Puisi-Puisi Yanuar Abdillah Setiadi

Jalan Rahim-Nya

Seolah aku melangkah
Menggapai mimpi-mimpi yang semu
Mengejar cinta yang berhamburan di dunia
Satu persatu ku rengkuh
Berlarian mencari harta di penjuru bumi
Hingga menempuh jalan buntu yang menipu
Seolah tak berujung namun ternyata buntung
Kaki kami melangkah tanpa tujuan dan arah
Berhamburan bagai anai-anai yang rekah saat magrib
dan meninggal ketika menjelang isya
Sesingkat umur manusia yang berfantasi bisa
Hidup sekehendak dirinya.
Setalah kau buta arah
Hasrat yang membuncah meluruh rendah
Kesadaran mulai mengebiri dirimu dari keangkuhan
Berjalan di bumi-Nya dengan miskin tak punya apa-apa
Tapi Ia menuntunmu dengan rahmat kasih-Nya
Selalu melindungimu dari hujan badai dan tipu daya dunia.

Purwokerto, Juni 2022

Cinta-Nya Menjangkau Semesta

Saat kantuk mulai menyengat batang tubuhku
Raga ini aku baringkan pada bumi-Mu yang lapang
Bagi jiwa-jiwa yang senantiasa bersyukur
Jiwaku pun terkadang goyah dihempas godaan
Mulut manusia yang meluruhkan  daun kesabaran dalam lubuk jiwaku
Ku pasrahkan daun itu pada bumi-Nya
Barangkali kesabaran akan menumbuhkan rezeki lain yang tak dinyana
Itulah kebaikan
Kau menanam di sawah, bisa jadi buahnya tumbuh di kebun
Kau menanam di ladang, bisa jadi bunganya merekah di hutan
Manusia tak bisa berspekulasi sekehendak kata
Karena cinta-Nya tak sekadar janji semata
Benih-benih cinta-Nya tertanam di dunia,
di setiap manusia, di setiap masa.
Percayalah!

Purwokerto, Juni 2022

Usia Sebentuk Rahmat-Nya

Pernah aku berandai hidup sepanjang masa
Menjalani rutinitas  yang itu-itu saja
Menumpuk rencana masa muda yang menjamur wacana.
Menimbun dosa yang dimurajaah  berkali-kali
Di belahan bumi ini kau berdusta
Di belahan bumi sana kau mengucap nista
Kata kau itu adalah sebuah seni hidup berwarna
Apa beda hidup sementara bermakna dengan hidup lama cuma-cuma?
Lantas aku kembali pada realitas
Umur adalah rahmat-Nya yang terbatas
Hendaknya dihiasi dengan amal-amal yang bermakna
tanpa menyilaukan sekitar kita.
Jasa selama hidup adalah lilin yang tak kasat mata
Menyala di keheningan usia walau telah tiada.

Purwokerto, Juni 2022

Makam Singgasana Abadi

Saling usung, bahu-membahu di dunia
Membangun istana-istana dalam gambar masa kecil
Pensil dan buku gambar mengaktualisasikan dalam bidang
Saat remaja kau  merealisasikannya
Rumah kau tanam dimana-mana
Berharap investasi beranak-pinak
Kesenangan dunia melalap hatimu yang kering tandus cinta-Nya
Jiwa ragamu menjelma abu
Dikubur dalam tanah yang diakuisisi sebagai milikmu
Padahal itu adalah pemberian-Nya
Kepadamu sebagai singgasana abadi
Yang jarang dilukis dalam kanvas masa kecilmu

Purwokerto, Juni 2022

Ada Jalan menuju Kiblatmu

Melaju ke antah-berantah
Menyusupi ilalang yang tingginya melebihi egomu
Membuka ladang-ladang yang terhalang sengketa
Pohon-pohon ditumbangi agar jalan menuju kiblatmu lekas tertuju
Tapi kiblatmu kadang berubah-ubah
Seperti musim di belahan Eropa sana
Duduklah bersama keheningan itu, kawan
Kiblatmu masih membelakangi arah ibadahmu yang murni
Maka luruskan tekad hakikimu
Karena akan ada jalan menuju kiblat yang sahih

Purwokerto, Juni 2022

*Yanuar Abdillah Setiadi, lahir di Purbalingga, 01 Januari 2001. Mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab UIN Saifuddin Zuhri Purwokerto. Santri Pondok  Pesantren Modern El-Furqon Purwokerto. Karyanya telah tertulis di berbagai media diantaranya; Majalah An-Nuqtoh, barisan.co, mojok.co, litera.co, tajdid.id, sumenepnews.com, mbludus.com, rumahliterasisumenep.org, ruangjaga.com, sukusastra.com, gokenje.id, geger.id, metafor.id, lamanriau.com, lenggokmedia.com, morfobiru.com, labrak.co, maca.web.id, literasikalbar.com, negerikertas.com, secukupnya.com, nalarpolitik.com, riausastra.com, pustakaekspresi.com dan puisi.id. Juara 3 LCQN Pena Artas, Juara 3 LCPN Komunitas Tanjungisme

Exit mobile version