Oleh: V. Listanto
Mari sejenak menengok kembali apa yang terjadi di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Mengapa SMK? Sebab, ingatan kolektif publik rasanya tidak bisa lepas dari ide besar mobil SMK yang sempat populer di awal tahun 2010 silam. Terlepas dari dinamika politik, momentum itu membuktikan satu hal: SMK memiliki potensi besar jika diberikan panggung yang tepat.
SMK sejatinya memiliki modalitas hebat bernama Teaching Factory (TeFa). Secara sederhana, TeFa adalah model pembelajaran yang dibungkus dengan konsep riil seperti pekerjaan yang ada di dunia industri. Tujuannya jelas, untuk membuat produk nyata berupa barang atau jasa, mulai dari perakitan teknologi, pengolahan pangan, hingga pengembangan perangkat lunak.
Bayangkan jika potensi TeFa ini diikutsertakan secara aktif dalam kegiatan ekonomi pemerintah, maka murid SMK tidak hanya mendapatkan tambahan penghasilan, tetapi juga pengalaman berharga berbasis proyek (project-based learning) yang nyata sebelum lulus.
- Iklan -
Mengawinkan TeFa dan Dapur MBG
Peluang emas itu kini ada di depan mata lewat kebijakan politik yang sedang hangat hari-hari ini, yaitu program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pembentukan Koperasi Merah Putih. Saat ini, pemerintah tampaknya akan tetap mempertahankan kebijakan tersebut apa pun yang terjadi, meskipun dihujani banyak kritik. Inti dari kritik masyarakat sebenarnya bermuara pada satu hal: pelaksanaan kebijakan tersebut dirasa masih jauh dari kata memberikan keuntungan nyata bagi masyarakat umum, dan ditengarai baru dinikmati oleh segelintir golongan saja.
Padahal, jika kita melihat gagasan besarnya, setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di bawah Badan Gizi Nasional (BGN) akan mengelola infrastruktur dapur modern untuk mendistribusikan program MBG. SPPG ini dirancang memusatkan pengadaan 85 (delapan puluh lima) persen bahan baku lokal dari petani atau UMKM demi memastikan standar gizi dan higienitas. Nah, jika konsep seideal itu berjalan, rasa-rasanya banjir kritikan akan berkurang. Di sinilah momentum tepat untuk melibatkan murid SMK agar ikut berpartisipasi, sekaligus menggerakkan roda ekonomi lokal.
Contoh nyata yang menginspirasi telah dilakukan oleh SMK Puger Jember. Sebagai salah satu SMK yang bergerak dalam blue economy (ekonomi berkelanjutan berbasis potensi perairan), sekolah yang terletak di pantai selatan Pulau Jawa ini memiliki potensi bahari yang sangat besar. Salah satu tagline andalan mereka adalah “Gerakan Makan Udang Anak Indonesia”, di mana udang vaname menjadi primadona unggulannya.
Abah Kun, kepala sekolahnya yang transformatif, bercerita kepada saya pagi ini pada 8 Juni 2026 yang kebetulan baru saja merayakan panen udang di sekolahnya. “Panen Parsial ke-2, Siklus ke-9, Tahun ke-4 TEFA Budidaya Udang Vannamei kualitas ekspor,” terangnya dengan antusias. Yang bikin bangga: sekolah ini berhasil mandiri pangan. Udangnya dibudidaya oleh anak-anak jurusan Agribisnis Perikanan Payau & Laut, lalu diolah oleh anak-anak Agribisnis Pengolahan Hasil Perikanan. Hasilnya? Menjadi stok Dapur MBG sekolah yang digarap bareng UMKM dan relawan warga sekitar untuk memenuhi asupan gizi ibu hamil, ibu menyusui, balita, dan siswa. Coba bayangkan, jika setiap SMK di Indonesia mampu melakukan hal serupa dengan keunikan potensi lokal masing-masing, maka kesuksesan MBG dan Koperasi Merah Putih akan menjadi sebuah keniscayaan.
Peran SMA di Koperasi Merah Putih
Berdasarkan praktik baik dari SMK Puger Jember dan pemetaan tantangan di atas, pemerintah sebenarnya bisa melaksanakan dua tugas sekaligus, bak peribahasa menyelam sambil minum air. Masyarakat yang kritis tentu tidak ingin melihat Koperasi Merah Putih hanya sekadar memindahkan barang-barang yang biasa dijual di supermarket modern ke dalam toko koperasi. Jika itu yang terjadi, peran koperasi gagal memfasilitasi apa yang diproduksi oleh masyarakatnya sendiri.
Coba bayangkan jika sebuah sinergi dibangun, produk-produk SMK mendapatkan tempat di Koperasi Merah Putih. Etalasenya akan diisi oleh produk TeFa SMK di sekitarnya, disesuaikan dengan potensi daerah masing-masing dengan standar baku yang bagus. Dengan skema ini, kedua belah pihak akan diuntungkan. Koperasi akan memiliki produk khas dari setiap daerah.
Bagi SMK, selain tambahan pengasilan, tentunya memberikan pembelajaran yang nyata bagi para murid sebelum mereka benar-benar memasuki dunia kerja akan menjadi pengalaman yang berharga. Bagaimana jika kolaborasi diperluas, misalnya Koperasi Merah Putih ini nantinya menggunakan media promosi dengan visual ciamik melibatkan anak-anak SMK jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV)? dan masih banyak lagi tentunya potensi kolaborasi yang dapat dijalin dengan jurusan lainnya di SMK.
Menjawab Tantangan Tiga Sektor Ekonomi Baru
Singkatnya, tantangan utama yang kita hadapi hari ini adalah ketidakmampuan SMK untuk secara efektif “menghubungkan dan mencocokkan” (link and match) lulusannya dengan kebutuhan industri yang berkembang di sektor ekonomi baru. Kondisi ini kian diperparah oleh keterbatasan sumber daya fasilitas, adanya disparitas regional, serta kurangnya dukungan kebijakan yang terkoordinasi dengan baik di lapangan.
Dalam penelitian yang saya lakukan bersama rekan-rekan dari Pusat Riset Pendidikan dan Pusat Riset Kebijakan Publik BRIN, yang berkolaborasi dengan UGM, kami menemukan bahwa sebagian SMK masih menjumpai tantangan besar dalam menangkap peluang green, blue, dan digital economy. Hasil studi ini telah kami tuangkan dalam artikel ilmiah berjudul “Vocational education and skills development for new economies in Indonesia: uneasy parallel challenges” (Isbah MF, et al., 2026).
Pertama, di sektor green economy (ekonomi hijau), pertanian SMK menunjukkan potensi kelembagaan yang menjanjikan, namun kemitraan dengan industrinya masih terbatas pada program magang saja, belum meluas ke pengembangan kurikulum atau bantuan peralatan. Peluang pemasaran produk pertanian hasil TeFa juga masih sangat terbatas. Kedua, di sektor blue economy, keterkaitan antara sekolah dan industri masih lemah, terutama di daerah yang tidak memiliki industri skala besar, sehingga pemasaran hasil olahan ikan pun menjadi tantangan tersendiri. Ketiga, di sektor digital economy, program seperti Informatika, Pemasaran Digital, dan DKV memang kebanjiran peminat. Namun, tingginya minat siswa tidak diimbangi dengan ketersediaan fasilitas komputer yang memadai karena jarang diperbarui. Memang sudah ada contoh sukses kemitraan industri seperti SMK RUS Kudus, namun mayoritas SMK di bidang digital belum mengoptimalkan kemitraan yang ada. Selain itu, ekosistem TeFa di bidang digital juga menantang karena sebagian besar program tidak menghasilkan produk fisik yang nyata, kecuali pada jurusan DKV.
Di sinilah program SPPG untuk Makan Bergizi Gratis dan Koperasi Merah Putih seharusnya hadir sebagai jawaban konkret. Kedua program strategis pemerintah ini tidak boleh hanya dilihat sebagai proyek pengadaan logistik semata, melainkan harus dijadikan solusi besar untuk menampung, merangkul, sekaligus memberikan panggung nyata bagi produk dan keahlian anak-anak SMK kita.
Apa yang telah dibuktikan oleh SMK Puger Jember sudah sangat jelas memberikan arah. Sekarang tinggal bagaimana kemauan politik pemerintah untuk merajut sinergi ini secara nasional. Sudah saatnya kita tidak lagi membiarkan SMK berjalan sendirian terseok-seok mengejar industri, melainkan membawa ekosistem industri dan kebijakan negara langsung ke dalam ruang-ruang kelas mereka demi menunjukkan taring vokasi yang sesungguhnya.
– Peneliti Pusat Riset Pendidikan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).



