Oleh Hamidulloh Ibda
Rasa-rasanya, mau nulis kok hawane muales. Lo, mengapa? Ya, selain tak bisa membagi waktu, saya khawatir jika tidak ada yang baca di website Maarifnujateng.or.id ini. Tapi saya yakin, pasti ada yang baca kok. Dikarenakan ini bertepatan Hari Buku Nasional, maka saya sempatkan mengetik.
Ya, tiap tanggal 17 Mei, Indonesia merayakan dua tonggak penting dalam peradaban berpikirnya, yaitu Hari Buku Nasional dan Hari Ulang Tahun Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI). Momentum ini bukan sekadar seremonial klise, namun bagi saya ini sebuah jeda filosofis untuk merenungkan ke mana arah literasi kita melangkah.
Di tahun 2026 ini sendiri, perenungan itu terasa lebih mendesak. Kita tidak lagi sekadar memperdebatkan “Buku Cetak vs E-book“. Hahaha namun telah melompat jauh ke dalam arena yang lebih masif, yaitu Kecerdasan Buatan (AI) vs Buku Cetak.
- Iklan -
Ketika teknologi Generative AI mampu merangkum buku tebal ratusan halaman dalam hitungan detik, atau menulis esai filosofis dalam satu kedipan mata, sebuah pertanyaan eksistensial muncul di ruang-ruang baca Perpusnas RI: Apakah lembaran-lembaran kertas beraroma khas itu sedang menghitung hari menuju kepunahannya?
Sebagai penulis opini sejak 2008 silam, saya sendiri memilih untuk berdiri teguh membela buku cetak, bukan karena romantisasi masa lalu, melainkan karena ada esensi kemanusiaan yang gagal direplikasi oleh baris-baris kode biner. Apalagi, saya sendiri mengelola beberapa penerbitan buku, dan juga membuka jasa percetakan buku. Kan kepekso, Bro!
Efek Kognitif dan Deep Reading
Dunia Barat yang melahirkan revolusi AI saat ini justru sedang mengalami gelombang “kerinduan” akan kedalaman kognitif. Profesor Maryanne Wolf, seorang ilmuwan saraf dari Tufts University dalam buku Reader, Come Home: The Reading Brain in a Digital World (2018), mengingatkan ancaman nyata dari budaya membaca digital yang instan.
Membaca di layer apalagi ketika disuapi oleh ringkasan AI, membuat otak manusia berpindah ke mode skimming (membaca cepat). Akibatnya, kita kehilangan kemampuan deep reading (membaca mendalam), sebuah proses kognitif yang melahirkan pemikiran kritis, analisis analogis, dan empati.
AI menawarkan informasi, tetapi buku cetak menawarkan transformasi. Saat tangan kita membalik halaman kertas, ada keterikatan spasial dan memori fisik yang membantu otak mencerna gagasan secara utuh. Data dari Programme for International Student Assessment (PISA) secara konsisten menunjukkan bahwa siswa yang membaca buku cetam memiliki pemahaman materi yang jauh lebih baik daripada mereka yang sepenuhnya bergantung pada gawai.
Bagaimana dengan Indonesia?
Bagi Indonesia, buku cetak memiliki nilai sakral yang melampaui teks itu sendiri. Sejarah mencatat bahwa Hari Buku Nasional yang dicetuskan sejak tahun 2002 sengaja diselaraskan dengan hari berdirinya Perpusnas RI pada 17 Mei 1980. Ini adalah simbol perlawanan terhadap kebodohan.
Bung Hatta, salah satu bapak bangsa kita, pernah berujar dari balik jeruji pengasingan:
“Aku rela dipenjara bersama buku, karena dengan buku aku bebas” (Rahardian, dkk., 2010).
Hatta tidak berbicara tentang kecepatan akses informasi, melainkan tentang kedalaman kontemplasi. Di tengah tantangan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Indonesia yang masih memerlukan dorongan kuat, melompati fase membaca buku cetak dan langsung menyerahkannya pada algoritma AI adalah jalan pintas yang berbahaya.
Ketika masyarakat kita belum sepenuhnya mapan dalam tradisi membaca buku secara utuh, kehadiran AI yang serba instan berisiko menciptakan generasi “tahu sedikit tentang banyak hal, tetapi tidak tahu banyak tentang satu hal pun.” Buku cetak di rak-rak perpustakaan daerah hingga Perpusnas adalah jangkar yang menjaga nalar publik agar tidak terombang-ambing oleh banjir hoaks digital.
Iqra’ dan Keberkahan Proses (Rihlah)
Dalam tradisi intelektual Islam, ilmu bukan sekadar komoditas data yang bisa dipindahkan secara instan melalui perintah prompt AI. Ayat pertama yang turun dalam Al-Qur’an adalah perintah “Iqra'” (Bacalah!), yang diikuti dengan penegasan tentang “Al-Qalam” (Pena/Alat Tulis).
Allah Swt berfirman: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan qalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (Q.S. Al-Alaq, 1-5).
Ayat ini mengikat aktivitas membaca dengan media fisik (pena dan tulisan). Islam sangat menghargai proses spiritual dalam menuntut ilmu, yang dikenal dengan istilah rihlah fi thalab al-‘ilmi (perjalanan mencari ilmu).
Imam Al-Ghazali dalam kitab monumental Kitab Ihya Ulumuddin menekankan pentingnya adab dan proses mental yang aktif dalam menyerap ilmu. Membaca buku cetak menuntut kesabaran (sabar), fokus (khusyuk), dan waktu—elemen-elemen spiritual yang melahirkan keberkahan ilmu (barakah).
Ketika seseorang mengandalkan AI untuk meringkas sebuah kitab, ia mungkin mendapatkan isi teksnya, tetapi ia kehilangan esensi “perjuangan” membaca yang membersihkan jiwa (tazkiyatun nafs). Ilmu dalam Islam bukan sekadar information gathering, melainkan nur (cahaya) yang meresap ke dalam dada melalui proses tadabur yang mendalam.
Apakah kita harus anti-AI? Tentu tidak. Saya saja mumet Ketika banyak tugas mahasiswa oroduk AI. Menolak AI di zaman sekarang sama konyolnya dengan menolak mesin cetak Gutenberg di abad ke-15. Perpusnas RI justru harus memanfaatkan AI untuk mengarsip, menerjemahkan manuskrip kuno, dan memetakan minat baca masyarakat. AI adalah asisten yang luar biasa untuk efisiensi, tetapi ia adalah guru yang buruk untuk kebijaksanaan.
Selamat Hari Buku Nasional dan HUT Perpusnas RI. Mari kembali ke meja baca, ambil sebuah buku cetak, rasakan tekstur kertasnya, dan nikmati petualangan berpikir yang utuh. Sebab di hadapan komputer super canggih sekalipun, kemanusiaan kita justru paling menyala saat kita membuka lembar demi lembar buku dengan penuh kesabaran. Semoga!
-Hamidulloh Ibda, Penulis adalah Rektor Institut Islam Nahdlatul Ulama Temanggung.



