Puisi-Puisi Faris Al Faisal

MENDENGARKAN LAUT

Bagi tubuh yang terbaring di semenanjung basah
Mendengarkan laut adalah kebahagian
Merasakan empasan ombak yang menjelma sajak
Membuka pintu dan kemerdekaan
Batu karang penjara yang perlahan tergerus erangan gelombang
Pasang 
Bebunyi di telinga: angin, gemersik garam, dan gemuruh badai 
Keluh kesah cuaca
Sebuah keinginan berdenyut di urat nadi tangan
Meraba otak cahaya dan jalan

Setiap waktu mencelupkan tubuh ke samudra dan buih
Berenang di aliran mata air, bukan air mata
Merasakan asinnya
Menghimpunnya jadi pelajaran dan hikmah
Lalu naik berubah warna menjadi sayap burung-burung laut
Melayang ke udara terbuka
Menjemput awan-awan seputih kapas
   
Membebaskan pikiran-pikiran
Dan beban
Tamasya: kepada keindahan, kepada gerak kehidupan 

Indramayu, 2020

UDARA BUNGA

Udara bunga menyimpan bau pagi yang jernih
Harum mengepung sekeliling tangkai-tangkai mawar
Menggetarkan kau, pokok dari
Rinduku
Yang merawat sebuah cinta
Nama dari seluruh muara kehidupan

Indramayu, 2020

KEANGGUNAN PAGI

Lahirlah pagi
Butir-butir mungil di daun
Tetes-tetes rindu meleleh dipeluk hangat matahari
Maka keanggunan turun ke jalan
Di kulit putih cahaya
Senyum gadis-gadis desa membawa bakul cucian ke sungai

Jangan kau cabut keindahan itu
Memetik kuntum sampai ke akar-akarnya
Pepohonan dan tetumbuhan musim yang menghampiri
Urat mimpi-mimpi
Yang kita rangkai dengan kata-kata dan makna
Tumbuh di kebun, di bulir-bulir jeruk
Dan keranjang rotan yang telah kupersiapkan

Barangkali, barangkali
Pada gerak kuning matahari yang merangkak naik
Ke sanalah kita semestinya

Indramayu, 2020

DEBARAN KEGELAPAN

Sekejap saja kehilangan membawa debaran kegelapan
Menggali ke dalam lubang sumur
Kesunyian tanpa cahaya dan malam abadi

Bagaimana menempuh kebun buah-buahan
Yang manis
Tempat melepas dahaga dan meneguk kesegaran
Musim lewat di antara barisan hutan yang membangkitkan
Pandangan
Melihat sebuah keinginan, sebuah harapan

Aku memanjat lagi, ke batang
Memetik tangkai matahari yang terjulur
Mengumpulkan kembali manik-maniknya yang berguguran
Di kaki

Indramayu, 2020

PERCERAIAN-PERCERAIAN

Adalah perceraian-perceraian
Yang tak kembali
Mengembangkan sebuah jarak rindu
Hilang dan hilang

Melepaskan diri dari lengan yang tulus
Api dipisahkan dari kayu
Air dipisahkan dari hujan

Jauh dan jauh
Dari titik pusat dan terkadang abadi

Indramayu, 2020


PEMUISI

*Faris Al Faisal lahir dan berdikari d(ar)i Indramayu, Jawa Barat, Indonesia. Bergiat di Komite Sastra, Dewan Kesenian Indramayu (DKI) dan Lembaga Kebudayaan Indramayu (LKI). Namanya masuk buku “Apa dan Siapa Penyair Indonesia” Yayasan Hari Puisi. Pada “World Poetry Day March 21” menuntaskan 1 Jam Baca Puisi Dunia di Gedung Kesenian Mama Soegra Dewan Kesenian Indramayu (2021). Puisinya mendapat Hadiah Penghargaan dalam Sayembara Menulis Puisi Islam ASEAN Sempena Mahrajan Persuratan dan Kesenian Islam Nusantara ke-9 Tahun 2020 di Membakut, Sabah, Malaysia, Juara 1 Lomba Cipta Puisi Anugerah RD. Dewi Sartika dan mendapat Piala bergilir Anugerah RD. Dewi Sartika, Bandung (2019), mendapatkan juga Anugerah “Puisi Umum Terbaik” Disparbud DKI 2019 dalam Perayaan 7 Tahun Hari Puisi Indonesia Yayasan Hari Puisi, dan pernah Juara 1 Lomba Cipta Puisi Kategori Umum Tingkat Asia Tenggara Pekan Bahasa dan Sastra 2018 Universitas Sebelas Maret, Surakarta. Tersiar pula puisi-puisinya di surat kabar Indonesia dan Malaysia. Buku puisi keduanya “Dari Lubuk Cimanuk ke Muara Kerinduan ke Laut Impian” penerbit Rumah Pustaka (2018). Email ffarisalffaisal@gmail.com, Facebook www.facebook.com/faris.alfaisal.3, Twitter @lfaisal_faris,  IG @ffarisalffaisal,

Exit mobile version