Ritual Selawat

Cerpen Edy Firmansyah

Bacaan selawat Tibbil Qulub mengalun pelan dari mulut Ni Lamis. Seolah membisikkan kidung penenang hati pada Nisa yang sedang berbaring di lincak reyot. Sementara itu minyak berbau rempah yang dioleskan ke seluruh tubuh Nisa menguar menyelimuti udara. Bercampur dengan bau 99 lembar tembakau kering yang dibakar dan diletakkan di bawah lincak. Nisa yang terbaring di atas lincak tampak terpejam menahan perih asap yang menyusup ke matanya. Tubuhnya berkeringat.

Usai mengusapkan minyak yang entah terbuat dari ramuan apa, Ni Lamis kemudian membaluri tubuh Nisa dengan cairan hitam. Sepertinya dari campuran kopi. Sebab mendadak tercium aroma kopi di seluruh ruangan. Nisa yang sedari tadi terpejam mendadak membuka matanya dan mual-mual. Kemudian muntah. 

    “Howekkk … Howekk ….” 

    Aku yang duduk di samping Nisa dengan sigap segera memijat bahunya. Mencoba mengurangi rasa sakit akibat isi lambungnya keluar. 

    “Reaksi yang biasa. Tenang saja. Tidak akan terjadi apa-apa dengan istrimu,” kata Ni Lamis. Nadanya begitu tenang. Usai meletakkan mangkuk kecil berisi cairan hitam yang baru saja dioleskan ke tubuh Nisa, ia kemudian mengambil puluhan lembar daun jati dan membungkus tubuh Nisa dengan daun itu seperti pepes ikan. 

       Inilah ritual pengobatan tradisional pertama yang dijalani Nisa. Bagi Nisa ritual itu sebenarnya bukan pengobatan, akan tetapi lebih dirasakannya sebagai penghiburan. Sebagai dokter ia sama sekali tidak percaya pengobatan jenis ini akan bisa membuat kanker getah beningnya lenyap dari tubuhnya. Betapa tidak. Bahkan pengobatan modern saja tak sanggup menyembuhkannya. Apalagi cuma asap tembakau, balur kopi, dan minyak kelapa.

    Sejak dirinya divonis menderita kanker getah bening stadium tiga Nisa telah keluar masuk rumah sakit terbaik di negeri ini. Hasilnya nihil. Tak patah arang, ia memutuskan pergi rumah sakit ke Singapura dan Cina untuk mencari hasil terbaik. Tetapi juga tak memberinya banyak harapan. Obat-obatan dan kemoterapi tidak memberi perubahan baik pada tubuhnya. Kian hari tubuhnya makin kurus dan terasa lemas. Rambutnya rontok. Kini kepalanya semulus bola biliar berwana putih. Ia sering demam dan kulit di seluruh tubuhnya muncul bintik-bintik merah yang tidak hanya terasa gatal juga panas membakar. Seolah-olah sel kanker itu terus berbiak dan makin beringas menyerang sistem limfatik, yaitu bagian dari sistem kekebalan tubuh yang berfungsi melawan infeksi. 

    Saking parahnya kondisi Nisa, malah salah seorang dokter di Singapura meramalkan bahwa nyawa Nisa tinggal hanya hitungan bulan. Kabar itu membuat Nisa makin layu saja. 

    “Ayolah, jangan menyerah begitu. Dunia ini terlalu luas dan indah daripada sekadar memikirkan kematian. Semua orang akan mati, kau tahu, bukan? Tapi yang membuat mahkluk hidup itu mati bukan penyakit. Tapi waktu. Waktu kematiannya telah tiba. Separah apa pun sakitmu, jika belum waktunya mati, kau tak akan mati. Bisa jadi aku yang mati duluan. Ayolah, Tuhan menciptakan penyakit dengan obatnya. Pasti ada jalan,” kataku memberinya semangat. 

    Mendengar nasihatku yang pura-pura bijaksana itu, Nisa tersenyum. Sudah lama aku tak melihat senyumnya. Tepatnya sejak ia mendengar vonis kanker itu. Enam bulan lalu. Sejak saat itu hari-hariku dengan Nisa kulalui dengan muram. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku baru paham sekarang betapa mahal kesehatan. Saking mahalnya, bahkan tak bisa ditebus dengan uang. Buktinya, hasilku menabung dan tabungan Nisa sebagai dokter di sebuah rumah sakit swasta tidak mampu membelinya. Aku sendiri sampai tak lagi mampu bersedih. Saking beratnya kesedihan yang kami tanggung berdua. 

    Kabar tentang kanker yang diderita Nisa akhirnya terdengar juga ke kerabat-kerabat kami. Ucapan simpati berdatangan silih berganti. Juga saran-saran tentang ramuan yang mungkin bisa membantu Nisa. Tapi Nisa tak pernah menanggapi serius saran-saran itu. 

“Meminum ramuan yang tak pernah teruji secara klinis itu sama saja mendekatkan diri pada kematian,” keluh Nisa. 

“Tapi kan tidak ada salahnya dicoba, Nis,” aku menimpali. 

“Lama-lama kau macam orang tak pernah mengenyam bangku sekolahan saja, Almas sayang,” sanggah Nisa. 

Dan aku selalu berakhir dengan diam. Dalam keadaan begini aku malas berdebat.

Sampai kemudian sebuah telepon datang dari Paman Nisa. Om Ramli. Mula-mula aku tak tahu kalau Om Ramli kerabat Nisa. Kehidupan Jakarta memang membuat kami sangat jarang bersilaturahmi. Tapi karena dia dengan rinci menyebut kerabat dari garis keluarga Nisa yang aku kenal aku percaya. Mula-mula dia menanyakan perkembangan kondisi Nisa. 

“Ya, begitulah, Om. Nisa sepertinya sudah tak terlalu memikirkan lagi vonis dokter. Dia sepertinya sudah pasrah,” kataku. 

“Mungkin Ibuku bisa membantu. Mengapa tidak coba ke sana. Barangkali ….”

“Siapa, Om?”

“Ni Lamis. Nama lengkapnya Namisati.”

“Ah, Om, tahu sendiri, kan, Nisa pantang sama ramuan-ramuan.”

“Tidak ada ramuan. Hanya balur saja. Cobalah.”

***

    Ketika kuutarakan saran Om Ramli pada Nisa, kontan saja Nisa tertawa sampai tubuhnya berguncang-guncang bagai bemo tua yang sedang mengangkut penumpang. 

    “Kedokteran Singapura aja ndak sanggup mengobatiku, Sayang. Ayolah, jangan bercanda. Kau tidak khawatir Ni Lamis dukun cabul?!” kata Nisa. “Lagipula aku baru dengar nama Om Ramli. Maksudku lupa-lupa ingat.” 

    “Tidak ada salahnya mencoba alternatif. Yang modern belum tentu yang terbaik, bukan? Yang kuno belum tentu yang terburuk. Lagi pula Om Ramli tidak mungkin merekomendasikan ibunya sendiri untuk memangsamu,” kataku. Tapi Nisa tetap bergeming. Baru setelah kurayu puluhan kali, ia akhirnya takluk juga. Bukankah rumah sakit tidak memberi garansi jika pasiennya gagal mengikuti terapi? Pengobatan alternatif juga. 

Kabar baiknya, Om Ramli mengizinkan kami menginap barang sebulan dua bulan di rumah Ni Lamis menikmati keindahan desa dan kemurnian udara kampung yang sejuk. “Cuci otak,” katanya.

    Jadi di sinilah kami sekarang, di Desa Pandan. Ratusan kilometer jauhnya dari Jakarta. Ketika menginjakkan kaki pertama kali kulihat Nisa semringah. Ia berkali-kali membuka kaca mobil dan menghirup udara desa dalam-dalam. Kanan kiri tampak sawah dan rimbun pepohonan.  Rumah Ni Lamis jauh dari pemukiman penduduk. Berada tepat di ujung kampung di bibir hutan. Di bawah lereng Gunung Maddah. 

    “Enak, ya, di sini. Kau menciumnya juga, bukan? Bau dedaunan basah. Bau kayu terbakar. Bau tanah. Segerrrrnya,” teriaknya. Melihatnya Nisa bersemangat seperti itu aku rasanya ingin menangis. Sejak vonis itu sudah tak kulihat lagi sari hidupnya menyala terang. Ibarat lilin, seolah-olah meredup dan tinggal menunggu angin bahkan yang paling pelan memadamkannya. Angin kematian.

    Begitu kami tiba, kami telah disambut Ni Limas. Ia menyuguhi kami makanan dengan lauk berbagai jenis sayur. Ada sayur labu, sayur bayam, dengan ikan Nila sebagai lauknya. Kulihat Nisa makan nikmat sekali. Porsinya lebih banyak dari biasanya ia makan di rumah semenjak menderita kanker. 

    “Tambah lagi, Nak Nisa,” kata Ni Lamis menawarkan.

    “Sudah, Ni, sudah banyak saya makannya. Segar sayurnya,” kata Nisa.

    “Nini memang bikin ini untuk Nak Nisa,” kata Ni Lamis. 

    Malamnya Nisa tidur nyenyak sekali. Biasanya ia sering terjaga tengah malam, karena sering berkeringat dan gatal sekujur badan. Tapi malam itu ia tak mengeluhkan gatal. Ketika bangun ia tampak sangat segar. Sebelum mandi pagi ritual pengobatan itu dijalankan. Membuat Nisa muntah dua kali. Bahkan setelahnya dia buang air besar. 

    Usai ritual pengobatan itu kami sarapan seperti biasa. Sayur mentah. Bahkan Nisa setiap pagi usai minum air putih diwajibkan menelan telur ayam kampung mentah tiga butir. Herannya, Nisa melakukannya tanpa membantah. 

    Siangnya kami membantu Ni Lamis berkebun. Kadang mencari kayu bakar. Atau mandi di sungai yang airnya sangat jernih dan dingin. 

***

    “Entah kenapa, ya, Mas, aku kok merasa kerasan di sini,” kata Nisa pada suatu malam saat kami berbaring di kamar.

    “Pantes aja. Biasanya kamu udah merengek-rengek minta pulang jika sudah ndak kerasan. Ini hari kelima belas kita di sini, Nis. Tapi besok kita harus balik ke Jakarta. Cuti udah habis. Dan lusa jadwalmu periksa ke dokter,” kataku.

    “Suasananya tenang di sini. Ndak seperti di Jakarta. Bising. Hahaha ….”

    “Iya, kita bisa kembali lagi enam bulan lagi. Eh, tapi, entah mengapa, aku merasa kangen padamu.”

    “Ah, kedengaran Nini, nanti.”

Paginya, sebelum kami pulang ke Jakarta, Ni Lamis memberi kami banyak sekali sayuran segar hasil panen dari kebunnya. Juga menuliskan resep balur untuk dilakoni di rumah jika sempat. Kami sangat berterima kasih atas pemberiannya. Juga mewanti-wanti agar kami rajin membaca selawat Tibbil Qulub minimal 33 kali sehari. 

    “Kapan pun kalian ke mari lagi, aku pasti menyambutnya seperti anakku sendiri,” katanya. “Salam sama ibumu, ya Nak Nisa,” kata Ni Lamis.

***

Betapa terkejutnya kami menerima pernyataan dokter bahwa kanker di tubuh Nisa benar-benar hilang sepenuhnya. Bahkan dokter sendiri tidak percaya membaca hasil sken dan data laboratorium. 

“Ini benar-benar kuasa Tuhan,” kata dokter. 

Karena kabar gembira itu kami mengundang kerabat untuk membaca selawat nabi. Setelah usai acara dan tamu undangan telah pulang, kami berbincang dengan ibu. Nisa menceritakan tentang ritual pengobatannya. Nisa juga menyampaikan salam Ni Lamis pada mertuaku. 

“Ni Lamis?! Namisati, maksudmu?” kata ibu heran. 

“Iya, ibunya Om Ramli. Teman main ibu waktu kecil,” kataku menimpali cerita yang dituturkan Om Ramli di telepon. 

Ibu diam sejenak. Seolah sedang mengingat sesuatu. 

“Bukankah keluarga Namisati dibakar penduduk kampung karena menurut mereka Namisati menjalani pengobatan ilmu hitam? Rumahnya dibakar. Namisati dan Ramli terbakar di dalam. Jadi arang. Seingatku peristiwa itu terjadi pada 1999,” kata ibu.

Aku dan Nisa saling berpandangan. Mendadak bulu kudukku meremang. ***


*EDY FIRMANSYAH adalah Pengarang kelahiran Pamekasan, Madura. Pengelola Komunitas Gemar Baca (KGB) Manifesco, Pamekasan. Buku kumpulan cerpennya yang baru terbit adalah “Yasima Ingin Jadi Juru Masak Nippon” (Cantrik Pustaka, Agustus 2021).

Exit mobile version