Mendung di Langit Prambanan

Cerpen Ade Mulyono Tidak ada yang tersisa di Demak-Jipang selain ratapan dan isak tangis. Sisa-sisa prajuritnya sudah dihancurkan. Raden Arya Mataram adik Arya Penangsang juga sudah melarikan ke Palembang dengan perasaan hancur lebur. Hanya abu kehancuran yang ia bawa, selain pakaian yang melekat di tubuhnya. Payung emas dan tombak sebagai lambang kekuasaannya juga sudah diturunkan […]
POTRET BURAM DI MUSEUM

Oleh Puspa Seruni Sesaat setelah tubuhku diletakkan di atas balok-balok es, pikiranku membeku teringat pada satu hari pada dua belas tahun lalu saat ibu mengajakku ke sebuah museum. Setiap tahun, Ibu akan memilih satu di antara 365 hari untuk merayakan sebuah tragedi pembantaian. Bangunan museum itu memiliki banyak pintu dan jendela kayu yang tinggi dan […]
Tuah Lontong Cap Go Meh Buatan A Ma

Cerpen Heru Sang Amurwabumi A Ma pernah bercerita, orang-orang Tiongkok Kuno meyakini jika sincia membawa banyak tradisi dan mitologi. Mulai kepercayaan hujan turun di pagi hari yang mengucurkan rezeki bersama air yang dijatuhkan Kaisar Langit untuk membasahi bumi, membawa tumbuhnya harapan-harapan baru di atas tanah, sampai keberadaan makhluk pengacau bumi dengan memangsa hewan ternak dan […]
Pencarian Abdul Jamil

Cerpen Ilham Wahyudi Meski kedua mata Abdul Jamil telah buta, ia tetap nekat ingin bertemu Marlina tali jantungnya. Pada malam ketika bulan penuh membulat, Abdul Jamil memutuskan keluar dari rumah. Baru beberapa langkah dari pintu, tubuhnya yang sudah bagai tengkorak hidup itu berulang kali tersungkur mencium tanah. Namun niat menemui Marlina tak segaris pun surut […]
Cahaya Meredup di Lembah

Cerpen Rumadi Antrean di luar telah membludak. Sejak dua hari yang lalu, Mbah Husni tidak menerima pasien dikarenakan ia sendiri sedang sakit. Hasan dan Husein, kedua cucunya telah mengatakan lewat pengeras suara, bahwa Mbah Husni tidak menerima pasien lagi karena keadaan tidak memungkinkan. Namun pasien terus berdatangan. Semakin panjang. Semakin mengular. Bahkan di antara mereka […]
Yang Terusir dari Langgar

Cerpen Mochamad Bayu Ari Sasmita Cak Kusen—murid-muridnya yang bisa dihitung dengan jari menyebutnya Ustaz Kusen—menoleh ke samping kanan sambil beruluk salam, kemudian melakukan hal yang sama tapi di sisi sebaliknya. Setelah itu, dia mengusapkan kedua telapak tangan ke wajahnya yang sudah berkeriput itu—usianya masih pertengahan empat puluhan. Dia pun memimpin wirid bersama selepas sembahyang di […]