Oleh: Vito Prasetyo
Setiap kata adalah api. Dan ilmu adalah sederet kata-kata yang senantiasa menyala. Kata-kata ini seakan melekat erat di ingatan Arsy. Sejak masih di bangku sekolah dasar, narasi itu pernah diucapkan gurunya, dan seakan menempel di dinding ingatan Arsy. Meski Arsy belum mengenal kata-kata filsafat, tetapi makna kata-kata itu sungguh berkesan di hati dan ingatannya.
Arsy adalah panggilan kecil dari Sri Suharsi. Meski ia tidak pernah bertanya kepada orang tuanya, apa arti namanya, tetapi ia ingat betul apa yang dialaminya belasan tahun silam. Ia tidak tahu apa yang disebut alat teknologi, seperti komputer dan telepon seluler. Ia hanya tahu dan melihat berita melalui televisi dan radio.
Arsy tumbuh sebagai perempuan yang cerdas dan kuat. Meski ia tinggal di pinggiran kota yang jauh dari keramaian, dalam hal menuntut ilmu, ia termasuk sangat tekun. Baginya, dengan ilmu pengetahuan yang luas, ia dapat melihat dunia. Salah satu cara untuk memerangi kebodohan adalah dengan banyak membaca buku. Arsy juga sangat mandiri. Tugas sebagai anak dikerjakannya sendiri. Mulai cuci pakaiannya, membersihkan rumah, dan banyak lainnya. Ia sadar, orang tua punya tanggung jawab mencari nafkah demi kebutuhan keluarga.
- Iklan -
Meski tinggal di pinggiran kota, di Singosari Malang, Arsy sejak sekolah sudah mencintai buku. Baginya, membaca adalah jendela dunia. Ia bisa melihat wawasan dan perkembangan dunia. Dan membaca bukan sekadar untuk mengisi waktu luang. Lebih dari itu. Ia bisa mengerti dan paham, betapa pentingnya menguasai literasi. Tidak heran jika ia sering dipanggil sebagai kutu buku. Tetapi zaman begitu cepat berevolusi, seakan tumbuh tergesa-gesa.
Beberapa tahun kemudian, Arsy merasakan teknologi informasi semakin pesat. Tapi ia masih mempercayai jika bacaan buku tidak akan mudah tergantikan. Tapi bagaimanapun juga, ia harus belajar tentang teknologi informasi.
“Engkau akan ketinggalan zaman, Arsy. Dunia kini tidak bisa lagi dipertahankan secara konvensional. Sekarang zamannya transformasi digital.” Seseorang mengingatkannya.
Arsy seperti berjalan di antara lorong waktu yang kian hari semakin menyempit. Di mana, putaran waktu itu bergegas dengan cepat. Bukan semakin melambat. Arsy pantang menyerah. Ia melihat sisi negatif dari kemajuan teknologi akan menggerus nilai-nilai budaya.
Arsy melihat sisi negatif dari kemajuan teknologi akan menggerus sebagian tradisi. Ia menyaksikan anak-anak di kampungnya kini lebih sering menunduk menatap layar, bukan membuka halaman buku. Suara tawa mereka bukan lagi dari permainan di lapangan, melainkan dari video singkat yang cepat berganti.
Suatu sore, ia duduk di teras rumah bersama Dimas, teman lamanya.
“Untuk apa membaca buku tebal seperti itu, Arsy?” tanya Dimas sambil memainkan telepon genggamnya.
“Informasi sekarang tinggal dicari. Cepat. Praktis.”
Arsy menatapnya tenang. Ia tahu, jawabannya pasti akan ditertawakan.
“Cepat tidak selalu berarti paham, Mas.”
Dimas tertawa kecil.
“Paham? Yang penting tahu. Dunia sekarang nggak butuh orang yang lama berpikir.”
“Tapi dunia juga tidak butuh orang yang hanya tahu tanpa mengerti,” balas Arsy pelan.
Dimas menggeleng, lalu pergi. Percakapan itu seperti gema yang menggantung di kepala Arsy. Ia merasa seperti berdiri sendiri di tengah arus yang tak mau berhenti. Dan perdebatan itu terus berlangsung, dengan argumennya masing-masing. Arsy mulai merasa, lingkungannya sudah terjerat dalam kebiasaan-kebiasaan yang sedikit demi sedikit menggerus nilai-nilai etika sosial. Tidak heran cara bersosialisasi masyarakat sudah tidak lagi seperti dulu, terutama sopan santun dalam berbicara.
Apakah bertahan dalam situasi yang menginginkan perubahan secara instan, dan menolak pemikiran modernisasi, orang dianggap tidak mampu menjawab tantangan zaman? Atau justru dunia ini yang tumbuh tergesa-gesa. Tetapi Arsy mulai tersisih, banyak teman-temannya mulai menjauh dari. Arsy dianggap ketinggalan zaman.
Pertanyaan itu terus bertentangan dalam benaknya. Pilihan terbaik adalah tetap bertahan untuk tidak menjadi sosok yang lemah. Sebab ada kalanya rasa ego adalah pilihan yang tepat untuk tetap jujur.
Tak lama kemudian, kabar buruk datang. Sekolah lamanya—tempat ia dulu mengenal makna “kata adalah api”—ditutup. Perpustakaannya terbengkalai. Buku-buku berdebu, rak-raknya kosong seperti kehilangan jiwa. Sekolah itu dibongkar, karena dulunya tanah milik pemerintah.
Arsy datang diam-diam ke bangunan itu. Ia berjalan perlahan, menyentuh meja kayu yang pernah ia gunakan. Yang kini kelihatan seperti barang rongsokan. Di sudut ruangan, ia menemukan sebuah buku tua. Sampulnya hampir lepas, halaman-halamannya menguning.
Di dalamnya terdapat tulisan tangan gurunya dahulu: “Ilmu bukan sekadar untuk diketahui. Ia harus dijaga, agar manusia tidak kehilangan arah.”
Arsy terdiam lama. Ia merasa seperti menemukan bara kecil yang masih menyala di antara debu. Ia pun mencoba menjaga cahaya itu.
Arsy membuka ruang baca kecil di rumahnya. Ia mengajak anak-anak sekitar untuk datang, membaca, dan berdiskusi. Namun yang datang hanya sedikit. Bahkan sering kali tidak ada sama sekali.
“Ngapain ke sana? Membosankan,” kata seorang anak pada temannya.
“Lebih seru menonton di HP,” sahut yang lain.
Suatu hari, seorang ibu bahkan berkata, “Zaman sekarang bukan zamannya baca buku terus, Nduk. Anak-anak harus pintar teknologi.” Arsy tersenyum tipis.
“Teknologi tanpa pengetahuan itu seperti lampu tanpa listrik, Bu. Terang sebentar, lalu padam.” Namun kata-katanya sering dianggap angin lalu.
Di malam hari, ia mulai ragu. Ia menatap buku-buku yang tersusun rapi, sepi tanpa pembaca.
“Apakah aku yang salah?” bisiknya.
“Haruskah aku ikut arus… atau tetap bertahan?” Pergulatan itu semakin kuat.
Hingga suatu hari, terjadi peristiwa yang mengubah segalanya. Seorang anak bernama Raka datang dengan wajah panik. Ia kesulitan memahami tugas sekolahnya—sesuatu yang tidak bisa ia temukan jawabannya secara instan di internet.
“Mbak, aku nggak ngerti ini,” katanya hampir menangis.
Arsy duduk di sampingnya. Ia tidak langsung memberi jawaban, tetapi mengajaknya berpikir. Perlahan, Raka mulai mengerti. Matanya yang tadi gelisah berubah menjadi terang.
“Oh… jadi begini maksudnya…” ucapnya.
Hari itu, untuk pertama kalinya, Arsy melihat sesuatu: pemahaman. Bukan sekadar jawaban. Beberapa hari kemudian, Raka datang lagi. Lalu membawa temannya. Sedikit demi sedikit, ruang baca itu mulai hidup.
Arsy menyadari satu hal—pengetahuan bukanlah sesuatu yang mati ditelan zaman. Ia hanya membutuhkan cara untuk kembali menyala. Keyakinannya tumbuh, bahwa perubahan zaman hanya bisa dijawab melalui literasi dan pengetahuan. Ini menjadi sumber harapan dan inspirasi. Ia pun berubah.
Arsy mulai memadukan buku dengan teknologi. Ia membuat catatan digital, berbagi penjelasan melalui video sederhana, dan menggunakan media sosial untuk mengajak orang membaca.
“Kalau mereka hidup di dunia digital,” katanya, “maka cahaya harus masuk ke sana.”
Perlahan, orang-orang mulai memperhatikan. Anak-anak datang bukan hanya untuk membaca, tetapi juga berdiskusi. Orang tua mulai melihat manfaatnya.
Cahaya itu memang tidak lagi seperti dulu—tidak sunyi, tidak hanya dalam lembaran kertas—tetapi ia menjadi lebih luas, lebih lentur, dan lebih hidup.
Pada sebuah senja, Arsy duduk di depan rumahnya. Ia memandang langit yang perlahan gelap, sementara cahaya lampu mulai menyala satu per satu. Ia tersenyum kecil. Zaman memang berubah. Ia tidak bisa dihentikan. Tetapi pengetahuan—ia bukan sekadar warisan masa lalu.
Ia adalah cahaya. Dan cahaya tidak pernah benar-benar padam—selama masih ada yang menjaganya. Arsy bangkit, membawa beberapa buku di tangannya. Langkahnya ringan, namun pasti. Di tengah arus perubahan yang deras, ia berjalan—membawa nyala kecil yang tak pernah ingin ia biarkan mati. (*)



