Mati Rasa

Oleh : Septi Rusdiyana Hari ini Dr Abigael ribut dengan Dr Bas, satu-satunya rekan di timnya yang masih bertahan. Abigael kesal, dia merasa Bas tidak memiliki pendirian. Atau mungkin sebenarnya Bas tidak pernah ingin mereka berhasil menuntaskan riset tentang operasi otak sebagai alternatif penyembuhan penyakit mental akibat trauma. “Kita masih perlu mengkaji ulang,” kata Bas […]
Bidadari Cerita Ibu

Oleh : Damay Ar-Rahman Layar ponsel berkedip-kedip disertai getaran dan nada dering. Terlihat delapan belas panggilan tidak terjawab dari IBU. Nama itu tertera di layar ponsel si lelaki bernama Kemal. Ia sedang menikmati sarapan pagi bersama Sehan dan putrinya Noer. Mereka terlihat saling bercengkrama dan tertawa ceria, terutama ditemani cahaya surya pagi menyinari rumah sampai […]
Penulis Novel dan Seorang Wartawan

Oleh: Depri Ajopan Hari ini terakhir aku merevisi naskahku. Aku yang tidak mau diganggu didatangi biang kerok itu lagi. “Untuk apa kau menulis novel, itukan cerita bohong.” Aku tak terpelanting ocehan bodoh seperti itu. Aku yang tak mau kalah menyampaikan padanya seperti seorang pemidato. “Menulis karya sastra, bukan berarti menulis kebohongan, dan membaca karya sastra […]
Penakluk Danyang

Oleh: S. Prasetyo Utomo “AKU sudah menaklukkan danyang 1) hutan Gandapati,” kata Kiai Muhidin, di surau Kiai Muhaya, lepas isya. Kiai Muhidin diundang Kiai Muhaya dalam kenduri pendirian surau. Kulihat wajah Kiai Muhidin penuh percaya diri. Tiap kali bicara, ia mengangkat muka, dan sepasang matanya menaklukkan Kiai Muhaya, yang selalu menunduk. “Apa danyang itu berupa […]
Mak, Kapan Bapak Datang?

Oleh : Isna Nur Isnaini Bimo masih menyendok nasi dengan sayur bayam di piringnya. Kali ini sendokan terakhir. Piringnya kini kosong. Dari sorot matanya terlihat dia ingin sekali ikut menyendok nasi yang ada di piring Bayu, adiknya, namun diurungkan. “Mas Bimo mau?” Tanya anak berusia 5 tahun itu. Sepertinya dia tahu kalau Bimo belum kenyang […]
Godam Petaka

Oleh: Ilham Wahyudi Bila kemarin adalah musim memetik dan memanen senyum—setelah mantan bosnya menyanggupi permintaannya—maka esok ialah hari bagi buah busuk kesuraman dan juga daun layu kemuraman. Mahli bin Malik sepatutnya lebih mahir menyembunyikan muka kesusahannya. Bukan bau kecemasan yang pantas ia semburkan, melainkan semerbak wangi harapan yang layak menyeruak. Akan tetapi, Mahli memang lelaki […]