Islam: Agama Damai, Santun, dan Toleran

Ilustrasi: Masjid Indrapuri-Aceh (1880) (Pinterest)

Oleh Dini Salamah

Islam merupakan agama suci yang dibawa oleh Nabi terakhir, yaitu Nabi Agung Muhammad SAW. Selain sebagai agama Samawi, Islam juga dikenal sebagai agama Rahmatan Lil Alamin (rahmat bagi seluruh alam). Dalam artian, Islam menjadi agama yang penuh dengan rahmat dari Allah SWT serta penuh akan  nilai-nilai kasih sayang. Baik kasih sayang terhadap sesama umat manusia, maupun terhadap alam semesta  sebagai ciptaan Allah.

Dalam menghadapi suatu masalah, Islam akan mencari solusi terbaik untuk menyelesaikannya, dengan mengedepankan nilai-nilai Perdamaian. Masih ingatkah kalian akan Perjanjian Hudaibiyah? Sebuah Peristiwa gencatan senjata antara umat Islam dengan kaum kafir Quraisy. Pada saat itu, umat Islam tidak diperbolehkan memasuki kota Makkah oleh kaum Quraisy. Dalam menghadapi situasi ini, Rasulullah memiliki 2 pilihan. Memerangi kaum kafir Quraisy atau melakukan perjanjian damai, yang dinamakan Perjanjian Hudaibiyah. Demi terciptanya perdamaian, Rasulullah pun menyutujui perjanjian damai tersebut. Inilah salah satu bukti nyata bahwa agama Islam adalah agama yang damai, menyeru pada peramaian dan cinta akan kedamaian.

Selain terkenal sebagai agama yang damai, Islam juga di kenal sebagai agama yang santun. Santun sangat erat kaitannya dengan sikap ataupun perilaku. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Santun di artikan sebagai halus dan baik yang meliputi budi bahasa serta tingkah lakunya. Sedangkan maksud Islam sebagai agama yang santun adalah setiap umat Islam harus menjadikan sikap santun sebagai sikap yang utama, sikap paling dasar, serta paling esensial dalam kehidupan sehari-hari.

Sikap santun perlu ditanamkan, baik dilingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat. Mengapa sikap santun itu penting? karena dengan adanya sikap santun maka akan tercipta manusia-manusia yang saling menghormati, mengasihi, menghargai, menyayangi, tolong menolong, lemah lembut, tidak berkata kotor/kasar dan lain sebagainya yang tentunya sangat sesuai dengan syariat Islam.

Sebagai agama yang Mayoritas, Islam erat kaitannya dengan Toleransi. Bahkan agama Islam sangat menjunjung tinggi nilai-nilai toleransi. Yaitu sikap saling menghormati dan menghargai perbedaan. Jadi toleransi beragama diartikan sebagai sikap saling menghormati dan menghargai orang lain, walaupun orang tersebut memiliki keyakinan/ agama yang berbeda dengan kita. Sikap toleran ini dilakukan dalam rangka menegakkan keadilan, kebajikan serta mencegah terjadinya tindakan diskriminasi antar pemeluk agama lain.

Toleransi dalam beragama bukan berarti pemeluk agama Budha mengikuti sholat wajib di Masjid dan umat Islam beribadah dikuil-kuil. Akan tetapi setiap umat beragama disilahkan untuk beribadah sesuai dengan keyakinan dan tempat ibadahnya masing-masing karena toleransi bukanlah mencampuradukkan keyakinan (mui.or.id, 21/05/2022).

Maka dari itu, toleransi kehidupan beragama harus dipahami sebagai bentuk pengakuan adanya agama-agama lain selain agama yang dianutnya, serta dengan segala bentuk sistem dan tata cara peribadatannya. Disamping itu, toleransi beragama juga memberikan kebebasan untuk memeluk/menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinan agama masing-masing.

Sikap toleransi penting dalam kehidupan sehari-hari, apalagi kita hidup di lingkungan masyarakat yang Heterogen. KH. A. Muchith Muzadi mengibaratkan, Indonesia adalah sebuah rumah besar yang dibangun secara gotong royong. Seperti saat membangun rumah yang akan ditinggali bersama-sama. Fondasinya didirikan oleh kaum Muslimin, temboknya didirikan oleh kaum Nasrani, pintunya dibuat oleh kaum Hindu dan gentengnya dipasang oleh umat Budha.

Perumpamaan ini dimaksudkan bahwa semua golongan memiliki andil yang cukup besar dalam membangun rumah yang bernama Indonesia. Selain itu, semua golongan juga memiliki peran serta kewajiban untuk bersama-sama menjaga rumah dari segala ancaman dan bahaya yang dapat menghancurkan maupun meruntuhkan rumah kita (Indonesia).

Islam selalu mengajarkan umatnya akan pentingnya toleransi sebagai bagian dari kehidupan bersama antar umat beragama. Toleransi antar umat beragama, dalam perspektif Islam, dapat diwujudkan dalam segala bidang kehidupan, terutama di bidang sosial kemasyarakatan maupun bidang lainnya, yaitu selama tidak bertentangan dengan aqidah dan syariat-syariat Islam.

Jika ada kelompok/golongan agama yang melakukan aksi-aksi kekerasan, Intoleran, diskriminasi, radikalisme maupun aksi kejahatan lainnya yang mengatasnamakan agama, terhadap pemeluk agama lain, maka sudah dapat dipastikan bahwa dia telah membajak, bahkan melakukan kedholiman terhadap agamanya sendiri. Dalam hal ini, agama bukanlah alat untuk kepentingan politik, ekonomi maupun sosial. Paham-paham seperti inilah yang sangat salah dan pemicu perpecahan antar umat beragama.

Untuk mencegah perpecahan antar umat beragama, maka setiap umat beragama harus memahami dengan baik dan benar akan konsep toleransi sesama umat beragama., untuk terwujudnya perdamaian. Meskipun memiliki akidah, cara pikir serta sudut pandang yang berbeda, namun dengan cara menggandeng tangan semua pihak maka kedamaian akan terwujud. Karena sebuah peradaban mustahil terbangun jika sesama manusia saling berlaku egosentrisme. Akan tetapi, peradaban hanya bisa diwujudkan oleh mereka, orang-orang yang berjiwa besar, orang-orang yang mengerti serta faham akan hakikat Multikulturalisme

Menciptakan perdamaian adalah kewajiban semua agama. Bukan hanya agama Islam saja. Namun semua agama memiliki peran dalam menciptakan perdamaian. Karena pada dasarnya, semua ajaran agama mengajarkan perdamaian, kelemah lembutan, kasih sayang serta pentinya akan sikap toleransi dalam beragama.

– Mahasiswa Prodi Pendidikan Islam Anak Usia Dini Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Institut Islam Nahdlatul Ulama Temanggung

Exit mobile version