupun Gus Syaiful Mustaqim menegaskan bahwa literasi bukan hanya sekadar menulis, tetapi juga alat perjuangan dalam menyebarkan kebaikan dan membangun peradaban.
Semoga dari GLM ini lahir generasi penulis yang tidak hanya pandai merangkai kata, tetapi juga berani menyuarakan kebenaran dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Gerakan Literasi Ramadan pun resmi ditutup oleh Ketua LP. Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah Fakhruddin Karmani, namun semangat menulis dan berkarya terus menyala di hati para peserta. Kini, tantangan sebenarnya bagi mereka adalah mengamalkan ilmu yang telah diperoleh dan terus menebarkan manfaat melalui tulisan.
Kira-kira, Anda tahu atau tidak sosok dari Kiai Qomar dan Gus Taqim?
*Dr. Hamidulloh Ibda, penulis lahir di Pati, dosen dan Wakil Rektor I Institut Islam Nahdlatul Ulama (Inisnu) Temanggung (2021-2025), Koordinator Gerakan Literasi Ma’arif (GLM) Plus LP. Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah (2024-2029), reviewer 31 Jurnal Internasional terindeks Scopus, Editor Frontiers in Education terindeks Scopus Q1 (2023-sekarang), dan dapat dikunjungi di website Hamidullohibda.com.