Membongkar Tasawuf Al Ghazali

Judul Buku : Tasawuf Sosial Al Ghazali
Penulis : R. Andi d. Irawan, M.Ag.
Penerbit : CV Asna Pustaka
ISBN : 978-623-91103-4-5
Cetakan : 2019
Tebal : 14 x 21 cm, + 200 Halaman

Buku ini merupakan hasil dari penelitian tesis yang diselesaikan di UIN Walisonggo. Buku ini membahas tasawuf sosial perspektif Al Ghazali. Dalam prakata, penerbit menemukan dua hal yang menarik dari konsep tasawuf sosial dari Al Ghazali, yakni tentang pandangan muklatah dan etos kerja menurut Imam Al-Ghazali. Buku ini terdiri atas empat Bab yang setiap bab memiliki Sub Bab yang ditulis secara rinci dan pembahasan yang mendalam.

Sebagian besar masyarakat modernis menganggap bahwa tasawuf adalah salah satu penyebab kemunduran umat Islam dikarenakan tasawuf mengajarkan sikap yang pasif. Pandangan negatif tentang tasawuf ini mengakibatkan aktivitas sosial muslim yang terhambat dan stagnan. Pandangan negatif terdhadap dunia menjadikan masyarakat enggan untuk berinteraksi. Mereka lebih memilih mengisolasi diri dan tajjarud. Salah satu sufi dengan pemikiran demikian adalah Imam Al Ghazali. Menurut pengkritiknya yakni Dr. M. Zaki Mubarok menyatakan bahwa Imam Al Ghazali telah melemahkan semangat manusia dalam melakukan tugas di muka bumi. Al Ghazali lebih mementingkan persoalan rohani dengan tujuan kebahagiaan akhirat tanpa dan melupakan aspek duniawi. Dan ini menjadi penghambat kemajuan umat Islam. Karena karya beliau berpengaruh besar terhadap umat.

Tidak semua ulama memandang tasawuf berkonotasi negatif. Abu Sulaiman al-Daraniy menugungkapkan bahwa makna subtansif tasawuf, bahwa zuhud ialah meninggalkan sesuatu yang mengalihkan perhatian pada Allah. Quraisy shihab menyatakan, bahwa seorang zahid sejatinya adalah orang yang mampu bersikab integratif, inklusif dan mendunia sehingga praktik zuhudnya fungsional dan mampu menjawab problematika dunia. (Hlm. 3) pembelaan terhadap Imam Al Ghazali juga dari beberapa tokoh.

Pentingnya mengkaji tasawuf dengan dimensi sosial atau istilah lain tasawuf sosial di era kontemporer dengan berbagai kemajuan di berbagai bidang, politik, sosial, budaya, pendidikan. Umat Islam mempunyai tanggung jawab besar untuk menyelesaikan kehidupan dan kemanusiaan. Konotasi tentang tasawuf yang negatif harus dihilangkan. Dan seharusnya menjadikan tasawuf sebagai semangat perjuangan dan pengorbanan dalam mewujudkan peradaban yang manusiawi dan beragama.

Untuk lebih memahamai prespektif tasawuf Imam Al Ghazali mari kita mengenal beliau terlebih dahulu. Imam Al Ghazali lahir dengan nama lengkap Muhammad b. B. Muhammad Ahmad at-Thusi Abu Hamid al-Ghazali. Lahir pada tahun 450 H/1058 M di daerah Thus, di dekat kota modern Meshed Khurasa, Persia (Iraq). Al Ghazali menerima pendidikan pertamanya di kota Thus, Khurasan, di bawah asuhan Ahmad Muhammd ar-Razakani, seorang. Pada tahun 465H/1073 M) Al Ghazali pergi ke Jurjan, di bawah asuhan Abu Nasr al-Ismaili. Pada tahun 473 H, ia pergi ke Nisyabur untuk belajar di madrasah Nizamiyah. Awalnya Al Ghazali mendalami kalam. Al Ghazali mengkritik mutakalimun karena tidak mampu mencapai pengetahuan yang hakiki. Al Ghazali berusaha untuk mengintepretasikan ajaran tasawuf sebagai salah satu ajaran aspek dari sebuah ajaran islam, misalnya teologi dan fiqh. Ini merupakan karakteristik pemikiran Al Ghazali.

Corak tasawuf Imam Al Ghazali. Beliau mengakhiri petualangan intelektualnya pada jalur tasawuf. Dalam tasawuf merasakan ketenangan batin yang luar biasa dibandingan disiplin ilmu yang lainnya. Beliau membaca dan juga mempelajari karya para sufi abad ke tida dan empat hijriyah, beliau menyimpulkan bahwa tasawuf bukan hanya dipelajari tentang teorinya, namun yang terpenting adalah pengalamannya.
Untuk menjadi seorang sufi bukan hanya belajar teori namun harus terjuan langsung kedalamannya. Inilah akhir petualangan intelektual beliau, beliau menyimpulkan bahwa tasawuh adalah jalan para sufi untuk menempuh kepada Allah dan jalan perjalanan hidup mereka adalah yang paling baik. jalan mereka adalah jalan yang benar dan moral mereka adalah yang paling bersih. Al Ghazali mengistilahkan dan menyebut kaum sufi sebagai “penuasa seluruh keadaan (arbabul ahwal) dan bukan hanya sebagai penyebar kata-kata (ashabul aqwal)” tasawuf menghendaki dihilangkannya penyakit hati. (Hlm. 23) kesimpulan dari pola pikir Al Ghazali ialah pendidikan baatinilah dan bukan pendidikan intelek yang diperlukan oleh manusia untuk mencapai kebahagiaan dan pengetahuan yang tinggi.

Karakteristik tasawuf Imam Al Ghazali beliau berhasil mengharmoniskan tasawuh dengan syariah sedangkan tasawuf falsafi berpuncak pada masa Mulla Shadra yang berhasil mensintesiskan cabang dari ilmu-ilmu islam, yakni kalam, tasawuf dan filsafat. Menurut beliau tasawuf adalah perpaduan antara ilmu dan amal, dan buahnya adalah moralitas (akhlaq). Tasawuf bukan hanya sebuah teori namun lebih kepraktek. Karakter tasawuf Imam Al Ghazali condong pada tasawuf amali yang lebih ditekankan pada moralitas atau akhlaq.

Pada BAB III anda akan disajikan tentang tasawuf sosial. Istilah tasawuf sosial adalah terminologi yang belum mapan secara keilmuan, namun secara subtantif taswuf sosial mengususng praktik tasawuf yang memandang kehidupan dunia sebagai hal yang positif, sehingga seorang sufi tidak meninggalkan kehidupan duniawinya, namun bersikap aktif dalam berinteraksi sosial dan terlibat dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan, mulai dari: pendidikan, ekonomi, politik dan aspek-aspek kehidupan lainnya. Tasawuf sosial bisa menjadi alternatif pemahaman yang dapat menjadi solusi atas kebekuan peradaban umat islam.
Latar belakang lahirnya tasawuf sosial oleh realitas ironis yang menimpa dunia Islam dan para pencinta tasawuf. Mereka bertasawuf dengan memilih hidup mengisolasi diri dari kehidupan sosial.

Tasawuf merupakan intisari ajaran Islam yang membawa pada kesadaran manusia secara utuh dan sempurna, bukan hanya kesadaran eksoteris, namun juga kesadaran eksoteris. Tujuan tasawuf sosial ialah untuk mengaktualkan asma al-husna. Karena para sufi telah memperoleh tinta emas dalam sejarah panjang dan prestasi yang gemilang dalam melakukan perubahan sosial, dakwah, pendidikan ekonomi dan politik. Dalam pratik sejarah Nabi Muhammad SAW dan para sahabat praktik tasawuf yang merupakan penejawantahan al-Ihsan mampu melakukan revolusi individual dan sosial yang mengagumkan.

Kelebihan buku ini pembahasan mendalam, lengkap dan bahasa mudah dipahami, buku ini membuat kita bisa lebih memahami tentang pandangan Al Ghazali tentang Tasawuf Sosial.

-Diresensi Anisa Rachma Agustina Mahasiswa PAI, dan penggiat literasi Pena Aswaja STAINU Temanggung

Exit mobile version