Merpati Kesayangan

Oleh : S. Prasetyo Utomo MASIH gelap subuh, Samsu mendorong kursi roda Panji Rangsang, ayahnya, meninggalkan Lembah Kelelawar. Kursi roda melintasi jalan berkabut. Mereka menuju surau Kiai Muhaya yang sedang dipugar. Telah sebulan Panji Rangsang salat subuh di surau semenjak terserang lumpuh. Wajahnya menyusut. Tubuh mengering. Sepasang matanya hampa. Dengan wajah menunduk, Samsu mendorong kursi […]
Penakluk Danyang

Oleh: S. Prasetyo Utomo “AKU sudah menaklukkan danyang 1) hutan Gandapati,” kata Kiai Muhidin, di surau Kiai Muhaya, lepas isya. Kiai Muhidin diundang Kiai Muhaya dalam kenduri pendirian surau. Kulihat wajah Kiai Muhidin penuh percaya diri. Tiap kali bicara, ia mengangkat muka, dan sepasang matanya menaklukkan Kiai Muhaya, yang selalu menunduk. “Apa danyang itu berupa […]
Seberang Titian Bambu

Oleh S. Prasetyo Utomo BERJALAN kaki ke dusun tandus, menapaki langkah mencapai ujung jembatan bambu, Aryo termangu. Akankah ia memaksakan diri meniti jembatan yang bergoyang-goyang itu? Atau membiarkan beduk magrib berlalu tanpa mencapai dusun tandus terpencil yang tersekap gersang pepohonan? Cericit kelelawar telah memberi pertanda, langit segera kelam, dan jalan setapak berlumut ke rumah perempuan […]
Penebar Jala

Cerpen S. Prasetyo Utomo TANGAN Kiai Najib direntangkan serupa sayap malaikat. Berdiri di mimbar masjid, lepas subuh, Kiai Najib memberi tausiah di hadapan jemaah yang setia menyimaknya. Di mata Aryo, Kiai Najib serupa malaikat turun ke muka bumi. Aryo, yang kini selalu salat ke masjid tiap kali mendengar alunan azan, seringkali takjub menatapi Kiai Najib. […]
Doa Penambang Pasir

Oleh S. Prasetyo Utomo ADAKAH doa yang mujarab bagi seseorang agar bisa hidup tanpa bekerja? Beberapa hari tinggal di pesantren Abah Ajisukmo, Seto berpikir ingin hidup tanpa bekerja, dan bisa memperoleh rezeki sepanjang hari. Tak pernah kekurangan untuk menghidupi diri sendiri. Ia berharap Abah Ajisukmo berkenan memberinya doa itu. Seto seorang perantau. Dalam pengembaraannya, […]
Penguburan Sunyi

Cerpen S. Prasetyo Utomo SEEKOR CELENG turun lereng gunung, ditemukan mati dini hari, kaku di ladang singkong. Tergeletak. Tak diketahui wabah penyakit yang menyerangnya. Tubuh celeng itu tidak terluka senjata tajam pemburu. Tidak tertembus tembakan peluru, tidak tertikam tombak. Tak ada tanda-tanda celeng itu mati diracun. Lik Kapir menggali liang cukup dalam dan menimbuni […]