Kisah Seorang Anak Presiden

Ilustrasi: The Wild, Gede Gunada, 2020

Cerpen Erwin Setia

    Sejak hari pelantikan ayahku menjadi presiden, aku merasa orang paling beruntung di muka bumi. Bisa beli apa saja yang kukehendaki dan menyantap makanan apa pun yang kusukai. Soal perempuan? Memangnya siapa yang berani menolak cinta anak presiden? Di mana-mana, orang-orang selalu menghormatiku. Aku memiliki banyak pengawal sehingga aku tak perlu merasa takut bila pergi ke tempat paling mengerikan sekali pun.

    Memang ada segelintir orang yang membenciku dan memaki-makiku secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Tapi itu bukan sesuatu yang harus kurisaukan dan hiraukan. Tiap orang pasti memiliki pembenci-pembenci semacam itu. Jangankan seorang anak presiden, bahkan nabi dan tuhan saja ada yang membencinya.

    Tentu kau tidak asing dengan berita beberapa waktu lalu. Di Eropa ada orang yang mengolok-olok nabi dengan membikin karikatur. Di Asia ada orang yang mencaci-maki tuhan dengan mulut yang alangkah kotor. Maka jika ada orang yang tidak suka padaku, bukanlah hal mengherankan.

    Sesungguhnya aku senang—sangat senang, malah—dengan kehidupanku saat ini. Di mana hari selalu terasa cerah dan tiap yang kuhirup selalu beraroma harum seakan tiada apa-apa di dunia ini selain kecerahan dan keharuman.

    Aku yang sebelumnya hanya anak rumahan dan jarang ke luar kota, kini hampir tiap bulan melanglang ke luar negeri. Bertemu dengan orang-orang asing dan berbincang dengan mereka dalam bahasa asing dengan penuh percaya diri. Mereka selalu takjub padaku. Lebih-lebih ketika kusebutkan nama negeriku dan siapa aku sebenarnya.

    “Kamu anak presiden? Oh, betapa bahagianya aku bisa berbincang dengan anak salah seorang paling penting di dunia.”

    Jelas saja itu membuat hatiku bungah. Aku menimpali mereka dengan senyum dan sikap ramah dan itu kian membuat mereka terkagum-kagum.

    Selain bertemu orang-orang asing, di luar negeri aku menemukan banyak hal lain yang menyenangkan. Memakan makanan-makanan khas negara setempat yang unik, bersantai di tempat-tempat wisata eksotis yang akan membuat iri banyak orang, berkunjung ke museum-museum dan bangunan bersejarah, dan banyak lagi.

    Dalam berbagai acara yang kuhadiri bersama ayah, wartawan tak pernah luput mengikuti kami. Jika pengawal mengawasi kami dengan badan mereka yang kekar dan senjata-senjata di tangan, wartawan mengawasi kami dengan kamera dan tulisan mereka di surat kabar.

    Aku merasa bagai artis. Tiada hari tanpa sorotan kamera. Tiada hari tanpa jadi bahan berita. Semua orang mengenalku. Semua orang menghormatiku (bahkan yang membenciku sekalipun).

    Di hadapan kamera, selalu kupasang wajah paling ramah yang bisa kutampilkan. Sebelumnya tentu saja telah kurias muka dan seluruh tubuh dengan maksimal. Pakaian juga harus selalu yang paling bersih, rapi, dan berkualitas. Pokoknya tidak boleh ada cela dan cacat sedikit pun. Pernah suatu hari aku keluar tanpa bermekap terlebih dahulu karena saat itu aku sedang terburu-buru. Keesokan harinya, ramai di laman berita tentang ketakrapianku tersebut. Setelah hari itu, aku tak lagi mau ceroboh dalam berpenampilan, sekalipun saat terburu-buru. Sebab aku anak seorang presiden. Apabila ada berita tidak sedap seputarku, yang kena getahnya bukan hanya diriku sendiri, melainkan juga keluargaku dan terutama ayahku selaku presiden.

    Kadang aku heran dengan wartawan. Apa saja yang kulakukan menjadi bahan mereka menulis berita. Aku maklum jika aku sedang bersama ayahku dalam suatu kunjungan ke luar negeri di mana ayah hendak membicarakan kerja sama dengan negara lain, lalu wartawan menjadikannya berita. Namun, ketika kaos bola yang kubeli atau dengan perempuan mana aku berteman turut juga dijadikan berita, itu membuatku tak habis pikir dan tak jarang jengkel.

    Menjadi orang terkenal memang tak selalu menyenangkan. Kadang hidup terasa seperti di penjara. Tak ada kebebasan. Tak ada yang betul-betul bisa kulakukan tanpa perlu siapa pun tahu selain diriku sendiri dan tuhan.

    Saat menyadari hal itu, aku berpikir untuk melakukan suatu eksperimen. Keinginan bereksperimen ini makin menebal ketika pada suatu hari aku menonton film yang disarankan salah seorang pengikutku di media sosial waktu aku menulis status Ada rekomendasi film, Gaes?. Film itu berjudul “The Dictator”. Pada salah satu bagian, ada adegan ketika Aladeen—tokoh utama yang menjadi ‘the dictator’ di film itu—kehilangan jenggotnya dan ia pun menyuruh salah seorang yang mirip dengannya untuk melakukan penyamaran.

    Aku berpikir untuk menyamar. Untuk menyamar sebagai orang biasa. Bukan anak presiden sebagaimana yang selama ini orang tahu.

    ***

    Pagi itu, setelah mewanti-wanti kepada pengawal rumah agar jangan memberitahu siapa pun tentang penyamaranku, aku keluar dari rumah dengan berjalan kaki dilanjutkan dengan menumpang angkot.

    Aku mengubah total penampilanku. Kugunakan rambut palsu, kacamata hitam, dan pakaian yang tak mewah—malah terkesan lusuh. Aku juga hanya memakai pewangi badan biasa saja. Dan ketika berjalan, aku tak menegap-negapkan diri atau congkak seperti biasa.

    Di dalam angkot, tak satu pun orang menegurku. Semua penumpang tampak acuh tak acuh dan larut dalam kesibukan masing-masing. Ada yang bengong, main ponsel, ataupun berbincang dengan penumpang sebelah yang mereka kenal. Salah seorang yang duduk di hadapanku malah menatapku dengan pandangan orang tak suka—alis terangkat dan bibir merengut. Seolah-olah aku pencuri yang baru keluar dari penjara.

    Seturun dari angkot, aku menuju terminal yang berdekatan dengan stasiun. Sama seperti saat di dalam angkot, di luar angkot pun tak ada orang menyapaku atau sekadar tersenyum formal. Mereka semua sama tak pedulinya denganku seperti batu dan tiang listrik.

    Padahal, pada hari-hari sebelumnya, tidak ada orang yang tak menyapaku dengan antusias. Malahan orang-orang saling berebut untuk menyalami tanganku atau mengajakku berfoto. Namun, ketika aku melakukan penyamaran, sekejap saja rasa hormat dan kagum mereka rontok. Padahal aku masih orang yang sama. Manusia yang sama. Seorang anak orang nomor satu di negeri ini. Alangkah aneh manusia!

    Aku kembali menaiki kendaraan umum. Kali ini bus mini yang akan membawaku menuju stasiun. Di dalam bus yang sesak dan panas, aku bukan hanya menemukan orang-orang yang masih pula tak hirau dengan keberadaanku. Di sini aku juga bertemu seorang pengamen yang kurang ajar. Bagaimana tidak, ia meminta uang padaku atas nyanyiannya yang buruk dengan mata melotot dan gerakan tangan mengancam. Baru kali ini sepanjang hidup aku mendapat perlakuan semacam itu. Begini kata pengamen itu sebelum turun: “Jangan pelit dan sok-sokanlah jadi orang. Kayak anak presiden aja lu!”

    Ingin rasanya kusepak bokong tipis anak itu dan mengusaikan penyamaranku. Tapi aku menahan diri. Aku masih harus sabar dan melanjutkan penyamaran ini.

    Begitu tiba di stasiun yang padat, aku mesti antre membeli karcis. Biasanya aku selalu didahulukan dalam antrean-antrean semacam ini, bahkan jika aku datang belakangan dan suasana sedang sangat ramai. Namun kali ini harus antre dan menunggu sekitar sembilan orang di depan sebelum giliranku tiba.

    Aku akhirnya mendapatkan tiket dan menunggu kereta tiba.

    Di emplasemen tempatku menunggu kereta juga penuh dengan orang, sehingga aku tak kebagian tempat duduk. Alhasil aku mesti berdiri selama bermenit-menit. Ini juga hal yang tidak pernah kualami sebelumnya. Lazimnya, ketika sedang menunggu kereta seperti ini, tanpa perlu disuruh, beberapa orang beranjak dari kursi dan membuatku bebas memilih kursi mana yang ingin kutempati. Tapi kali ini tidak.

    Ini hari yang berat buatku. Tak ada orang yang menyapa, digertak pengamen, antre panjang, dan tak kebagian tempat duduk. Ternyata sama saja. Menjadi orang terkenal maupun orang biasa punya sisi tak enaknya sendiri-sendiri.

    Ketika kereta yang kutunggu akhirnya tiba, aku memilih untuk berbalik arah dan kembali ke rumah.

    ***

    Di rumah, aku bercerita tentang penyamaranku selama beberapa jam tersebut kepada ayah. Ayah hanya mengelus pundakku, mengulaskan senyumnya yang tulus dan bersahaja, dan bicara dengan tutur kata yang lambat dan lembut tapi teratur kepadaku, “Begitulah hidup, Nak. Siapa pun kamu, selalu ada saja hal yang membuatmu terganggu dan merasa tak nyaman dengan hidup ini. Oleh karena itu, jalani saja hidupmu—sebagai apa pun kamu—dengan rasa sabar dan rasa syukur yang penuh.”

    Saat itu, aku betul-betul hanya berdua bersama ayahku di kamar. Tapi, tak tahu kenapa, keesokan paginya berita tentang anak presiden yang menyamar dan Pak Presiden yang memberikan nasihat bijak kepada anaknya perihal hidup langsung menyebar ke mana-mana. Betapa mengerikan!


*Erwin Setia lahir tahun 1998. Penikmat puisi dan prosa. Kini menempuh pendidikan di Prodi Sejarah dan Peradaban Islam UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media seperti Koran Tempo, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Solopos, Haluan, Koran Merapi, Padang Ekspres, dan Detik.com. Cerpennya terhimpun dalam Dosa di Hutan Terlarang (2018). Bisa dihubungi di Instagram @erwinsetia14 atau melalui surel: erwinsetia2018@gmail.com.

Exit mobile version