Pandemi, Albert Camus, Dan Takdir

Oleh: BENI SETIA NOVEL ALBERT CAMUS, Sampar (terjemahan NH Dini, Yayasan Obor, 1985) menempati posisi yang unik dalam hidup saya, mungkin karena bercerita tentang karantina pada sekelompok orang di sebuah kota, karena epidemi, menempati posisi yang khusus di dalam masa kanak saya. Bapak—selain perpustakaan sekolah, yang berupa selemari buku, terpaksa dibawa ke rumah karena […]
Sajak-Sajak Beni Setia

MEMO PANDEMI di masa pademi ini: kita belajar mati—denganbertahan hidup, dengan tak sakit tertular, denganmelulu selalu ada di rumah (saja) agar (nanti) tak bosan melulu berbaring dan terkubur2/22 MEMO USIA 1 akan terurai serta tinggal tulang berserak—lantasdihidupkan (lagi). untuk menghadapi pengadilan,untuk (hidup) kekal sebagai yang tervonis2/22 MEMO USIA 2 : apa akan abadi dengan menikah […]
Sajak-Sajak Beni Setia

PANDEMI masih mendengar. telinga makin peka meskidilarang menyimak radio memirsa tv. kitaterkurung—tetap dikurung. terus rindu era normal2/2121 SAJAK ANOMALI terkejut saat tahu: kamu mati bukan karena virus,(sebab) telah tertulis—janji-Nya bagi yang hidup bukan golongan kena musibah—tapi kaum yang berpuasa:tertidur dan jaga saat dzuhur, dan masih terus harus puasa masih harus banyak berpergian, masih harus banyakbergaul—bersilaturahmi […]
SAJAK-SAJAK BENI SETIA

DONGENG PERBURUAN semua bermula dari kebiasaan bersantaporang cina—makan daging binatang liar memburu serta menangkap yang palinglesu serta tidak lagi bisa sigap berlari meski masih garang saat ditangkap: merekasakit, dan virus pembawa sakitnya tertular pada yang memakannya—mungkin tidakmatang dimasak—: dan … 2020 HARI-HARI PANDEMI menjelang azan subuh, menjelang salat subuh: sudahsaatnya (kita) berhenti makan + minum […]