Yakin Bercita-cita Jadi Dosen?

Ilustrasi: pixabay.com

Oleh Hamidulloh Ibda

Menjadi dosen itu idaman. Ya, meski saya sendiri tidak pernah bercita-cita bahkan bermimpi jadi dosen dan tidak disuruh ayah dan ibu saya untuk jadi dosen. Setidaknya almarhum Bapak Saya bangga di alam sana dengan status dosen pada anaknya yang fakir ini.

Dulu, setelah lulus S2 sekira 2016, saya “ngglundung” dari dunia jurnalis, staf fraksi dan KPU, akhirnya mendaftarkan diri ke beberapa kampus. Banyak yang memanggil dan menerima. Mulai dari Papua, Padang, Bandung, Ponorogo, Magetan, Tuban, Blora, Pekalongan, Batang, Semarang, Temanggung, dan lainnya saya lupa. Itupun bertujuan utama menuruti saran istri. “Nyenengke bojo jarene wajib, Rek.” Akhirnya akhir 2016 saya resmi jadi dosen. Sebuah dunia yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Roda waktu terus berjalan. Saya menyimpulkan menjadi dosen itu keren, bergengsi, apalagi kalau sudah disapa “Pak Dosen” atau “Bu Dosen” itu tampaknya sudah mengalahkan profesi apapun. Teman, kolega, sahabat, kenalan, tetangga dan utamanya keluarga pun bangga. Apakah benar demikian?

Tapi jarang orang menengok lebih dalam. Menguliti apa saja pekerjaannya, kesibukan dan tanggungjawabnya. Bagi dosen ASN baik di bawah Kemdikbud atau Kemenag dan lainnya tidak saya bahas di tulisan ini. Saya hanya membahas dosen swasta berstatus di bawah Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di bawah naungan LLDIKTI-Kemdikbud dan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS) di bawah Kopertais-Kemenag.

Selama ini, sorotan utama soal kesejahteraan adalah pada guru swasta berstatus Guru Tetap Yayasan (GTY), guru honorer, K2, wiyata bakti, atau guru mengabdi. Namun publik jarang menyorot nasib dosen-dosen PTS atau PTKIS yang juga bernasib sama, yaitu bergaji rendah di bawah UMK atau UMR. Tentunya UMK ini menyesuaikan kabupaten/kota di mana kampus itu berdiri.

Secara status oke, keren, wong namanya dosen. Namun soal kesejahteraan banyak yang menyebut dosen itu “kerjaannya sak dus, gajine sak sen”. Nada lain menyebut gaji dosen itu “yen”. Artinya “yen ono duit ya gajian, yen ora ya ora gajian”. Nasibnya malang betul!

Kita jarang menelaah objektif. Jika gaji dosen swasta itu tidak dihitung bulanan, karena kebanyakan dihitung per SKS dan ditambah uang transportasi. Ya, kadangkala ditambah honor kepanitiaan, entah UTS, UAS, wisuda dan acara kampus yang lain yang sering disebut sahabat-sahabat saya sebagai “duit lanang” karena di luar gaji pokok.

Banyak teman-teman saya curhat, karena gajinya di bawah kata humanis. Sebut saja Rp1.500.000 atau maksimal Rp 2.000.000. Kecuali bagi mereka yang sudah sertifikasi dosen meski pencairannya juga menunggu lama. Mending lah. Bagi mereka yang sudah serdos. Yang belum serdos bagaimana? Ya “ngelu” untuk menghidupi keluarga mereka.

Untuk membeli pulsa, bensin, makan, minum, nafkah keluarga dengan uang segitu apa cukup? Belum kayak saya yang doyan ngopi dan rokok, kan tak ketemu akal. Padahal saya sendiri pernah iseng mengkalkulasi untuk biaya operasional keluarga saya sebulan itu sekira Rp 9,5 juta sampai Rp 9,7 juta. Kalkulasi ini untuk tiga angsuran, listrik, wifi dan arisan bulanan. Belum lagi bayar yang momong anak saya, beli susu anak, SPP anak, kebutuhan beli beras, sayur, pulsa, bensin, dan kebutulan lain yang tak perlu saya rinci jelas. La apa kebutuhanku, istriku, anakku cuma itu?

Sangat irasional jika pemasukan saya segitu dengan pengeluaran tiap bulan segitu. Tapi nyatanya, saya masih bisa hidup dan masih kuat beli rokok dan memberi rokok teman-teman saya yang tak kuat beli rokok. Asap dapur istri saya juga masih nyala. Jawabannya karena saya punya usaha selain menjadi dosen. Apa usaha saya? Ya rahasia dong! Artinya, hidup itu utopis dan enigmatis, tapi itu realistis.

Soal modal S2 dan rasio gaji dosen, jika dikalkulasi, biaya untuk studi magister sangat tidak kompatibel dengan besaran gaji ketika mereka menjadi dosen swasta. Sebab, masih jarang saya mendengar dosen swasta khususnya dosen PTKIS di bawah FAI, IAI dan STAI yang bergaji tinggi di atas Rp 5 juta atau Rp 3 juta lah. Sangat jarang bahkan mungkin tiada. Jika ada itu karena mahasiswanya banyak dan manajemen keuangan kampus bagus, ditambah benar-benar menghargai kinerja dosennya. Tapi kan tidak semua kampus demikian.

Itu bagi dosen yang masih magister. Saat ini sudah banyak dosen bergelar doktor dengan studi S3 itu biaya mandiri. Mereka merogoh kocek sendiri untuk lanjut studi S3. Setelah lulus jadi doktor apakah bertambah kesejahteraannya secara materiil? Tidak semua. Ya, paling mentok dipanggil “Pak Doktor” dan “Bu Doktor”. Sebatas prestis saja.

Apakah hanya cukup dengan sapaan itu?Apalagi sistem pengelolaan PTKIS itu belum terlalu menghargai keilmuan dosen. Bukan PTKIS atau PTS yang salah. Namun sistem pendidikan kita mau tidak mau, diakui atau tidak masih mewarisi warisan kolonial.

Wujud riilnya menggaji rendah guru dan dosen meski mereka mentransfer ilmu dan membangun karakter. Sedangkan perusak karakter, sebut saja “artis” digaji tinggi. Ini paradoks yang paripurna.

Ah, mbuh! Ketika dosen sudah dapat serdos justru gaji dari kampus dipotong. Rata-rata begitu. Beberapa senior dosen yang sudah serdos, saya pernah dengar nyeletuk demikian; “Wah, terpaksa jadi Youtuber Pak. Ngandalke gaji dosen, ra iso bayar sekolahe anak”. Begitu salah satu curhatan yang dikirim ke WA saya.

Soal gaji dan uang, sebenarnya sesuatu yang sensitif saya bahas. Bahkan kalau sudah urusan dengan uang, saya mending minggir tak mau tahu. Tapi ini masalah global, karena riil gaji dosen swasta itu standar bahkan di bawah standar. Lalu, kira-kira solusinya pripun?

Jadi Dosen atau Tidak?
Ini soal pilihan. Saya pun tidak menakut-nakuti atau membuka aib. Tapi ini soal sistem dan warisan kolonial. Tak logis memang. Dosen dan guru digaji rendah tapi profesi lain gajinya tinggi.

Padahal idealnya pendidik harus terbebas dari urusan materiil. Artinya, mapan materiil akan menjadikan dosen mapan dalam menjalankan profesinya. Bisa jadi mapan itu sebelum atau setelah menjadi dosen.

Mengapa ini penting? Dalam kitab Adabul Alim Walmuta’allim, Hadratusyaikh KH. Hasyim Asy’ari sudah berpesan bahwa pendidik memiliki etika yang begitu ketat. Sebut saja pendidik menurut Mbah Hasyim dalam kitab ini, ia dilarang memiliki pekerjaan yang “hina” di tengah masyarakat. Gampangannya, dosen tidak boleh memiliki profesi sampingan sebagai penjual togel, atau pemulung dan pekerjaan lain yang dianggap atau dinilai rendah dalam suatu lingkungan masyarakat tertentu.

Di satu sisi kalau mengandalkan gaji kampus tidak bisa untuk bertahan hidup, di sisi lain dosen harus menjaga marwah dan etika profesi. Ngelu tenan!

Kalau orientasinya materiil ya saya sarankan untuk berwirausaha saja. Tapi kalau dorongan keilmuan, ideologi, dan visi mencerdaskan bangsa ya kita harus jadi pendidik, entah dosen atau guru. Ini tugas suci dan berat, sekaliber tugas suci Sun Go Kong dan Guru Tong San Cong pergi mencari kitab suci ke Barat lo. Ini serius!

Urusan kesejahteraan, sebenarnya banyak cara. Sekali lagi, saya sendiri paling malas kalau berbicara dan mengurusi soal uang. Meski butuh, namun saya kira itu realistis akan berkembang ketika dosen menjalankan peran dan fungsinya. Apa itu? Ya lewat penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

Banyak riset yang bisa digarap dosen lewat hibah kementerian, NGO atau lembaga lain. Selain itu, dosen juga harus berwirausaha. Lewat kegiatan wirausaha dalam pendidikan atau di luar pendidikan. Intinya dosen harus kaya materi agar ia fokus berjuang. Kalau dosen kok kekurangan materi, pasti akan repot karena ia pasti tidak fokus menjalankan profesi mulia tersebut.

Bahkan ketika mengajar bisa meracuni mahasiswa jika ia tidak memegang etika profesi mulia ini. Maka gerakan teacherpreneurship atau lecturepreneurship harus diimplementasikan. Saya memegang teguh dawuh KH. Maemun Zubair: “Nak, kamu kalau jadi guru, dosen, atau kiai kamu harus tetep usaha, harus punya sampingan biar hati kamu nggak selalu mengharap pemberian atau bayaran orang lain, karena usaha dari jasil keringatmu sendiri itu berkah.”

Jika tidak mapan secara materiil, dosen akan repot dan pasti ia menjalankan profesinya setengah hati. Maka ini adalah soal paradigma. Kalau niat tulus dan yakin akan dijamin rezekinya oleh Allah dan punya wirausaha di luar pekerjaan sebagai dosen, silakan bercita-cita menjadi dosen agar tidak “oleng” di tengah perjalanan. Meski menjadi dosen juga banyak motivasi, mulai dari gaji, status sosial, atau untuk bargaining position saja.

Tapi jika ingin kaya materiil lewat profesi dosen, ya tak perlu bercita-cita menjadi dosen. Mending Anda secara total berwirausaha saja. Ada pendapat lain?

Penulis adalah dosen dan Ketua Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) STAINU Temanggung, Pengurus Forum Pendidikan Madrasah Inklusi (FPMI) Kemenag RI, menulis buku Teacherpreneurship: Konsep dan Aplikasi.

Exit mobile version