Oleh: Muhammad Nur Faizi
Masalah literasi nasional menjadi salah satu persoalan paling serius. Data OECD melalui Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menunjukkan skor membaca siswa Indonesia hanya berada di angka 359 poin. Angka tersebut masih jauh di bawah rata-rata OECD yang mencapai 476 poin. Hanya sekitar 25 persen siswa Indonesia yang mampu mencapai Level 2 literasi membaca.
Data tersebut menunjukkan rendahnya kemampuan memahami informasi dan berpikir kritis. Persoalan ini menjadi semakin kompleks ketika masyarakat hidup di tengah arus informasi digital yang bergerak tanpa batas. Media sosial dipenuhi informasi instan, sensasi, hingga hoaks yang mudah memengaruhi cara berpikir masyarakat. Situasi ini membuat literasi menjadi kebutuhan mendesak.
Pada saat yang sama, penggunaan internet di Indonesia terus meningkat. Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2025 mencatat tingkat penetrasi internet Indonesia mencapai 80,66 persen atau sekitar 229 juta pengguna. Tahun 2026 angkanya meningkat menjadi 81,7 persen. Pengguna terbesar berasal dari generasi muda yang hampir seluruh aktivitas sosialnya berada di ruang digital.
- Iklan -
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ruang digital kini menjadi arena utama pembentukan opini publik. Generasi muda menghabiskan banyak waktu di media sosial dibanding membaca buku atau berdiskusi secara langsung. Informasi yang mereka konsumsi setiap hari sangat memengaruhi cara berpikir dan pola perilaku mereka. Karena itu, pendidikan tidak bisa lagi berjalan dengan pola lama.
Lembaga pendidikan kini dituntut hadir di ruang digital. Sekolah dan organisasi pendidikan harus mampu membangun komunikasi publik yang kuat. Mereka harus mampu menyampaikan nilai pendidikan melalui media yang dekat dengan masyarakat.
Perubahan inilah yang mulai dibaca oleh LP Ma’arif NU PWNU Jawa Tengah. Melalui Gerakan Literasi Ma’arif (GLM) Plus, mereka mencoba menghadirkan gerakan literasi yang lebih luas. Fokus gerakan tersebut tidak hanya berkaitan dengan budaya membaca. Fokusnya mulai menyentuh penguatan komunikasi pendidikan di era digital.
GLM Plus dan Strategi Media Pendidikan
Gerakan Literasi Ma’arif (GLM) Plus berkembang jadi strategi komunikasi pendidikan yang cukup menarik di Jawa Tengah. Program tersebut bahkan mulai menjadi objek penelitian akademik mahasiswa UIN Walisongo Semarang. Penelitian itu mengkaji strategi media relations LP Ma’arif NU Jawa Tengah dalam membangun citra lembaga pendidikan. Fenomena ini menunjukkan jika praktik komunikasi pendidikan mulai dipandang penting dalam dunia akademik.
Koordinator GLM Plus, Dr. Hamidulloh Ibda, menjelaskan bahwa program tersebut hadir untuk memperkuat budaya literasi dan membangun citra pendidikan Ma’arif yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa literasi hari ini tidak lagi dipahami sebatas aktivitas membaca buku. Literasi telah berkembang menjadi kemampuan memahami informasi dan membangun komunikasi publik. Pendidikan modern membutuhkan keduanya.
LP Ma’arif NU Jawa Tengah tampaknya memahami bahwa pertarungan pendidikan kini terjadi di ruang informasi. Lembaga pendidikan yang aktif membangun komunikasi publik lebih mudah mendapatkan perhatian masyarakat. Sebaliknya, lembaga yang pasif di ruang digital perlahan kehilangan pengaruh sosial. Kondisi tersebut membuat media menjadi instrumen strategis pendidikan.
Kesadaran tersebut terlihat dari peningkatan jumlah media mitra yang digandeng LP Ma’arif NU Jawa Tengah. Pada tahun 2025 terdapat 14 media mitra yang bekerja sama. Tahun 2026 jumlah tersebut meningkat menjadi 19 media dari berbagai platform online, media lokal, dan radio. Peningkatan itu menunjukkan adanya keseriusan membangun jaringan komunikasi pendidikan.
Kerja sama media menjadi bentuk serius LP Ma’arif NU Jawa Tengah untuk benar-benar membangun pendidikan. Mereka ingin menghadirkan pendidikan Ma’arif di ruang publik digital secara konsisten. Langkah ini sangat berguna untuk memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan Islam.
Hasilnya mulai terlihat cukup pesat. Sejak kepengurusan 2024 hingga awal 2026, lebih dari 1.500 berita tentang aktivitas Ma’arif NU Jawa Tengah telah terpublikasi dan terkliping. Jumlah tersebut sangat besar untuk ukuran organisasi pendidikan tingkat daerah. Capaian ini menunjukkan bahwa komunikasi publik mulai ditempatkan sebagai bagian penting dalam pengembangan pendidikan.
Strategi tersebut sangat relevan dengan perilaku generasi muda saat ini. Data APJII menunjukkan penetrasi internet generasi milenial mencapai 89,12 persen. Generasi Z mencapai 87,8 persen. Mayoritas usia sekolah hidup di ruang digital hampir sepanjang hari sehingga pendekatan komunikasi pendidikan harus menyesuaikan perubahan tersebut.
Masa Depan Pendidikan Islam di Era Digital
GLM Plus menunjukkan jika pendidikan Islam mulai bergerak menuju pola yang lebih modern dan adaptif. Pendidikan tidak lagi hanya dipahami sebagai aktivitas di ruang kelas. Pendidikan mulai hadir di ruang media, ruang digital, dan ruang publik masyarakat. Perubahan ini menjadi langkah penting menghadapi tantangan zaman.
Masyarakat modern kini lebih mudah menilai lembaga pendidikan melalui jejak digital mereka. Orang tua melihat aktivitas sekolah melalui media sosial dan pemberitaan online. Reputasi lembaga pendidikan dibangun melalui konsistensi komunikasi publik. Karena itu, penguatan media relations menjadi kebutuhan yang semakin penting.
Langkah LP Ma’arif NU Jawa Tengah menunjukkan bahwa pendidikan Islam mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas nilai. Mereka tetap membawa misi pendidikan karakter dan nilai Aswaja di tengah arus digitalisasi. Pendekatan seperti ini penting agar teknologi tidak menjauhkan pendidikan dari nilai moral dan budaya.
Gerakan literasi yang dibangun GLM Plus memiliki makna yang lebih luas dibanding program membaca biasa. Gerakan ini mencoba membangun budaya berpikir kritis dan budaya komunikasi sehat di tengah masyarakat digital. Fokusnya menyentuh penguatan pengetahuan sekaligus pembentukan karakter publik. Hal tersebut menjadi kebutuhan penting di era informasi saat ini.
Transformasi seperti ini menunjukkan bahwa masa depan pendidikan Islam sangat bergantung pada kemampuan beradaptasi. Kualitas akademik tetap menjadi fondasi utama. Namun kemampuan membangun komunikasi publik kini menjadi faktor penting dalam mempertahankan kepercayaan masyarakat. Pendidikan membutuhkan keduanya untuk bertahan di era digital.



