Nyanyian Untuk Langit

Oleh : Mohammad Afin Masrija Tak ada yang lebih menakutkan bagi petani selain langit yang membatu. Di Sumbermulyo, tanah telah lama kehilangan ingatan tentang air. Retakan-retakan di sawah menjalar seperti urat di punggung orang tua. Padi menguning sebelum waktunya, jagung berdiri kurus seperti anak yatim, dan sumur-sumur tinggal cerita. Ancaman gagal panen bukan lagi wacana, […]
Perempuan yang Melawan Wasiat

Oleh: Depri Ajopan Ia yang pasrah tapi takrela, mengucek-ucek mata yang sedih, lalu terjatuh. Untug ia cepat disambut seseorang, kalau tidak kepalanya pasti terbentur ke tembok sebelum jatuh ke lantai. Begitu sadar, pelan-pelan ia bangkit lagi memaksakan dirinya kuat. Pikirannya tertumbuk kepada masa yang sudah berlalu, bersama suaminya ketika berbulan madu mengunjungi sebuah kota. Mereka […]
Pasien Transgender

Oleh : Elin Khanin Hai, aku Barsha Elija. Katakan saja ini adalah salah satu penggalan kisahku. Sudah beberapa kali aku pergi terapi. Tapi tetap saja pemandangan yang aku lihat saat tiba di halaman Pak Kyai Soleh adalah aula yang tidak pernah kosong, selalu penuh oleh orang-orang yang duduk bergerombol. Ruangan menyerupai aula dengan dinding yang […]
Kembalinya Kesatria Naga

Oleh : Jein Oktaviany SEMAKIN dekat kita dengan kematian, maka semakin lambatlah waktu. Itulah yang menyebabkan kenapa kematian begitu aduhai jika difilmkan dalam gerak lambat. Dulu, aku tak pernah percaya, karena tak logis rasanya jika ada seorang yang mati lalu berkata dengan nada suara berat nan bijak, ‘semakin dekat kita dengan kematian maka semakin lambatlah […]
Ruang Tunggu di Dada Ibu

Oleh : Latif Nur Janah Setiap kali perawat itu mengantar makanan, aku teringat bagaimana Ibu mengantar sarapan ke kamar untukku ketika aku tengah menggarap tugas akhir kuliahku. Ibu melakukannya sebab aku kerap lupa waktu. Dengan nelangsa, aku menyuapkan makanan itu ke mulutku tanpa kuhirau rasanya. Bahkan seandainya makanan itu dimasak tanpa bumbu sekalipun, indera pencecapku […]
Merpati Kesayangan

Oleh : S. Prasetyo Utomo MASIH gelap subuh, Samsu mendorong kursi roda Panji Rangsang, ayahnya, meninggalkan Lembah Kelelawar. Kursi roda melintasi jalan berkabut. Mereka menuju surau Kiai Muhaya yang sedang dipugar. Telah sebulan Panji Rangsang salat subuh di surau semenjak terserang lumpuh. Wajahnya menyusut. Tubuh mengering. Sepasang matanya hampa. Dengan wajah menunduk, Samsu mendorong kursi […]