BAWUL

Cerpen M. Syaifulloh Kupacu motor sekencang-kencangnya. Usai kengerian yang kusaksikan barusan, rasa-rasanya diri ini ingin selekas mungkin bersimpuh di hadapan Gus Malik. Pada beliau aku ingin memohon ampun. Semata agar segala kejengkelan yang kupendam selama ini tak menjadikan kisahku di pesantren berakhir senahas Bawul.  *** Sinar lampu jalanan masih beradu pendar dengan semburat surya di […]