Karya Kreatif di Ranah Jurnalistik

Oleh MARIA M BHOERNOMO

Menulis sastra (prosa dan puisi) atau esai dan opini, merupakan kerja kreatif. Disebut kerja kreatif karena membuat suatu karya yang orisinal. Dan disebut sebagai suatu karya orisinal karena sebelumnya tidak ada. Jika seseorang membuat suatu karya yang sama dengan karya yang sudah ada maka tidak bisa disebut sebagai kerja kreatif melainkan sebagai kerja plagiatif.

Karena itu, dalam kesusastraan, orisinalitas sangat dihargai dan sebaliknya plagiasi sangat diharamkan. Artinya, setiap sastrawan harus selalu kreatif jika mau tetap eksis. Dan jika ada sastrawan melakukan plagiasi maka sama artinya dengan bunuh diri atau membunuh daya kreativitasnya sendiri.

Untuk dapat selalu kreatif, sastrawan maupun penulis kreatif harus didukung banyak data referensi. Dalam hal ini, pengalaman hidup dan mengenal langsung pernik-pernik kehidupan sering lebih menentukan untuk dapat melahirkan karya kreatif. Misalnya, sastrawan mustahil bisa menulis cerpen yang bagus tentang kehidupan nelayan tanpa pernah melihat laut, pantai, perahu, jaring dan perkampungan di pesisir.

Sedangkan dalam jurnalistik, karya (berita) boleh sama karena berasal dari sumber berita yang sama. Bahkan, karena kerja jurnalistik berdasarkan satu teori dan satu pedoman maka semua media bisa saja memuat berita yang sama dalam waktu yang bersamaan pula karena sumber beritanya memang sama.

Konkretnya, setiap hari semua media bisa selalu memuat berita yang sama, karena semua jurnalisnya bekerja berdasarkan teori dan pedoman yang sama pula. Dan jika sehari-hari ada satu media bisa berbeda dengan media lainnya maka yang membedakannya adalah rubrik sastra atau rubrik opininya, karena kedua rubrik tersebut berisi karya kreatif.

Pada praktiknya, karya kreatif lebih berperan untuk membedakan media yang satu dengan media lainnya. Karena itu, apresiasi terhadap karya kreatif sering lebih tinggi dibanding dengan karya jurnalistik. Misalnya, honorarium satu cerpen atau satu opini yang dimuat media sama dengan 25-50 persen gaji wartawannya di daerah.

Lebih gamblangnya, media akan sulit bersaing tanpa halaman yang berisi karya kreatif, karena setiap hari semua media memuat berita-berita yang sama. Karena itu, persaingan media sering ditentukan oleh tulisan-tulisan kreatifnya dibanding berita-beritanya. Dalam hal ini, penulis kreatif yang sudah punya nama akan lebih suka mempublikasikan karyanya di media terbesar bukan hanya karena honornya terbanyak tapi juga karena jumlah pembacanya juga terbanyak.

***

Apa bedanya (pekerjaan) sastrawan dengan (pekerjaan) wartawan? Jawabannya bisa panjang lebar. Saya akan mencoba menjawabnya dengan sederhana:

Sastrawan bekerja dengan lebih banyak mengandalkan perasaan, pikiran dan imajinasi, dibanding ingatan.

Karena mengandalkan perasaan, pikiran dan imajinasi, sastrawan bisa tetap berkarya meskipun mengurung diri atau terkurung di dalam kamar sempit tanpa jendela dan sarana telekomunikasi. Dalam hal ini, banyak sastrawan mampu melahirkan karya sastra yang bagus-bagus dari kamar tidurnya maupun dari dalam sel penjara yang sunyi, pengap dan sempit.

Bahkan ada sejumlah sastrawan tetap produktif melahirkan karya sastra meskipun sejak lahir dia selalu duduk di kursi roda atau berbaring di atas ranjang karena menderita kelainan fisik (cacat atau lumpuh).

Merujuk data empiris, banyak karya sastra yang monumental dan mendapat banyak penghargaan justru karena dilahirkan di dalam tahanan. Misalnya, novel Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa dan Rumah Kaca karya Pramoedya Ananta Toer yang ditulisnya ketika sedang menjalani masa tahanan rejim Orde Baru di Pulau Buru.

Sebaliknya, wartawan bekerja dengan lebih banyak mengandalkan ingatan dibanding perasaan dan pikiran. Sedangkan imajinasi adalah sesuatu yang ditabukan bagi wartawan. Konkretnya, pekerjaan wartawan adalah menyampaikan informasi tentang suatu peristiwa kepada publik berdasarkan ingatan terhadap peristiwa tersebut serinci-rincinya atau seakurat-akuratnya. Makin rinci dan akurat ingatannya tentang suatu peristiwa yang bisa disampaikan kepada publik maka makin hebatlah dia sebagai wartawan.

Dan karena mengandalkan ingatan secara rinci, wartawan dilarang berimajinasi ketika sedang bekerja. Misalnya, wartawan dilarang keras mengarang berita berdasarkan imajinasinya, karena berita yang dikarang berarti tidak faktual alias cerita fiktif. Sedangkan cerita fiktif tidak dapat disebut sebagai berita.

Dengan demikian, wartawan diharuskan untuk (disengaja atau kebetulan) hadir menjadi saksi atas suatu peristiwa yang akan dapat dikomunikasikan kepada publik. Seorang wartawan mustahil bisa bekerja ketika mengurung diri atau dikurung di dalam kamar tidur atau di dalam sel penjara yang sunyi, pengap dan sempit tanpa sarana telekomunikasi.

Ada kalanya wartawan mampu menghasilkan karya jurnalistik yang sangat berharga karena dirinya secara kebetulan bisa hadir dan menjadi satu-satunya wartawan yang menyaksikan peristiwa besar dan kemudian bisa menyampaikannya kepada publik.

Misalnya, Dahlan Iskan ketika masih menjadi wartawan majalah TEMPO bisa menyaksikan peristiwa detik-detik terbakarnya Kapal Tampomas II yang kemudian tenggelam di laut lepas yang menelan banyak korban jiwa. Betapa rincinya Dahlan Iskan merekam kepanikan para penumpang yang terjun ke laut dan yang tewas dalam kondisi hangus terbakar dalam tragedi mengenaskan di tengah laut tersebut. Maka beritanya menjadi sangat ekslusif dan kemudian mengantarkannya sebagai Bos Jawa Pos Grup yang sukses.

Selain itu, banyak peristiwa lain yang kemudian menjadi berita eksklusif dan monumental karena disampaikan oleh wartawan yang kebetulan juga menyaksikannya secara langsung. Misalnya, foto jurnalistik tentang seekor burung nazar yang sedang menghampiri seorang bocah di benua Afrika yang sekarat dalam perangkap kawat berduri di tengah kancah perang saudara. Atau foto jurnalistik yang sangat indah tentang migrasi sekawanan pinguin yang terbang di atas lautan beku di antara bukit-bukit es yang bercahaya di Antartika.

***

Cerita dan berita, adalah dua kata yang hampir sama, atau hanya dibedakan oleh huruf pertamanya. Sedangkan artinya juga hampir sama, yakni memuat informasi yang identik dengan produk jurnalistik.

Lebih gamblangnya, cerita bisa dikategorikan sebagai berita, dan sebaliknya berita dapat juga dianggap sebagai cerita, karena sama-sama memuat unsur 5 W 1 H. Artinya, baik cerita maupun berita bisa layak dianggap menarik jika sama-sama memuat unsur 5 W 1 H.

Jika cerita tidak berdasarkan fakta, maka lazimnya disebut sebagai fiksi, seperti prosa dan puisi. Meskipun fiksi, prosa dan puisi bisa juga memuat narasi-narasi dengan latar dan tokoh faktual sehingga sekian persen bernilai jurnal. Jika cerita fiksi bisa menarik dan digemari publik, tentu karena ditulis dengan penuh pertimbangan dan perhitungan berdasarkan perasaan dan pikiran serta imajinasi.

Lebih gamblangnya, pekerjaan sastrawan adalah mempertimbangkan dan memperhitungkan setiap kata dan tanda baca. Artinya, sastrawan selalu memilih setiap kata ketika sedang menyusun kalimat dan paragraf untuk kemudian menjadi sebuah prosa atau puisi.

Proses memperhitungkan dan mempertimbangkan kata-kata yang akan dipilih untuk disusun menjadi karya sastra (prosa maupun puisi), lazimnya disebut sebagai proses kreatif. Dalam hal ini, untuk bisa mahir dan cermat memperhitungkan dan mempertimbangkan kata, sastrawan diharuskan untuk tidak lagi terkendala oleh bahasa.

Artinya, perbendaharaan kata dan seluk beluk tata bahasa serta pengertian tentang frasa
harus tidak asing lagi. Semakin akrab dengan perbendaharaan kata, semakin mengerti seluk beluk tata bahasa dan frasa, akan membuat sastrawan semakin lihai dalam berkarya. Sebab, setiap kosakata pada dasarnya memuat informasi atau pengetahuan dan wawasan, karena itu sastrawan diharuskan untuk selalu aktif mengaktualisasikan pengetahuan dan wawasannya dengan rajin membaca dalam arti seluas-luasnya.

Ibarat kendi, mustahil bisa mengucurkan air jika tidak terisi oleh air. Demikian juga halnya sastrawan, semakin banyak pengetahuan yang masuk ke dalam perasaan, pikiran dan imajinasinya, akan membuatnya semakin produktif dan kreatif. Lebih gamblangnya, sastrawan mustahil mampu menulis novel tentang korupsi berjamaah jika tidak pernah mengikuti berkembangan yang berlangsung di dalam suatu pemerintahan.

Dengan demikian, calon wartawan atau sastrawan sebaiknya selalu aktif mengaktualisasikan dirinya dengan memperkaya perbendaharaan kata, agar berpotensi untuk semakin kreatif dalam arti seluas-luasnya.

Pada era modern, industri pers selalu menghargai karya kreatif yang dihasilkan sastrawan dan wartawan. Jika sastrawan bisa kreatif menulis prosa dan puisi, wartawan bisa kreatif membuat features yang identik dengan cerita yang bernilai berita atau berita yang diceritakan dengan detail dan menarik.

Ketika wartawan kreatif menulis features, pada hakekatnya adalah menulis tentang kehidupan manusia di alam semesta ini. Karena itu, wartawan harus belajar banyak tentang berbagai disiplin ilmu pengetahuan jika ingin mahir memproduksi features, karena ciri khas features adalah membeberkan sedetail-detailnya suatu peristiwa faktual dan aktual dalam tempo secepat-cepatnya.

Sastrawan dan wartawan yang ingin meramaikan dunia (jurnalistik), sebaiknya terus berusaha untuk memperkaya perbendaharaan kata yang di dalamnya memuat berbagai macam pengetahuan dan wawasan yang terus menerus diperbarui, agar dalam berproses kreatif tidak lagi terkendala oleh keterbatasan-keterbatasan, meskipun setiap manusia tidak lepas dari keterbatasan-keterbatasan.

Dengan kata lain, sastrawan dan wartawan harus menjadi manusia yang memiliki kadar intelektualitas dan sensitivitas yang lebih mantap karena memiliki tugas memperindah dan meramaikan dunia. Artinya, karya sastra maupun karya jurnalitik harus berkualitas agar sama-sama berpotensi memperindah dan meramaikan dunia yang makin tua ini.

Pendek kata, setiap peristiwa sekecil apa pun bisa menjadi tema karya sastra maupun bahan berita yang menarik, tergantung kadar intelektualitas dan daya kreativitas sastrawan dan wartawan yang mengolahnya. Karena itu, jangan pernah berhenti belajar banyak hal meskipun nanti sudah menjadi sastrawan atau wartawan besar, atau kalau bisa jadilah wartawan sekaligus sastrawan besar yang produktif dan kreatif, why not?!***

-Penulis Lahir di Kudus, 23 Oktober 1962, Menetap di Griya Pena Kudus., Menulis esai, cerpen, novel dan puisi dalam bahasa Jawa dan Indonesia yang dipublikasikan di sejumlah media.

Exit mobile version