Menjadi Penulis itu Butuh Proses Panjang

Yuk Menulis

Oleh Sam Edy Yuswanto

Judul Buku: Yuk Menulis

Penulis : Rais Muhammad KS

Penerbit: KKL Publishing

Cetakan: I, Maret 2020

Tebal: 129 halaman

ISBN: 978-602-6340-21-4

Tidak ada cita-cita yang bisa diraih secara instan. Termasuk orang yang bercita-cita menjadi penulis. Saya akui, menjadi seorang penulis memerlukan proses yang panjang dan jalan terjal berliku. Selain harus terus belajar menulis ia juga harus memperbanyak buku-buku bacaan, agar wawasan keilmuannya semakin bertambah luas. Sehingga tulisan-tulisan yang dihasilkannya akan semakin berkualitas dan bisa menjadi rujukan berharga bagi para pembaca.

Menjadi penulis memang bukan hal mudah akan tetapi bukan sesuatu yang mustahil bila kita selalu mengupayakannya. Buku ini mendedah tentang seputar dunia tulis menulis sebagai bekal bagi Anda yang ingin menekuni profesi sebagai penulis yang tangguh dan pantang putus asa.

Secara umum, penulis dapat digolongkan menjadi dua; penulis buku dan penulis lepas. Penulis buku biasanya hanya fokus menulis buku-buku dengan tema tertentu dan selanjutnya dikirimkan ke berbagai penerbit. Sementara penulis lepas (atau disebut penulis freelance) adalah penulis yang biasanya menulis di kolom-kolom yang ada di berbagai media, baik cetak maupun online. Penulis buku terkadang juga merangkap sebagai penulis lepas. Begitu juga sebaliknya.

Dalam buku ini, Rais Muhammad menyarankan Anda agar menjadi penulis freelance tanpa berniat meremehkan terhadap pilihan-pilihan lainnya. Menjadi penulis freelance adalah solusi cerdas. Ada beberapa alasan yang mendasarinya. Pertama, dengan menjadi penulis freelance, intelektual Anda akan lebih terasah. Dalam teori bahasa, menulis merupakan kemampuan berbahasa paling tinggi setelah mendengar, berbicara, dan membaca.

Kedua, menjadi penulis freelance akan mendatangkan imbalan finansial yang relatif lebih besar. Hal ini tentu dapat dimaklumi, sebab banyak media (cetak maupun online) yang memberikan ruang (berupa kolom/rubrik) bagi penulis lepas. Misalnya rubrik opini, cerpen, cerita anak, resensi buku, dan lain sebagainya. Bagi penulis yang karyanya berhasil lolos di media cetak tersebut, maka ia akan memperoleh imbalan berupa sejumlah honor. Besaran honor tentu sangat bergantung kebijakan media tersebut. Biasanya media nasional atau media-media besar akan memberikan honor yang lumayan. Memang tidak semua media massa memberikan honor kepada penulis freelance. Oleh karenanya, cari tahu terlebih dahulu sebelum mengirim tulisan ke media massa, apakah media massa tersebut menyediakan honor ataukah tidak.

Banyak penyebab mengapa orang gagal menjadi penulis. Di antara penyebabnya adalah merasa tidak berbakat, merasa tidak punya waktu, dan tidak berani gagal. Tidak berani gagal di sini misalnya, merasa putus saat tulisannya ditolak atau dianggap tidak layak muat oleh sebuah media massa. Padahal, menjadi penulis freelance itu syaratnya harus kebal dengan penolakan demi penolakan. Ditolak berkali-kali oleh berbagai media merupakan hal yang sangat lumrah dan dialami oleh setiap penulis freelance. Jadi, jangan patah semangat saat tulisan kita ditolak. Justru dengan penolakan tersebut kita jadi belajar lebih baik lagi untuk memperbaiki tulisan kita (hlm. 28).

Selanjutnya, ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh setiap penulis freelance ketika akan membuat sebuah tulisan. Hal ini dimaksudkan agar tulisan yang telah dibuat dengan susah payah tersebut dapat lolos seleksi dan akhirnya dimuat oleh media massa yang dituju. Beberapa hal yang harus diperhatikan saat menulis yakni:  

Pertama, aktualitas (kehangatan) tema. Artinya, tulisan tersebut sedang menjadi bahan pembicaraan khalayak. Kedua, Orisinalitas (keaslian). Tulisan yang orisinil adalah tulisan yang dibuat sendiri, hasil dari ungkapan pikiran, dan perasaan sendiri. Berarti bukan sekadar kutip sana-sini, lalu digabungkan (dikompilasi) menjadi tulisan baru tanpa pendalaman (hlm. 77-79)

Ketiga, daya getar (magnitude). Daya getar terhadap tulisan kita akan dirasakan oleh pembaca. Ini berkaitan dengan kedekatan masalah yang dibahas dalam tulisan itu dengan pembaca. Oleh karenanya, bila ingin tulisan kita berkesan di hati pembaca, berusahalah menulis tema keseharian yang dibutuhkan oleh pembaca (masyarakat umum). Keempat, eksklusivitas (keunikan) atau lain dari yang lain. Tulisan yang unik biasanya lahir dari keberanian kita dalam mengungkapkan pikiran atau ide sendiri, meskipun hal tersebut dirasa tidak umum. Syaratnya tentu harus dikemas dengan bahasa yang enak, renyah, dan menarik agar pembaca terkesan dengan tulisan kita (hlm. 80-81).

Terbitnya buku ini cukup menarik dan dapat dijadikan sebagai salah satu referensi berharga bagi Anda yang ingin menekuni dunia kepenulisan. Kekurangan buku ini terletak pada beberapa typo atau kesalahan penulisan di beberapa halaman. Saran saya, bila buku ini kelak dicetak ulang, alangkah baiknya penulis dan pihak penerbit merevisi kembali agar hasilnya lebih maksimal.

***

*Penulis lepas, alumnus STAINU Fakultas Tarbiyah Kebumen.

Exit mobile version