Sejarah Mimpi

Gambar: baltyra.com

Cerpen Yuditeha

Sudah dua hari, setiap usai mengisi khotbah Subuh di musala, wajah ustaz Albani tampak tidak cerah seperti biasanya. Hal itu tak luput dari perhatian Sukirman, salah satu jemaah setianya. Pada saat Sukirman melihat itu, dia belum ada niat untuk menemui ustaz Albani, terlebih mengajaknya bicara. Tapi ketika di hari berikutnya Sukirman masih melihat kemurungan itu, dia tidak ingin tinggal diam. 

“Maafkan kelancangan saya, Ustaz.” Sukirman memberanikan diri bicara.

“Ada apa, Man?”

“Mungkin Ustaz memerlukan bantuan?” 

Ustaz Albani sejenak diam, seperti memikirkan sesuatu, sebelum akhirnya bicara. “Pernahkah kamu mimpi aneh?” 

“Pernah Ustaz. Memangnya ada apa, Ustaz?”

Ustaz Albani kemudian bercerita kepada Sukirman, sudah dua kali dirinya bermimpi melihat Kanjeng Rasul. Meski adegan dalam mimpi itu berbeda, tapi tempat di mana dia melihat Kanjeng Rasul itu sama, yaitu di Gereja Santo Antonius. 

“Maksud Ustaz, Kanjeng Rasul Nabi Muhammad?”

“Memangnya ada Kanjeng Rasul lain?”

“Di Gereja Santo Antonius?”

“Iya.”

 “Gereja Santo Antonius dekat lahan yang akan dibangun Masjid itu?”

Ustaz Albani mengangguk. “Apa yang kamu pikirkan, Man?” tanyanya kemudian.

Sukirman menggeleng sebelum menjawabnya. “Saya bingung, Ustaz. Kenapa Kanjeng Rasul ada di sana? Mengapa tidak di lahan itu, misalnya?”

“Itulah yang juga membuatku bingung, Man.”

“Apakah Ustaz tidak punya gambaran apa kira-kira arti mimpi itu?”

Ustaz Albani menggeleng lalu menjelaskan sesuatu. “Mimpi pertama, ketika aku lewat depan gereja itu, aku melihat Kanjeng Rasul sedang berbincang dengan seseorang di dalam gereja. Mimpi kedua, Kajeng Rasul sedang keluar dari gereja. Pada saat itulah beliau sempat melihatku sedang berjalan di depan gereja.”

“Jemaah jangan sampai mendengar mimpi Ustaz itu.”

“Memangnya kenapa, Man?”

“Bisa membuat mereka bingung, Ustaz.”

“Kamu berpikir buruk tentang Kanjeng Rasul?”

“Maaf, tidak Ustaz. Sama sekali tidak.”

Esok pagi berikutnya, usai memberi khotbah Subuh, ustaz Albani melaporkan kepada jemaahnya perihal dana yang mereka kumpulkan untuk keperluan pembangunan Masjid Al-Ikhlas sudah siap dijalankan. Ustaz Albani juga menjelaskan bahwa tukang dan pekerja bangunan juga sudah dihubungi. Bahkan dalam beberapa hari lagi, jalannya pembangunan Masjid Al-Ikhlas sudah bisa dimulai. 

Ahad pagi, selesai ustaz Albani memberi laporan rencana pembangunan Masjid kepada jemaah, tiba-tiba ada suara ledakan dahsyat. Ledakan itu terdengar sangat keras. Dentuman dan guncangan ledakan itu jelas terasa dari musala. Jemaah yang berada dalam musala langsung menghambur keluar, dan mencari asal suara ledakan. 

Rupanya ada ledakan bom yang terjadi di Gereja Santo Antonius. Sebagian warga yang mengetahui hal itu gegas mencari cara agar mereka bisa masuk ke dalam gereja untuk memberi pertolongan kepada umat gereja yang sedang mengikuti ibadah. Kabarnya bom itu meledak tepat di tengah umat. Setelah mereka melakukan pemeriksaan dan menolong beberapa korban, Ustaz Albani yang saat itu memperhatikan proses penyelamatan jiwa umat gereja tertegun menyadari kenyataan itu. Pikiran ustaz Albani mengembara ke mana-mana, termasuk tentang misteri kedua mimpinya. 

“Apakah mimpiku tentang Kanjeng Rasul sebuah isyarat?” gumam ustaz Albani. 

Meski ustaz Albani bergumam begitu, tapi dia belum tahu apa kaitannya mimpinya dan ledakan itu. Lagi-lagi ustaz Albani merasa belum menemukan pengertian dari semua itu. Dalam benak ustaz Albani membenarkan pernyataan Sukirman, lebih baik dia tidak buru-buru menceritakan mimpinya kepada orang lain. Yang menjadi tanda tanya besar baginya tentu saja perihal keberadaan Kanjeng Rasul di Gereja Santo Antonius dalam mimpinya, di mana dalam kenyataan gereja itu kini menjadi sasaran bom oleh sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab.

Beberapa hari ustaz Albani bersama jemaahnya terus memberi pertolongan bagi gereja yang menjadi sasaran bom itu. Keputusan lain yang akan disampaikan kepada jemaahnya adalah melanjutkan perbincangan tentang rencana pembangunan masjid yang sedianya segera dikerjakan. Dia berpikir, apakah pembangunan masjid dapat sesuai jadwal semula atau menundanya. Jika keputusan yang akan diambil adalah penundaan, semata karena ia ingin menjaga perasaan bagi yang sedang ditimpa masalah. Terlebih lagi karena jarak lahan yang akan dibangun masjid itu sangat dekat dengan keberadaan Gereja Santo Antonius. Tentu mereka tidak enak hati jika proses pembangunan masjid tetap dilakukan, sementara ada saudara lain sedang dirundung malang.

Pada saat ustaz Albani sedang di rumah pun, benaknya tetap tidak bisa lepas dari semua peristiwa itu, termasuk mimpinya tentang Kanjeng Rasul. Dia tidak yakin bisa mengartikan apa maksud mimpi itu. Merasa putus asa karena tidak segera menemukan pengertian, hingga setiap kali selesai menunaikan salat, ustaz Albani masih khusyuk dalam doa. Ustaz Albani mohon petunjuk kepada Allah, sesungguhnya misteri apa yang ingin disampaikan Allah melalui Kanjeng Rasul dalam mimpinya. Pertanyaan penting yang sampai sekarang masih menggelayut dalam benaknya, apakah mimpi tentang Kanjeng Rasul itu mengandung pesan, atau sekadar kembang tidur. Ustaz Albani berpikir, jika hal itu hanya kembang tidur, mengapa dia bisa bermimpi hal serupa secara berurutan.

Selain itu, kenyataan yang terjadi tentang ledakan bom di Gereja Santo Antonius semakin membuatnya bingung. Jika Ustaz menganggap peristiwa ledakan bom itu tidak ada hubungannya dengan Kanjeng Rasul, menurutnya karena kehadiran Kanjeng Rasul hanya dalam mimpi. Tapi jika dia beranggapan peristiwa itu memang ada kaitannya dengan Kanjeng Rasul, dia merasa sampai sekarang belum menemukan apa arti di balik semua itu. Untuk sementara dia hanya bisa menganggap bahwa kejadian bom dan kehadiran Kanjeng Rasul di mimpinya adalah dua peristiwa yang terjadi secara kebetulan semata.

Usai menjalankan salat Magrib, ustaz Albani bersantai di teras rumah. Sebelumnya seharian dia ikut membantu membersihkan puing-puing bekas ledakan di Gereja Santo Antonius bersama sejumlah jemaah. Kembali benaknya memikirkan tentang kehadiran Kanjeng Rasul di mimpinya. Dia berusaha mengingat-ingat lebih detail mimpi itu. Tapi tak berselang lama, Aisyah, anaknya yang ragil, baru duduk di kelas 7 SMP mendekatinya. 

“Abah menunggu siapa?” tanya Aisyah.

Ustaz Albani sedikit kaget, terlebih dia tidak menyangka akan mendapat pertanyaan seperti itu dari anak gadisnya. Pertanyaan itu lantas ditanggapinya dengan senyuman sembari tangannya menyentuh pipi Aisyah yang tembam. 

“Menunggu siapa pun yang bisa memberi pencerahan, Nak,” sahutnya kemudian, masih dengan menyungging senyum.

“Bah, Bah. Aisyah punya tugas Agama. Tugasnya sulit.”

“Belum dikerjakan kok bilang sulit?”

“Aisyah boleh tanya sama Abah?”

“Boleh saja.”

“Kan ada kejadian gereja dibom. Karena itu ada anggapan kalau Islam sama dengan teroris.”

“Terus?” tanya ustaz Albani dengan perasaan heran karena tema tugas anaknya itu.

“Murid diminta mencari artikel yang bisa menghapus anggapan itu. Semacam suri teladan dari para orang suci dulu.”

“Oh.”

“Abah kok malah oh?”

“Mencari di google saja, bahasan seperti itu pasti banyak.”

“Abah yang cariin ya, biar Aisyah nanti yang ngerjain.”

“Ya sudah, sana ambilkan hape abah di kamar.”

“Hore,” sahut Aisyah sembari berlalu masuk rumah.

Setelah ponsel diserahkan kepada abahnya, Aisyah duduk di bangku sebelah abahnya sembari menunggu hasil pemilihan yang dilakukan abahnya. Sementara itu, setelah melakukan pencarian artikel yang setema dengan tugas anaknya, ustaz Albani menemukan satu artikel menarik. Sebuah suri teladan Kanjeng Rasul Nabi perihal perlindungan rumah ibadat pemeluk agama lain. 

“Yang ini saja sudah kuat.”

“Tentang apa, Bah?”

Ponsel langsung diberikan kepada anaknya. “Baca sendiri ya. Sana segera kerjakan.” ucapnya.

“Santa Catherine, Biara yang Dilindungi Nabi Muhammad,” ucap Aisyah membaca judul artikel tersebut, sembari berlalu dari hadapan abahnya. “Makasih, Bah,” kata Aisyah  dari kejauhan.

Pada saat Aisyah masuk rumah, ustaz Albani masih memikirkan tentang artikel tadi. Ustaz Albani menjadi ingat yang pernah dipelajari selama ini bahwa Kanjeng Rasul Nabi Muhammad memang melakukannya. Ustaz Albani juga ingat, dalam kasus itu bahkan Kanjeng Rasul sampai menulis sebuah dekret dalam sebuah piagam guna melindungi biara Santa Catherine dan para penghuninya. Dia ingat dalam dekret itu kira-kira Kanjeng Rasul di antaranya menulis bahwa gereja-gereja harus dihormati. Mereka tidak boleh dilarang merawatnya, dan menjaga ritual rohani mereka. Beliau juga menulis bahwa tidak ada orang muslim yang tidak boleh mematuhi perjanjian itu hingga akhir dunia.

Di tengah ingatannya pada kisah-kisah teladan Kanjeng Rasul, tiba-tiba dia seperti sadar sesuatu. Ustaz langsung beranjak dari duduknya mendekati Aisyah. Rupanya dia bermaksud meminjam sebentar ponsel yang dipakai Aisyah. Begitu ponsel sudah di tangan, ustaz Albani langsung menghubungi seseorang melalui panggilan.

“Sukirman, tolong sekarang hubungi teman-teman jemaah, sehabis salat Subuh, kita akan rapat. Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan perihal pembangunan masjid.” Setelah menyelesaikan percakapan itu, ponsel kembali diberikan kepada anaknya guna melanjutkan tugasnya.

Dalam bayangan ustaz Albani, dia dan jemaahnya mungkin diminta bersabar tentang pembangunan masjid itu karena dia sudah mempunyai rencana lain. Esok pagi dia akan memberi khotbah kepada jamaah perihal berkorban, dan jika memungkinkan dia juga akan mengusulkan sesuatu terkait dana yang selama ini sudah terkumpul. Dia hanya bisa berharap, semoga jemaahnya setuju dengan pemikirannya. Lalu ustaz Albani kembali mengingat lagi tentang mimpinya, namun kali itu dengan perasaan lega.


Yuditeha, Penulis tinggal di Karanganyar – Jawa Tengah. Pendiri Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Pendiri Media Seni & Budaya Ideide-id. Buku terbarunya Kumcer Filosofi Perempuan dan Makna Bom (Rua Aksara, 2020).

Exit mobile version