Ramadhan, Lebaran, dan Wirausaha

Ilustrasi: Pedagang makanan untuk berbuka puasa (Foto: KOMPAS.com).

Oleh M. Dalhar

Ada banyak ragam kegiatan yang dapat dilakukan oleh seseorang selama kebijakan di rumah aja. Setelah pengumuman disampaikan pihak sekolah melalui media sosial atau daring, para lulusan madrasah dapat mencoba beragam hal baru. Berwirausaha menjadi salah satu hal yang menarik untuk dicoba.

Berwirausaha atau berdagang merupakan hal yang relatif mudah dilakukan dewasa ini. Akan tetapi, belum banyak orang yang mau mencobanya. Atau pernah mencoba tetapi belum laku, sehingga dengan tergesa-gesa menyimpulkan tidak memiliki bakat. Sebenarnya bakat itu dapat dilatih dan diasah terus-menerus. Yang diperlukan dalam berwirausaha adalah keberanian untuk memasarkan barang-barang atau ide kreatif kepada publik.

Menurut alm. Bob Sadino, berwirausaha tidak dibutuhkan banyak teori, melainkan praktik. Dari praktik akan mendapatkan banyak pengalaman atau ilmu yang dapat dijadikan sebagai pedoman. Dukungan teknologi yang semakin canggih dewasa ini menjadikan kegiatan wirausaha lebih mudah dilakukan. Dengan media sosial seperti facebook, instagram, whatsapp grup, atau aplikasi lainnya orang lain dapat mengenal produk yang dipasarkan. Artinya, tanpa biaya iklan atau memiliki tempat/toko sekalipun wirausaha dapat dilakukan. Dengan berwirausaha akan menggerakkan perekonomian masyarakat. Ia dapat dijadikan sebagai tambahan penghasilan, atau bahkan yang utama.

Bulan Ramadan di tengah wabah Covid-19 menjadikan nuansanya berbeda dari tahun sebelumnya. Pemberlakukan pembatasan sosial (social/psychical distancing) dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa kota besar menjadikan semua kegiatan yang mendatangkan kerumunan dilarang, termasuk dalam aktivitas ekonomi. Akibatnya, baik secara langsung maupun tidak, perekonomian menjadi terganggu. Para pedagang yang biasanya menjual dagangannya terkena dampak. Konsumen yang akan membeli komoditas juga terbatas ruang geraknya. Penjualan secara online menjadi upaya kecil menggerakkan perekonomian.

Penjualan online bukan hal yang baru bagi masyarakat. Dengan bermacam aplikasi yang tersedia menjadikan transaksi dengan mudah dilakukan. Meski bukan faktor utama, dengan adanya kondisi seperti saat ini mendorong masyarakat untuk melakukan pembelian secara online. Tidak perlu keluar rumah karena adanya social distancing. Dengan pembelian online barang yang dikehendaki akan dikirim sampai di rumah. Pembayaran dapat dilakukan sebelumnya atau juga saat barang sudah sampai tujuan atau cash on delivery (COD). Bahkan saking familiarnya istilah itu, sampai-sampai banyak orang yang mengganggap setiap pertemuan yang tidak ada kaitannya dengan transaksi jual beli disebut sebagai COD.

Peluang

Mental berwirausaha penting dimiliki oleh seseorang untuk menangkap peluang yang dapat diubah menjadi sebuah potensi ekonomi. Akan tetapi, hal itu saja tidak cukup. Masih diperlukan kesadaran untuk niat saling membantu, terutama ketika sedang terjadi sebuah musibah.

Momentum Ramdan juga dapat dijadikan sebagai kesempatan untuk berwirausaha. Meski tidak seramai biasanya, namun untuk komoditas makanan merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi. Artinya, beragama jenis makanan akan tetap dibutuhkan oleh masyarakat.

Di ramadan tahun ini penulis mencoba untuk berjualan kurma. Media yang digunakan adalah whatsapp. Tanpa diduga ternyata pembelinya melebihi yang diharapan. Sebagian besar adalah masyarakat sekitar rumah dan dalam lingkup yang masih terjangkau untuk mengantarkan sendiri atau COD. Kurma merupakan salah satu menu khas di bulan Ramadan. Selain karena kaya manfaat, dalam agama (Islam) juga disebutkan bahwa kurma memiliki keutamaan tersendiri sebagai menu berbuka atau takjil. Dua hal itu di antaranya yang menjadikan penjualan kurma meningkat di bulan Ramadan. Tahun ini harganya bersaing karena bersamaan dengan musim panen kurma.

Ketika banyak yang menjual barang dagangan yang sama, hal yang penting dilakukan adalah menjaga kualitas produk dan kualitas pelayanan. Layanan antar sampai lokasi menjadi nilai tersendiri. Selain itu, ketepatan waktu, keramahan, manajemen pemasaran juga penting diperhatikan agar calon pembeli yakin dengan produk yang dijual. Selain kurma, masih ada banyak komoditas lainnya yang dapat tawarkan secara online. Apalagi mendekati Idulfitri yang tinggal beberapa hari lagi. Ada banyak hal yang dapat dipromosikan kepada teman atau saudara. Kemampuan membaca peluang merupakan hal yang tidak kalah penting untuk menentukan komiditas mana yang akan dipasarkan, barang-barang yang dibutuhkan masyarakat.

Kemuliaan bulan suci Ramadan tidak boleh dipadamkan oleh situasi yang memperihatikan akhir-akhir ini. Setiap orang mukmin harus tetap berupaya untuk menjadikan puasa sebagai bulan yang produktif. Produktif dalam pengembangan diri, bersosial, beribadah, dan produktif dalam keuangan. Tentunya, sebuah pengalaman berharga akan didapatkan dengan berani mencoba.

-Penulis adalah Alumnus Pesantren Kulon Banon, Pati.

Exit mobile version