Kehidupan Normal Baru

Ilustrasi: Instagram.com/alirezapakdel_artist

Cerpen Edy Firmansyah

“Seseorang yang menulis dengan hati akan sampai pula ke hati. Yang penting menulislah dengan sederhana. Jangan membuat ruwet pembaca. Sebab pembaca tak suka keruwetan. Karena itu menulislah cerita seindah bintang fajar. Seorang pengarang yang demikian bisalah disebut seniman sejati.”

Dia terkesiap dari lamunannya ketika nasihat temannya terngiang-ngiang lagi di kepalanya. Ia kemudian bergegas menyalakan komputer. Keinginannya untuk menulis cerita kembali menyala. Memulai langkah pertama jadi pengarang. Mengirimkan cerita itu pada media yang honornya lumayan untuk menopang kebutuhan hidupnya yang tinggal bersama istri dan kedua anaknya. Belum lagi dia harus menanggung biaya pengobatan mertua laki-lakinya yang terkena kencing manis. 

Sejak pembatasan sosial berskala besar diberlakukan, kafenya yang ia beri nama Manifesco terpaksa tutup. Dan otomatis penghasilannya mampet. Padahal kafé yang terletak di Jalan Jalmak, Pamekasan, Madura itulah satu-satunya sumber penghasilan utamanya. Karena itu dia berharap cerita yang akan ditulisnya ini akan bisa diterima redaksi dan dia dapat menghasilkan uang untuk menyokong kebutuhan hidupnya. Toh, dulu dia pernah ikut kursus menulis kreatif saat masih menjadi mahasiswa. Dan bukankah persoalan menulis adalah persoalan bagaimana memulainya?

Tapi begitu komputernya telah menyala dan aplikasi word telah terbuka dia kembali terdiam. Tema apakah yang menarik untuk ditulis? Pemilihan tema yang menarik tentu lebih mudah memikat redaktur daripada tema yang biasa-biasa saja. Selain itu pembatasan karakter juga perlu dipertimbangkan. Ruang cerpen di media massa, baik cetak maupun elektronik tentu saja terbatas. Dia ingin ceritanya memikat redaktur sehingga tak perlu menunggu lama antrian tayang di meja redaksi.

Sejenak kemudian dia tersenyum seolah menemukan ide untuk sebuah tema. Dia bergegas menekan jari-jarinya ke tombol keyboard. Terdegar suara ketukan yang ritmis saat jari-jarinya mulai menari di papan ketik. Di layar word kini telah tertulis sebuah judul dengan huruf besar; Kehidupan Normal Baru. 

Namun dia berhenti lagi mengetik. Dia mendongakkan kepalanya ke langit-langit kamarnya. Pikirannya berkelana mengenai sebuah lingkungan yang pantas untuk kenormalan baru. 

“Jakarta?” pekiknya. “Ah, tak mungkin. Jakarta terlalu ruwet untuk kembali normal di masa pandemi korona yang belum juga menunjukkan muara akhirnya. Data terkini yang dirilis pemerintah terdapat 40.987 kasus korona dengan angkat kematian 1.214 orang. Dari angka tersebut Jakarta berada di posisi tertinggi sebaran kasus korona di seluruh wilayah Indonesia. Bagaimana dengan Surabaya? Ah, sama saja. Masyarakatnya banyak yang tidak patuh. Pemimpinnya ribut sendiri. Sama rumitnya dengan Jakarta. Ruwet. Ruwet dan ruwet. Bahkan kata orang sebenarnya tak ada kluster-kluster korona di Indonesia, sebab hanya ada satu kluster; kluster NKRI. Itulah mengapa sudah ada 59 negara yang menolak menerima warga negara Indonesia masuk ke negaranya. Bagaimana dengan luar negeri? Amerika? Tentu saja tidak mungkin. Malah terkesan lucu. Dia sama sekali tak pernah ke luar negeri. Lagi pula pandemi korona di banyak Amerika sama buruknya dengan Indonesia.”

Dia terus memeras otaknya untuk menemukan tempat yang pantas untuk ceritanya tapi tetap tak mampu menemukannya. Maka untuk sementara, daripada ceritanya mandek dia memutuskan memilih kota S sebagai lingkungan ceritanya. Tentu tak akan ada yang menggugatnya jika dia memilih kota S untuk ceritanya. Kota tersebut mungkin ada di dalam peta sebaran kasus korona yang dirilis pemerintah. Namun yang jelas masih masuk zona hijau. Tak ada satu pun kasus korona di sana. Entah memang tak ada atau sengaja ditutup-tutupi untuk memoles citra pemerintahnya atau agar masyarakatnya tidak panik, yang jelas kota S cocok untuk ceritanya. 

Maka dia kembali mengetik. Suara ketukan jari-jarinya menggema di seluruh rumah. Tokohnya adalah sebuah keluarga yang terdiri dari seorang suami dan istri yang baru saja menikah. Jelas cocok dengan judulnya. Dua orang anak manusia yang masih muda, yang mula-mula hidup sendiri kemudian memutuskan untuk hidup bersama dalam ikatan pernikahan jelas merupakan kenormalan baru. Keduanya berasal dari keluarga kelas menengah. Baik si suami maupun si istri sama-sama lulusan S2. Si suami adalah lelaki yang tampan dan bekerja sebagai motivator yang buku-bukunya best seller. Sedangkan si istri seorang presenter televisi. Yang jelas keduanya memiliki hobi yang sama; suka membaca sastra. Para pembaca sastra adalah orang-orang yang berbudaya. Pasangan itu juga lulusan S2. Jelas mereka yang berpendidikan tinggi, menyukai sastra, punya budi pekerti yang halus dan wawasannya luas. 

Tentu saja keduanya harus tidak berbeda agama. Apalagi punya kecenderungan suka berpindah-pindah agama. Perbedaan agama dalam sebuah keluarga jelas bukan kenormalan baru. Meskipun sebenarnya semua agama baik. Sejatinya, pasangan suami istri yang berbeda agama adalah baik. Sebab tidak ada agama yang mengajari penganutnya untuk saling menindas agama lain. Tapi kecenderungan masyarakat menganggap sebuah keluarga yang tidak seragam dalam hal agama adalah abnormal. Karena itu untuk memberi efek cerita si istri digambarkan berjilbab. Tentu akan agak ganjil, misalnya, jika si istri beragama lain selain Islam tapi berjilbab. Meskipun tak ada larangan pada perempuan mana pun untuk mengenakan jilbab. Lagi pula hari-hari ini jilbab hanyalah fesyen. Bukan tanda bahwa perempuan yang mengenakannya lebih salihah dari yang tidak mengenakannya. 

Dia berhenti mengetik lagi. Menatap layar komputernya. Mendadak bapak mertuanya memanggilnya dari halaman belakang. Saat itu bapaknya sedang membuat lincak. Langit mendung. Guntur menggelegar seperti mau hujan.

“Ladrak, tolong belikan rokok,” katanya setengah berteriak. 

Dia meninggalkan komputernya yang masih menyala dengan cerita yang belum selesai. Sebelum melangkah ke luar rumah menuju kios rokok tak lupa dia mengenakan masker. Di kepalanya masih terngiang-ngiang kelanjutan ceritanya. Dia berpikir sebaiknya cerita itu diakhiri dengan bahagia. Setidaknya akhir seperti itu menyenangkan banyak orang. Kedua pasangan itu meninggal di usia 100 tahun. Meninggal bersama di sebuah rumah sakit biar menjadi contoh begitulah cinta sejati bekerja. 

“Rokok B Mild satu,” katanya pada penjaga kios. Si penjaga menyerahkan rokok yang diminta. Dia menimang rokok itu dengan saksama. 

“Kenapa, Mas?” tanya si penjaga kios.

“Mengecek masa produksinya. Sebab perusahaan rokok ini menarik semua produksi yang diproduksi dari bulan Maret sampai April karena karyawannya terkena korona,” kata dia.

”Semua rokok, ya, bahaya, Mas. Mau diproduksi masa korona atau tidak,” kata si penjaga kios dengan nada judes. 

“Tapi lebih bahaya mbaknya. Bertemu banyak orang tidak memakai masker di tengah wabah korona,” kata dia sambil menyerahkan uang pas. Si penjaga kios diam. Wajahnya cemberut. Dia kemudian ngeloyor pulang. 

Ketika ia berjalan pulang ke rumah yang jaraknya sepelemparan batu dari kios mendadak istrinya menyongsongnya dengan napas ngos-ngosan. 

“Bapak, Mas! Bapak! Pingsan!”

Mendengar itu dia berlari bersama istrinya masuk rumah. Sesampainya di halaman belakang dia menyaksikan bapaknya tergeletak. Pelipisnya berdarah. Mulutnya berdarah. Beberapa kulit di tangan dan kakinya terkelupas. Seperti melepuh. Seperti orang tersambar petir. Karena tak bergerak, dia menggotongnya ke ruang tengah. Lalu mencoba memompa jantungnya dan memberikan napas buatan. Dia terus memompa dada kirinya tempat di mana jantungnya berada. Lebih dari setengah jam. Dia mulai kehabisan napas. Keringat bercucuran. Ngos-ngosan. Tapi mertua lelakinya itu tak bergerak. Dia raba lehernya, dingin. Istrinya terlihat menelepon sambil menangis. Suara tangisnya keras. Terdengar sampai ke luar rumah. Dia mencoba menenangkannya. Tapi tak bisa. Keduanya telah sama dirundung kalut. Dia memompa lagi. Saat itu jam 17.00 WIB. Anak sulungnya terdiam di sampingnya. Mungkin bingung, mungkin takut. Ingin dia memeluk anak itu sambil mengatakan bahwa ini bisa dialami siapa saja. Tapi dia tak punya waktu untuk bersikap sentimental begitu. Sebab mungkin malaikat maut sedang menghunus pedangnya dengan bengis. Dia terus memompa. Anak keduanya menangis di gendongan istrinya. Beberapa tetangga datang. Berkerumun.

”Bawa ke rumah sakit lekas. Mungkin belum terlambat,” teriak seorang tetangga. Kami setuju. Sebab terlambat berarti maut berhasil mengalahkanku sekali lagi. 

Sesampainya di rumah sakit, seorang perawat berpakaian APD memeriksa nadi dan jantungnya.  Kemudian memberi kabar bahwa mertuanya telah meninggal. Kabar itu membuatnya benar-benar lelah. Sangat lelah. Kematian adalah takdir yang paling menyedihkan. Ada perasaan hampa di dadanya. Ada perasaan mual di perutnya. Setelah dicek medis, ada virus korona di tubuh bapaknya dan karenanya harus dikubur dengan protokol kesehatan. Dia dan keluarganya juga dites swab dan hasilnya positif korona. Dia sekeluarga kemudian dibawa petugas kesehatan untuk isolasi. Ada perasaan terguncang di dadanya. Ada perasaan marah di kepalanya. Tapi kini ia tak bisa berbuat apa-apa. Dia melupakan cerita yang ditulisnya. Melupakan segala kerumitan merangkai kata. Sebab hidupnya sendiri jauh lebih rumit dari sebuah cerita yang dikarangnya.


*EDY FIRMANSYAH, pengarang kelahiran Pamekasan, Madura. Pemimpin umum Komunitas Gemar Baca (KGB) Manifesco, Pamekasan.  Kumpulan cerpennya yang pernah terbit adalah “Selaput Dara Lastri” (IBC, Oktober 2010). Buku puisinya yang telah terbit adalah “Ciuman Pertama” (Gardu, 2012) dan “Derap Sepatu Hujan” (IBC, 2011). Pernah menjadi jurnalis Jawa Pos. Bisa dihubungi via twitter: @semut_nungging atau IG: @edy_firmansyah

Exit mobile version