Oleh Hamidulloh Ibda
Puasa adalah salah satu ibadah penting dalam agama Islam yang dilakukan oleh umat Muslim setiap tahun, terutama di bulan Ramadan. Pada hakikatnya, puasa berarti menahan diri dari makan, minum, serta aktivitas lain yang membatalkan puasa, mulai dari waktu imsak hingga magrib. Gampangane ngono!
- Iklan -
Hal ini adalah bentuk pengabdian dan pengendalian diri yang menjadi inti dari ibadah puasa. Namun, bagi banyak orang, terutama bagi anak-anak yang baru belajar berpuasa, konsep ini bisa jadi cukup sulit untuk dipahami, apalagi jika mereka terbiasa dengan pola makan yang teratur sepanjang hari.
Ada pendekatan yang menarik dan bisa lebih mudah dipahami oleh anak-anak ketika mereka diajarkan mengenai puasa. Salah satunya adalah dengan menggunakan konsep sederhana: “puasa adalah memindah jam makan.” Pendekatan ini tidak hanya membuat puasa lebih mudah dipahami oleh anak-anak, tetapi juga bisa mengubah perspektif mereka terhadap ibadah ini. Lalu, apa sebenarnya maksud dari “memindah jam makan” dan bagaimana konsep ini dapat membantu anak-anak memahami puasa dengan lebih baik? Mari kita ulas lebih dalam, Bro.
Puasa adalah Memindah Jam Makan?
Pada dasarnya, puasa adalah sebuah latihan spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah, dengan menahan diri dari makan, minum, serta berbagai hal yang membatalkan puasa. Namun, jika kita hanya mengajarkan anak-anak bahwa puasa adalah sekadar tidak makan dan minum sepanjang hari, hal ini bisa terasa sangat berat bagi mereka. Anak-anak mungkin merasa lapar, haus, atau bahkan cemas karena mereka belum sepenuhnya memahami makna dan tujuan puasa yang lebih dalam.
Oleh karena itu, pendekatan yang lebih ramah bagi anak-anak adalah dengan mengajarkan mereka bahwa puasa bukanlah sekadar menahan diri dari makan dan minum, melainkan memindahkan waktu makan mereka ke waktu yang lebih sesuai. Dalam hal ini, puasa diubah menjadi sebuah perubahan rutinitas sehari-hari yang lebih mudah dimengerti.
Mengajarkan anak-anak bahwa puasa itu seperti memindah jam makan mereka dapat mempermudah proses adaptasi mereka terhadap ibadah ini. Alih-alih membayangkan puasa sebagai larangan untuk makan sepanjang hari, mereka bisa melihatnya sebagai perubahan kebiasaan makan. Di hari-hari biasa, mereka makan pagi, siang, dan malam, namun saat berpuasa, mereka hanya perlu makan pada waktu tertentu, yaitu saat sahur di pagi hari sebelum imsak dan berbuka puasa saat magrib.
Untuk anak-anak yang baru pertama kali menjalani puasa, membiasakan mereka dengan waktu-waktu makan ini lebih mudah daripada membicarakan tentang menahan diri dari segala bentuk keinginan. Sahur dan berbuka adalah dua waktu yang spesial, yang dapat dikenalkan dengan cara yang menyenankan. Misalnya, sahur bisa dilakukan bersama keluarga dengan hidangan favorit mereka, sedangkan berbuka bisa dilakukan dengan kegiatan menyenangkan, seperti berbuka bersama teman-teman atau keluarga di rumah.
Mengubah waktu makan bukan hanya soal mengubah kebiasaan, tetapi juga soal pengertian mengenai hikmah dan makna puasa itu sendiri. Puasa mengajarkan anak-anak untuk bersabar, menahan diri, dan menghargai nikmat yang diberikan oleh Allah. Dengan membatasi waktu makan mereka, anak-anak belajar untuk menghargai apa yang mereka miliki dan belajar bersyukur atas setiap nikmat yang diberikan, baik makanan maupun hal-hal lainnya.
Selain itu, puasa juga mengajarkan disiplin waktu. Dengan adanya aturan jelas mengenai kapan mereka boleh makan (saat sahur dan berbuka), anak-anak belajar untuk mengatur waktu mereka dengan lebih baik. Mereka belajar menunggu, sabar, dan menghormati waktu yang telah ditentukan.
Puasa: Pengalaman Spiritual yang Menyenangkan
Bagi anak-anak, puasa dapat menjadi pengalaman spiritual yang menyenangkan, jika diajarkan dengan cara yang benar. Mengubah cara pandang mereka tentang puasa dari sekadar “tidak makan” menjadi “memindah jam makan” membuat ibadah ini tidak terasa membebani, melainkan sebagai perubahan yang natural dalam kehidupan sehari-hari mereka. Mereka akan melihat sahur dan berbuka bukan sebagai tugas yang berat, tetapi sebagai momen istimewa yang dapat dinantikan setiap harinya.
Orangtua bisa menciptakan suasana yang menyenangkan seputar ibadah puasa dengan berbagai cara. Misalnya, saat sahur, orangtua bisa menyiapkan hidangan yang bergizi sekaligus disukai anak-anak, sehingga mereka merasa siap untuk menjalani hari dengan penuh energi. Begitu pula saat berbuka, orangtua bisa menciptakan momen berbuka yang penuh kebersamaan dan kegembiraan, baik dengan mengajak mereka berbuka bersama di meja makan atau merayakan kemenangan kecil setelah seharian berpuasa.
Puasa bukan hanya tentang menahan lapar dan haus. Lebih dari itu, puasa adalah cara untuk mengajarkan anak-anak tentang banyak nilai kehidupan yang penting, seperti kesabaran, disiplin, dan rasa syukur. Dengan mengajarkan puasa sebagai “memindah jam makan,” kita juga mengajarkan mereka untuk memiliki pola makan yang sehat dan teratur. Mereka belajar untuk mengelola waktu makan mereka, tidak sembarangan makan di luar waktu yang telah ditentukan, dan menghargai proses.
Selain itu, dengan mengajarkan anak-anak bahwa puasa adalah bagian dari rutinitas harian yang dapat dipahami dan dijalani dengan mudah, kita juga mengajarkan mereka untuk menghadapi tantangan dengan sikap positif. Puasa, yang pada awalnya mungkin tampak seperti sebuah beban, dapat dilihat sebagai kesempatan untuk merasakan kebersamaan, mendalami nilai-nilai spiritual, dan menikmati waktu makan yang lebih teratur.
Menyimpulkan, mengajarkan puasa kepada anak-anak dengan cara yang lebih sederhana, seperti memindah jam makan, adalah pendekatan yang efektif untuk membantu mereka memahami ibadah ini. Puasa tidak hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga tentang mengatur waktu, merasakan kebersamaan, dan mendekatkan diri kepada Allah.
Dengan pendekatan ini, puasa bisa menjadi pengalaman yang penuh makna dan menyenankan bagi anak-anak, sekaligus mengajarkan mereka nilai-nilai yang penting dalam kehidupan. Semoga puasa bukan hanya menjadi kewajiban, tetapi juga kesempatan untuk tumbuh, belajar, dan bersyukur. Adakah konsep lain?
-Penulis adalah dosen dan Wakil Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama Temanggung.