Buaya Terbang

Cerpen Beri Hanna SEGERA setelah Bepak masuk ke kandang lalu keluar dengan dua tangannya mencekik seekor ayam, ia berjalan tenang tanpa menghirau aku yang menatapnya. Ketika Bepak sampai di pinggir sungai—sepertinya Memak belum tahu apa yang akan Bepak lakukan—ia lantas tanpa ragu melempar ayam itu ke arah buaya sambil berseru, “Gamangima!” Aku bukan hanya takjub […]
Penyair

Cerpen Beri Hanna Setelah bertahun-tahun jauh dari rumah, akhirnya saya harus pulang. Menulis puisi di kota besar ternyata tidak menjanjikan. Tidak seperti yang saya harapkan; paling tidak mendapatkan pembaca, justru sangat berbanding terbalik dari itu. Orang-orang tidak suka dan tidak makan puisi. Bahkan uang kontrakan hingga rokok dan segelas kopi tidak pernah bisa dibayar dengan […]