Puisi-Puisi Niam At-Majha

STANZA MALAM di bawah rimbun dedaunan Teh Pagilaran kau diam membisu aku pilih menyimpan rindu berkelindan dalam kelap-kelip terkaan cahaya selama satu pekan siang yang tak menjadi apa-apa “dik, cinta yang sukar telah kita jalani semoga masa nanti, ketika kau dengar dekut burung hantu, malam itu adalah lilin bahagia kita bersama” sepoci […]
Nasi Bungkus

Oleh: Niam At-Majha “Pak minta sesuap nasi, dari kemarin saya belum makan,” “Tunggu sebentar ya..!” Jumat pagi adalah hari yang paling sibuk. Bangun lebih pagi dari hari-hari biasanya. Menyiapkan masakan. Memilih lauk-pauk yang cocok buat hari ini. Kesibukannya di hari jumat tak jauh beda dengan warung-warung makan ketika akan mempersiapkan bahan-bahan untuk di jual […]
Terjaga; Menjaga

Oleh Niam At-Majha Ini hari keberapa aku telah lupa. Berkali-kali berusaha memejamkan mata selalu gagal. Meski sekejap saja. Segala macam cara sudah aku lakukan, mulai pergi ke dokter, bahkan ke tempat-tempat alternatif segala. Nihil tanpa hasil. Apakah aku mempunyai kelainan?apakah ini termasuk penyimpangan? Malam di buat siang adan siang di jadikan malam. Setahuku aku tak […]
Mbah Mul

Oleh Niam At-Majha Bau ampau masih terasa setelah semalam di guyur hujan. Baunya khas, tak bisa dinarasikan dalam bentuk ungkapan kalimat. Sebab bau harum ampau tersebut hanya bisa kita rasakan setelah hujan pertama datang. Setelah berbulan-bulan dilanda kemarau panjang. Bau tersebut selalu di tunggu dengan sabar. Sesabar menunggu rintik hujan pertama datang. Seperti halnya Mbah […]
Namaku Selfie

OlehNiam At-Majha Satu Tahun Menjelang Pemilihan Pada sebuah tempat. Kita bertemu kembali. Sekian lama terlewati; setelah kau memutuskan untuk bersama pilihan orang tuamu. Aku kau suruh mundur teratur. Menerima keadaan. Tak boleh menolak dan melawan bahkan sekadar untuk mengungkapkan apa yang aku rasakan. Sebab ini keputusan tak boleh ada pengecualian Aku kau suruh menjauh. Bertanya […]
13 Kisah Sederhana tentang Anak Yatim

Oleh Niam At-Majha 1. Malam ke delapan rumah menjadi sepi, padahal biasanya ramai, banyak tetangga, saudara berdatangan, membacakan Tahlil, doa bersama untuk Bapak beberapa hari lalu meninggal tanpa sebab, tanpa sakit, tanpa permisi tak pamit terlebih dahulu. Padahal saya khittan baru satu bulan, itupun atas desakan Bapak jika saya harus khittan bulan ini, tak boleh […]