Puisi-Puisi Niam At Majha, ke Saung Kendi, Manuskrib Tanaman, Dua Tangkai Mawar, Dari Senja Ke Cerita, Menu Menu Tersajikan

KE SAUNG KENDI

“senja nanti kita ke bonsai”

ada sungai tanpa ikan ikan

berlari lari dan menari nari

jauh dari asri dan alami

kita bersitatap

bercerita dan berharap

tanpa sebab

hening jauh dengan keramaian

di kelilingi tumbuh tumbuhan

yang di kerdilkan

aku menemukan kenyamanan

“saung kendi, bukan sebatas tempat minum kopi, melainkan menemukan inspirasi”

dari sini

puisi puisi aku tuliskan

memintal kebahagiaan

dilahirkan

rasa kopi tetap sama

tapi dengan siapa kita menikmatinya

“dua cangkir saling tatap

ada dua cinta saling harap”

MANUSKRIB TANAMAN

“aku berusaha memahami

setiap kembali dari sini”

ada harapan di langitkan

pada setiap tanaman

dari air menjadi siraman

tanaman Bunut

batang berkulit abu abu

daun kecil kecil

hijau mengkilap runcing

dan sebagian bilang pohon keramat

karena saudara dengan Beringin

Bugenvil beraneka warna

selayaknya dua cinta

ungu, pink dan merah

dari januari hingga desember

ketika merekah

DUA TANGKAI MAWAR

sebagian catatan catatan

telah usang

padahal perihal kebahagiaan

kau tak seromantis

layaknya ritmis gerimis

setangkai mawar

tak lagi bersinar

dan selanjutnya

pertemuan pertemuan

tak ubahnya kesalahan

kau membawa mawar kembali

dan membuatku berdiam diri

“benarkah ini yang kau mau?”

atau aku tak secantik ketika itu?

hingga kau begitu

DARI SENJA KE CERITA

“tubruk susu sebagai penentu”

saban hari silih berganti

tentang bagaimana

dan dari mana di mulai

meja dekat aliran sungai

tanpa ikan ikan berlari lari

kita memulai

“cerita senja ini terasa istimewa”

perihal cinta dan bahagia

dengan sedih terasa lirih

dan kita akan tetap bersitatap

dengan situasi amat pengap

benarkah semua di mulai dari senja?

dari cerita cerita

MENU MENU TERSAJIKAN

serukhe

dari sebatang serai menjadi aroma tersendiri

dan jahe pelengkap penghangat ketika

angin dan gerimis berbarengan

cecapan jeruk nipis pamungkas pas

sambil tertawa lepas

vietnam drib

menetes pelan pelan

selama kopi tersebut di sajikan

bukankah di sini dari sajian ke sajian

adalah penungguan

dan betulkah kita menikmati?

Niam At Majha, Pecinta Buku dan Kopi, buku puisi barunya Kasidah-Kasidah Muhamad (2025)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top